Review: Sherlock Holmes: A Game of Shadows

written by Rangga Adithia on December 26, 2011 in Action and CinemaTherapy and Hollywood with no comments

Review Sherlock Holmes 2

Ada yang dilebih-lebihkan, ada pula yang dihilangkan, kodrat sebuah sekuel, kita tidak akan lagi melihat seorang Sherlock Holmes (Robert Downey, Jr.) bermain biola di pagi buta untuk mengganggu Dr. Watson (Jude Law), kita juga tidak akan lagi melihat Sherly, panggilan manis untuk Holmes, adu jotos di arena tinju jalanan. Sebagai gantinya, sekuel ini punya musuh terhebat yang akan menjadi lawan tanding Holmes, Professor Moriarty (Jared Harris). Selebihnya, Guy Ritchie memakai formula yang sama untuk “Sherlock Holmes: A Game of Shadows”, sedikit ditambahkan dosis ini dan itu, supaya terkesan ada yang beda di sekualnya. Moriarty sendiri pernah disebut-sebut di film pertama, tidak pernah diperlihatkan sosoknya secara utuh, tapi punya motif terselubung sendiri diantara aksi kucing-kucingan Holmes dengan Lord Blackwood. Film pertama, walau tidak bisa dikatakan istimewa, namun masih mampu menampilkan cerita detektif yang fresh, belum lagi Guy Ritchie di film tersebut terlihat asyik bermain dengan gayanya yg khas, misteri dalam film pun dibangun dengan rapih, dan penonton terkesima dijejali aksi slow-motion yang cantik dan dimanjakan dengan setting kota London yang “dekil”, kelam, sekaligus juga artistik. Trus, bagaimana dengan sekuelnya? apakah mampu “melompati” dan lebih menghibur dari film pertama? Silahkan putar otak Mr. Sherlock Holmes.

“Sherlock Holmes: A Game of Shadows” dibuka dengan aksi Holmes menempel Irene Adler (Rachel McAdams) di sebuah pasar, menyamar sebagai gembel, memberitahukan Irene jika dia sedang dibuntuti oleh tiga orang asing yang punya niat tidak baik. Tetapi ternyata ketiga orang tersebut adalah pengawal Irene, maka terjadilah perkelahian seru dan kocak, yang memberitahu kita bahwa sekuel ini akan banyak juga diselingi aksi adu jotos seperti film pertama. Aksi Holmes berlanjut di sebuah acara lelang barang-barang antik, dimana dia bertemu kembali dengan Irene yang pada saat itu sedang mengirimkan barang titipan kepada Dr. Hoffmanstahl, sebagai imbalan sang dokter memberikan Irene sebuah surat, Holmes merebut surat tersebut. Sialnya, barang titipan yang dipegang oleh Hoffmanstahl adalah bom, dengan trik konyol Holmes berhasil menyelamatkan orang-orang di acara lelang tersebut, sekaligus menjinakkan bom. Sayangnya Dr. Hoffmanstahl tidak luput dari maut, karena Holmes menemukannya sudah tidak bernyawa, terbunuh oleh seorang pembunuh bayaran. Holmes pun mengaitkan Professor Moriarty ada dibalik kematian Hoffmanstahl dan kasus-kasus yang sedang dicoba dia pecahkan, yang perlu ia cari sekarang adalah bukti untuk membuktikan Moriarty memang bersalah. Tapi Holmes tidak akan semudah itu menemukan jawabannya, karena Moriarty bukanlah musuh yang mudah ditaklukkan, Holmes akhirnya bertemu dengan tandingannya.

Dari awal kita memang tidak perlu susah payah lagi untuk menebak-nebak siapa dalang kejahatan yang sebenarnya di film ini, seperti juga di film pertama, Guy Ritchie sudah lebih dahulu menunjuk dalangnya, permainannya bukan lagi mencari “siapa” tetapi lebih kepada “bagaimana” Holmes mengurutkan bukti yang didapat untuk bilang si A memang penjahatnya, jadi bukan sekedar tuduhan sembarangan, apalagi jika orang itu sekelas Professor Moriarty yang pintar menghapus jejak dan mengelak dari segala bukti. Ritchie sekali lagi mengajak penonton untuk bermain-main selama 2 jam, dalam labirin misteri yang rasa-rasanya pernah kita masuki. Yup cara Ritchie membangun misterinya tidaklah berubah, dengan penyampaian nyeleneh yang diwakilkan oleh si Holmes sendiri. Misteri di sekuel ini hanya lebih terlihat complicated, sama seperti status hubungan Holmes dan Irene yang “it’s complicated” itu. Disayangkan, misteri tersebut dikemas tidak semenarik film pertama, tidak ada teka-teki yang membuat saya penasaran seperti halnya bagaimana caranya Blackwood bisa hidup kembali, justru sekuelnya lebih membosankan untuk kita mengikuti setiap sepak terjang Holmes dalam usahanya membuktikan Professor Moriarty adalah orang jahat. Dengan cerita yang bergerak bagaikan “bayangan”, plot demi plot, sekaligus misteri yang coba dibangun pun tidak berhasil menciptakan chemistry diantara penonton dengan apa yang mereka tonton. Saya hanya ingin film ini cepat berakhir.

Review Sherlock Holmes: A Game of Shadows

Holmes semakin terlihat tidak terurus disini, apalagi semenjak ditinggal “sidekick”-nya yang mau menikah, nampak seperti Tony Stark yang kehilangan Jarvis setelah tidak sengaja menekan tombol delete dan menghapusnya. Porsi kemunculannya pun semakin banyak, padahal banyak karakter baru yang perlu juga diceritakan, oke kita perlu Holmes untuk menjelaskan setiap misteri yang ada, meng-update penonton dengan perkembangan kasus yang dia tangani. Tapi kadang Holmes muncul pada bagian-bagian yang bagi saya tidak penting, beberapa kali kita diperlihatkan hobi barunya yang nyentrik itu. Hampir keseluruhan durasi kita dipaksa untuk terus melihat wajah Holmes, agak bosan, padahal film ini punya Moriarty, sebagai lawan tangguh yang sepantasnya juga mendapatkan perhatian, tapi porsi untuk mendalami karakternya justru “dicuri” oleh Holmes yang bisa dikatakan muncul dimana-mana. Simza (Noomi Rapace) juga tampak sebagai “pemanis” atau lebih tepatnya teman jalan-jalan Holmes dan Watson tanpa peran yang cukup berarti di film ini. Bagian yang menariknya adalah bagaimana film ini makin memperlihatkan kekompakan Holmes dan Watson, walaupun terkadang suka “berantem”, tapi keduanya memang ditakdirkan sebagai pasangan sejati dalam membongkar kasus kejahatan. Film ini pun memanfaatkan kekompakan mereka, sesekali menghadirkan tawa di tengah aksi Holmes menghentikan aksi kejahatan Moriarty. Duet kocak dengan chemistry yang pas, setidaknya film ini punya bagian yang pantas dikatakan sebagai hiburan.

Tidak semua bagian di “Sherlock Holmes: A Game of Shadows” itu membosankan, film ini punya kelebihan lain yang menarik, porsi action-nya tambah banyak dan selalu sukses menghadirkan ketegangan, membangunkan adrenalin yang sebelumnya tertidur dan ikut bermain bersama Holmes. Perhitungan Holmes yang selangkah lebih maju, yang kerap divisualisasikan dengan slow-motion pun masih dimunculkan disini, bersama dengan aksi slow-mo lainnya juga jadi atraksi yang membuat kita “bertahan” sampai film ini selesai. Untuk lebih memanjakan mata, film ini juga tampil lebih stylish, flamboyan, setting yang juga lebih artistik, yang oleh Philippe Rousselot mampu dipotret dengan baik, hasilnya sinematografi yang tidak mengecewakan, sama seperti apa yang dia hasilkan pada film pertama. Bagaimana pun juga “Sherlock Holmes: A Game of Shadows” hanyalah sebuah film Hollywood yang berambisi untuk mengeruk untung besar dari sekuel, terkadang isi cerita tidak diperhatikan, menjejalkan kita dengan action yang lebih banyak, tapi justru melupakan esensi sebuah film detektif, misterinya terlalu digampangkan dan pemecahan misteri tersebut juga tidak menantang penonton untuk ikut berpikir. Berbeda dengan film pertama yang masih memperhatikan serunya memburu bukti dengan pemecahan teka-teki yang menarik, sekuel ini tidak menawarkan itu semua, seharusnya ada lebih banyak lagi pertarungan taktik antara Moriarty dan Holmes. Ketegangan yang sebetulnya akan jauh lebih mengasyikkan ketimbang melihat orang lari-lari dihutan dihujani peluru dan bom.

Rating 2.5 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Turbo Kid (...
Tujuh Film Horor Fav...
Review - Rumah Malai...