Review: Garuda di Dadaku 2

written by Rangga Adithia on December 18, 2011 in CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with no comments

Review Garuda di Dadaku 2

Setelah “Lima Elang” mendarat dengan mulus di hati saya beberapa bulan lalu, giliran para Garuda muda mencoba menyarangkan gol tepat ke tempat yang sama. Tidak mudah memang menjadi sebuah film sekuel, apalagi ketika film pertama, “Garuda di Dadaku” tidak hanya sukses ditonton lebih dari satu juta penonton, tapi menawarkan sebuah film anak-anak yang berkualitas. Bukan hanya diisi para pemain yang masih bocah lalu langsung bisa dibilang film anak, Ifa Isfansyah mampu mengembalikan jiwa anak-anak ke dalam filmnya, sesuatu yang selama ini hilang dan dihiraukan. Ifa pun seperti sudah memberikan standart baru bagaimana film anak-anak seharusnya dibuat. Ini tantangan bagi Rudi Soedjarwo, tongkat estafet sudah diberikan kepadanya, tanggung jawab besar untuk membuat sekuelnya punya kelebihan dibanding predesesornya, setidaknya punya kekuatan yang seimbang. Dari pramuka, sekarang memasuki dunia sepakbola, Hanung Bramantyo tahun ini juga membuat film bola lewat “Tendangan Dari Langit”, hasilnya sangat memuaskan, tapi saya tidak akan terburu-buru membanding-bandingkan keduanya dalam soal menyajikan film tentang sepakbola, lebih baik membiarkan para Garuda muda di “Garuda di Dadaku 2” untuk memamerkan kebolehannya untuk menghibur.

Tepat sekali “Garuda di Dadaku 2” ini rilis ditengah carut-marutnya kepengurusan PSSI, selagi masyarakat sepakbola negeri ini haus akan lebih banyak prestasi dari tim Garuda, umpan balik ke masyarakat justru lagi-lagi kisruh bodoh yang tiada habisnya. Jadi, mau dibawa kemana masa depan sepakbola Indonesia? ok saya tidak akan mengajak kalian untuk ikut pusing mikirin PSSI, yang penting kita masih punya keyakinan kompetisi bola di negeri makin sehat dan Garuda kian melebarkan sayapnya di dunia persepakbolaan, tidak hanya di Asia Tenggara tapi dunia. Well, “Garuda di Dadaku 2” bukan sekedar soal menjejalkan penonton dengan harapan dan impian, lewat sepak terjang Bayu (Emir Mahira) dan kawan-kawannya di timnas dibawah umur 15 tahun (U-15), film ini juga coba ikut menyentil bagaimana orang-orang yang menyebut diri mereka “pengurus”, seringkali tidak mengerti cara mengurus sepakbola, jika ada pelatih yang tidak sejalan dengan mereka misalnya, gampang! ganti saja dengan yang baru. Ketika timnas, disini diwakilkan oleh Bayu dan kawan-kawan, fokus untuk menggapai prestasi, para pengurus ini sibuk dengan berbagai pencitraan untuk kepentingan sendiri, sepakbola pun akhirnya harus rela ditumpangi oleh politik. Aneh tapi begitulah kenyataannya.

Jika di film pertama kita diajak menonton upaya Bayu mengejar mimpinya untuk masuk seleksi timnas U-13, dengan pola from zero to hero, “Garuda di Dadaku 2” masih akan fokus pada Bayu, tapi sekarang dia sudah menjadi “hero”, bahkan kapten timnas U-15. Jadi ajakan Rudi kali ini di sekuelnya adalah untuk melihat bagaimana Bayu melewati ujian demi ujian, mempertahankan status “hero” tersebut di mata penonton, sekaligus membawa timnya menjuarai kompetisi tingkat ASEAN. Jika di film pertama ada seorang kakek yang menghalangi jalan Bayu, kali ini akan lebih banyak rintangan yang sengaja ditempatkan diantara Bayu dan kemenangannya, tidak saja menang melawan tim lawan, tapi juga mengalahkan dirinya sendiri untuk menjadi lebih dewasa. Dari urusan sekolah dan anak baru bernama Anya (Monica Sayangbati) sampai pelatihnya yang killer, Wisnu (Rio Dewanto), sampai persahabatannya dengan Heri (Aldo Tansani), semua berkomplot untuk menguji seberapa keras upaya Bayu untuk mencetak gol.

Review Garuda di Dadaku 2

“Garuda di Dadaku 2” punya segalanya untuk disebut sebagai film hiburan, itu tampak jelas terlihat pada bagaimana Rudi mengemas setiap pertandingannya, keseruan jika kita menonton sebuah pertandingan sepakbola betulan di stadion betulan juga, dengan baik mampu ditransfer oleh Rudi ke dalam layar. Hasilnya kita akan ikut bersorak-sorai ketika Bayu berhasil mencetak gol, ikut geram ketika lawan bermain curang, dan merasakan ketegangan yang manis ketika kedudukan imbang, berharap tim jagoan kita menang. Ah, saya pun sampai berkaca-kaca menonton salah-satu momen gol-nya, lengkap dengan iringan scoring apik hasil kreasi Aghi Narottama, Bemby Gusti, dan Ramondo Gascaro. “Seru” memang kata yang tepat untuk menggambarkan itu semua, dan dibawah komando Edi Michael Santoso, sinematografi “Garuda di Dadaku 2” begitu sedap dipandang, kita makin diajak untuk betah mengikuti perjalanan Bayu menuju kemenangan.

Agak kurang pantas menyebut “Garuda di Dadaku 2” sebagai film anak-anak, mungkin lebih tepatnya film anak-anak yang beranjak remaja (duh, ribet), apapun julukan yang paling tepat, Rudi tahu bagaimana mengesekusinya. Film ini masih punya jiwa film anak-anak yang kuat seperti film pertama, dan Rudi berhasil membawanya bertahap sedikit lebih dewasa. Karakter Bayu pun diceritakan bukan bocah SD lagi, tetapi sudah duduk di bangku SMP, tapi tetap mudah ngambek, wajar jika melihat seperti apa karakter Bayu di film pertama. Untuk menggambarkan proses pendewasaan Bayu, esekusi Rudi dari cerita yang ditulis oleh Salman Aristo pun tidak berlebihan, labil-nya Bayu, pertama kalinya ia jatuh cinta, cemburu dengan sahabatnya sendiri, semua dikemas sewajarnya dan makin membuat saya mengucurkan rasa simpatik saya pada Bayu, bukan sebaliknya.

“Garuda di Dadaku 2” adalah film yang menyenangkan dari awal kick-off sampai peluit panjang berbunyi, bertabur drama yang seru, entah itu di dalam lapangan ataupun di luar lapangan ketika kehidupan yang sebenarnya “menyerang” Bayu dari segala sisi. Segala taktik jitu untuk membuat film ini menghibur pun makin kuat ketika ditopang oleh permainan asyik aktor dan aktrisnya. Lihat saja performa Rio Dewanto yang terus menghentak memberi semangat tim-nya, sekaligus membuat penonton ikut bersemangat, ada chemistry yang manis juga antara Emir Mahira dan Monica Sayangbati. Sayangnya Aldo Tansani yang di film pertama terlihat ceplas-ceplos, disini akting agak kurang, atau memang disesuaikan dengan karakternya yang sudah lebih dewasa. Ramzi sebagai Duloh masih tampil lucu, menyempilkan kerenyahan tawa di tengah ketegangan drama. Maudy Koesnaedi yang sekali lagi berperan sebagai Ibu Bayu, tetap mampu menjaga image-nya sebagai ibu yang perhatian dan selalu ada untuk anaknya (termasuk tetap cantik). Walau jika dibandingkan, secara pribadi saya masih menyukai film pertama, “Garuda di Dadaku 2” telah membuktikan, film ini masih mampu mencetak gol ke hati penonton.

Rating 3.5 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Indonesia K...
Review - Telaga Angk...
Review - Ouija: Orig...