Review: Drive

written by Rangga Adithia on December 12, 2011 in CinemaTherapy and Drama and Hollywood with 5 comments

Review Drive

Setiap orang yang pernah dan yang sekarang sedang jatuh cinta, pasti tahu rasanya ketika kita sepertinya ingin melakukan apapun untuk orang yang kita sayangi, memberikan yang terbaik, apapun resikonya. Tidak terkecuali si pengemudi tak bernama yang diperankan dengan begitu cool oleh Ryan Gosling, well cinta memang tidak memandang siapa yang akan menjadi “korban”-nya, cinta bisa datang pada siapapun dan untuk mengatakan kata “aku cinta kamu” pun tidak harus selalu dengan ucapan, setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk mengutarakan cintanya. Lupakan setangkai bunga mawar merah harum semerbak, sebagai tanda cinta, “Drive” punya cara termanis untuk menyimbolkan romansa, romantis tidak melulu harus dengan puisi berhalaman-halaman. Bahkan si tua Hobo di film “Hobo With A Shotgun” pun bisa rela melakukan apapun demi orang yang dia sayangi, orang yang memberikannya baju hangat bergambar beruang. Cinta memang indah dan “Drive” menyampaikan sebuah kisah cinta yang tidak biasa pun dengan cara yang sangat indah bagi saya, walaupun dihiasi deretan kekerasan tingkat tinggi, Nicolas Winding Refn sanggup menyajikannya tetap indah di mata saya.

Salah-satu lagu pengisi soundtrack “Drive” berjudul “A Real Hero”, menjadi semacam penegasan jika film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan James Sallis ini memang akan bercerita tentang seorang pahlawan, tentu saja bukan superhero, melainkan seorang manusia biasa yang punya kekuatan untuk melakukan apapun karena dibantu kekuatan bernama cinta. Bahan bakar si driver (sepanjang film karakter yang dimainkan Gosling ini tidak akan diberi nama) untuk bisa terus melaju hanya cintanya kepada Irene (Carey Mulligan), hatinya yang selama ini kosong seperti langsung terisi penuh ketika untuk pertama kalinya driver bertemu dengan Irene. Driver sendiri bukanlah pria yang bisa dibilang biasa, dia punya keahlian mengemudi yang apik, Nicolas menunjukkannya langsung di opening film ini, sekaligus membeberkan kenyataan jika jagoan kita adalah seorang pengemudi “carteran” yang dibayar untuk menginjak gas sekencang-kencangnya dan mengantarkan para penjahat ke tempat aman, bebas dari kejaran polisi. Itu pekerjaan ”sambilan” driver, sedangkan aslinya dia bekerja sebagai seorang stuntman dan mekanik di sebuah bengkel milik Shannon (Bryan Cranston).

Jangan bandingkan “Drive” dengan “Fast Five”, disini memang akan ada aksi ngebut di jalan dibarengi dengan perampokan, tapi porsinya hanya sebagai aksesoris, pemanis di eksterior film saja, kita akan langsung merasakan sesuatu yang berbeda ketika masuk ke dalam, melihat sekeliling “interior” yang ternyata dihiasi drama percintaan. Tapi sekali lagi saya katakan, ini bukan film romantis yang biasa, bisa dibilang luar biasa. Setelah Nicolas asyik mengajak kita berkendara semalaman, merasakan senangnya diajak jalan-jalan pertama kalinya oleh driver, berkenalan dengannya dan dibuat tegang selagi dia sibuk melarikan diri dari kejaran pihak berwajib. Film ini mulai masuk ke cerita yang sesungguhnya, tidak perlu kecewa jika pada akhirnya tidak banyak kebut-kebutan lagi yang disisakan oleh Nicolas, untuk apa jika keasyikan sesungguhnya hadir dalam bentuk senyuman canggung dan saling tatap antara dua orang manusia yang ditakdirkan untuk bersama. Ketika Irene untuk pertama kalinya datang ke bengkel, melihat wajah driver yang penuh karisma itu tersenyum, serius, itu lebih dahsyat dibanding melihat sejumlah mobil dihancurkan di jalanan, melihat Irene, saya pun langsung meleleh.

Review Drive

Saya tidak perlulah banyak kata menceritakan isi film yang memenangkan penghargaan sutradara terbaik di ajang festival film Cannes ini. Pengennya sih saya meluapkan semua perasaan di review ini, well tidak berlebihan seperti di review “Helldriver”. “Drive” bisa dibilang sudah sukses menampar bolak-balik hati saya, dengan kisah romansa yang tidak berlebihan, disajikan dengan begitu real, membiarkan saya terombang-ambing mengikuti aliran emosi yang berhulu dari dua bintang utamanya. Walaupun Nicolas mengemudikan filmnya dengan lambat, itu tak jadi soal, karena dia sengaja memberikan kita waktu untuk mengenal lebih jauh karakter-karakternya, terlebih si-driver yang selalu bisa tampak cool dengan jaket kalajengking kesayangannya itu. Dengan alur yang lambat tersebut, tentu saja kesabaran penonton diuji, tapi dipastikan kita bisa merasakan chemistry manis yang coba dibangun oleh Nicolas. Tanpa sadar saya sudah jatuh cinta dengan film ini sejak pandangan pertama, belum lagi deretan soundtrack­ yang dijamin makin membuat durasi 100 menit film ini menjadi pendek, semua elemen di film ini memang berkomplot sejak awal untuk membuat penontonnya betah duduk di kursi belakang, “mengintip” apa yang terjadi ketika seseorang yang sedang jatuh cinta memegang palu.

Yah tidak ada bunga-bungaan di film ini, saya tidak mengharapkannya juga, romantis versi “Drive” adalah meremukkan kepala orang untuk melindungi sang pujaan. Nicolas sudah mengajak kita melihat aksi kejar-kejaran, memberikan pelajaran jika ingin mencuri istri orang lain, pakailah jaket kalajengking dekil dan siapkan gaya se-cool mungkin saat menyender dimanapun, termasuk di lift, oh jangan lupa tusuk gigi di mulut. Pelajaran selanjutnya adalah cara terbaik untuk bermain-main dengan palu, kekerasan yang film ini tunjukkan pun bukan sembarang menampilkan gambar-gambar sadis (sayang harus kena guntingan sensor), melainkan sajian alami untuk menggambarkan jika driver juga adalah seorang manusia. Seseorang yang selalu tenang pun bisa berubah bringas ketika dalam situasi terdesak, kita manusia diciptakan dengan insting alamiah untuk bertahan hidup. Apalagi si driver sedang jatuh cinta, akan semakin wajar apa yang diperlihatkan Nicolas, kesadisan yang dikemas juga dengan indah. “Drive” tidak malu untuk menyembunyikan perasaannya, meluapkan isi hatinya di depan penonton, ada interaksi tak terlihat dan sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Seperti juga driver yang tak kuasa menahan rasa suka kepada Irene yang diperankan oleh Carey Mulligan dengan begitu charming, saya pun tidak bisa berbohong kalau film ini sudah sukses menjerat hati saya.

Rating 5 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - The Girl wi...
Review - Before I Wa...
Review - The Eyes of...