Review: The Adventures of Tintin

written by Rangga Adithia on November 8, 2011 in Animation and CinemaTherapy and Hollywood with one Comment

Review Tintin

Pernah tercatat sebagai eksekutif produser untuk beberapa judul film kartun di tahun 90an dan terakhir juga turut memproduseri film animasi komputer “Monster House” (2006), barulah sekarang, lewat “The Adventures of Tintin”, Steven Spielberg untuk pertama kali tergiur menyutradarai sebuah film animasi. Awalnya, Spielberg yang sudah membeli hak cipta untuk mengadaptasi komik karya seniman asal Belgia, Hergé (Georges Remi), sejak 1983 ini ingin membuat versi live action dari Tintin. Namun Peter Jackson yang diminta oleh Spielberg untuk menangani CGI, lewat perusahaan visual efek-nya, Weta Digital, justru meyakinkan Spielberg untuk membuat keseluruhan film menjadi animasi, dengan memanfaatkan teknologi motion capture (mocap). Peter Jackson yang kemudian didaulat untuk duduk di kursi produser memang tidak asing dengan mocap, makhluk bernama “Gollum” di trilogi “The Lord of the Rings” dibuat melalui bantuan mocap, dengan Andy Serkis sebagai “korban”-nya. “The Adventures of Tintin” bukanlah satu-satunya animasi yang dibuat dengan teknologi mocap (sekarang lebih dikenal dengan istilah performance capture), masih ingat dengan “The Polar Express”? well, film tersebut juga dibuat dengan bantuan mocap, sama halnya dengan film-film Robert Zemeckis berikutnya, seperti “A Christmas Carol” (2009) dan “Beowulf” (2007). Tapi jika dibandingkan dengan ketiga film tersebut, Tintin akan terlihat jauh lebih baik.

“The Adventures of Tintin” dibuka dengan Tintin (Jamie Bell), dengan rambut jambul ciri khasnya, dan anjingnya, Snowy, yang sedang berada di sebuah pasar, dia kemudian tertarik dengan sebuah replika kapal layar bertiang tiga bernama Unicorn, karena cocok dengan harganya dia pun membelinya. Beberapa saat setelah kapal tersebut berada di tangan Tintin, dua orang misterius mencoba membeli replika kapal Unicorn, salah-satunya Ivanovich Sakharine (Daniel Craig), yang akan membeli dengan berapapun harga yang diminta Tintin, sayangnya Tintin tidak berniat menjualnya kembali. Sesampainya di rumah, replika kapal Unicorn terjatuh karena ulah Snowy yang sedang mengejar-ngejar kucing tetangga. Salah-satu tiang kapal Unicorn patah, tetapi Tintin tidak menyadari ada sesuatu yang keluar dari patahan tiang tersebut. Kapal “mainan” yang menyimpan rahasia besar, mengajak tidak hanya Tintin tapi juga penonton dalam petualangan yang seru.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana hasilnya jika “The Adventures of Tintin” jadi dibuat live action oleh Spielberg, tapi membuatnya menjadi animasi dengan performance capture, bisa dikatakan adalah pilihan yang tepat. Film-film dengan teknologi mocap ini memang sanggup menghadirkan kualitas animasi dengan visual yang menakjubkan, sebut saja film-film Zemeckis. Namun Spielberg, dengan pasukan Weta Digital, membuatnya jauh lebih menakjubkan dan saya tidak pernah melihat film “kartun” sesempurna ini. Jika “A Christmas Carol”, walau mengesankan secara visual tapi masih meninggalkan kerutan di dahi karena masih terlihat kaku, sebaliknya Tintin dari awal hingga akhir film, benar-benar halus, tidak kaku ketika bergerak dan berdialog, dan sangat menyerupai manusia. Tunggu dulu, tentu saja desain karakter manusia yang disesuaikan dengan komik buatan Hergé, yup karakter-karakter dengan desain unik seniman asal Belgia tersebut, seperti keluar dari setiap frame di komiknya, dan semakin hidup lewat tangan-tangan ajaib para animator Weta Digital. Visual karakter-karakternya kemudian ditambah kreasi lanskap-lanskap pendukungnya yang memanjakan mata, membuat kita tidak pernah bosan untuk mengikuti kemana pun Tintin pergi, siap berpetualang bersamanya.

Review Tintin

Tampilan yang mencolok mata saja tidak cukup, tentu saja karakter-karakter dalam film, apalagi itu animasi, harus juga bisa mudah disukai penontonnya, terlebih si tokoh utama. Disini Tintin, tidak saja dipoles untuk memikat mata tapi juga menjerat hati penontonnya, saya dari awal sudah terpikat, didorong oleh faktor visual tentu saja, tapi juga oleh emosi yang terasa di balik wajah digital Tintin. Walau bukan manusia asli, tapi emosi tersebut bisa dihantarkan dengan baik ke kursi penonton, layaknya mereka manusia, dan tidak saja oleh Tintin tapi juga karakter-karakter lain, termasuk Captain Haddock (Andy Serkis). Performance capture, sudah sangat baik menangkap setiap perubahan emosi dalam setiap pemainnya dan mentrasfernya dengan mulus ke dalam bentuk karakter-karakter animasi, hasilnya adalah saya bisa merasakan langsung efek ketika Tintin sedang kebingungan, marah, dan senang. Setiap pemain juga dengan apik dapat melebur dengan karakternya masing-masing, memberikan nyawa pada karakternya, jadi tidak terkesan bahwa Tintin dan kawan-kawan adalah boneka yang digerakkan dengan tali, mereka bukan zombie, mereka hidup dan digerakkan dengan performa maksimal Jamie Bell dan kawan-kawan.

Kekompakan pemain dan karakter yang mereka mainkan terlihat juga dari suara yang keluar dari masing-masing mulut setiap tokoh dalam film ini, Tintin pun dengan sangat pas disuarakan oleh Jamie Bell, cara berbicaranya yang enak di dengar, logat yang khas, dan juga mampu berinteraksi dengan penonton lewat dialog-dialognya. Well, interaksi tersebut tidak hanya ketika Tintin sanggup mengajak penonton untuk ikut berpikir keras dalam memecahkan teka-teki, tapi juga bagaimana Tintin dan setiap karakternya mampu untuk membuat penonton tertawa geli, yup Tintin dan kawan-kawan tidak selalu serius. Ketika tiba giliran porsi adegan berbau komedi, Tintin sepertinya harus mengalah, karena untuk urusan mengocok perut penonton, disana ada Haddock dan duo detektif kembar, Thomson dan Thompson, yang tentu saja lebih kocak ketimbang Tintin, oh jangan lupa dengan Snowy yang menggemaskan. Andy Serkis sekali lagi memamerkan kebolehannya sebagai “korban” mocap, sebagai Haddock dia benar-benar membuat karakter tersebut berkesan, sekaligus lucu. Sayangnya duo komedian yang kerap terlihat bermain bersama dalam satu film, Simon Pegg dan Nick Frost, hanya punya bagian sedikit di film ini, tapi kebodohan karakter yang mereka mainkan, Thomson dan Thompson, saya rasa sudah cukup “mengenyangkan”, sekaligus dirindukan kehadirannya.

“The Adventures of Tintin” tentunya tidak lupa dengan cerita, untuk urusan itu Steven Moffat, Edgar Wright (Scott Pilgrim vs. the World), dan Joe Cornish (Attack the Block) sudah melakukan pekerjaan rumah mereka dengan nilai memuaskan. Cerita dengan cepat membuat kita penasaran dari awal, pemecahan misterinya pun tidak bertele-tele dan yang penting jalan cerita bergulir tidak membosankan. Spielberg pun menuntun kita dari satu adegan ke adegan lain dengan nyaman, tidak ada adegan yang dirasa memaksa, film ini jelas hanya untuk hiburan semata dan Spielberg berhasil melakukan itu. Dari lanskapnya yang dibuat spektakuler namun tetap natural, Spielberg juga menempatkan adegan action agar tidak terlalu berlebihan, tapi tetap membuat adrenalin ini terpompa. “Kegilaan” film ini bisa dikatakan mampu dijaga Spielberg untuk tetap berada dalam koridor tidak lebay, namun tentunya tetap menakjubkan, dengan unsur “Indiana Jones” didalamnya. Spielberg telah menghadirkan petualangan yang sangat seru di “The Adventures of Tintin”, film yang total dalam menghibur, dengan karakter-karakter yang mudah disukai dan visualnya yang ternyata diluar bayangan saya sebelumnya, ekspektasi saya sudah “dikencingi” oleh Snowy, tidak berlebihan jika saya katakan ini adalah film animasi terbaik tahun ini.

Rating 4.5 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Ada Apa Den...
Review - Munafik (20...
Review - Don't Breat...