Review: Poconggg Juga Pocong

written by Rangga Adithia on November 28, 2011 in CinemaTherapy and Comedy and Film Indonesia with 5 comments

Review PJP The Movie

Bermodal status “selebritis twitter” yang disandang akun @poconggg dengan pemilik asli bernama Arief Muhammad, yang juga ikut terlibat penulisan cerita di film “Poconggg Juga Pocong” ini, kemudian ditambah label best seller bukunya, wajar saja jika Maxima akhirnya tergiur untuk memproduksi film pocong kesekian di daftar perfilman Indonesia. Sayangnya, film ini nongol pada saat pamor pocong di negeri ini sedang menyedihkan, lebih dibenci ketimbang membuat takut, rasanya saya pun sudah muak dengan film yang punya embel-embel hantu terbungkus kain kafan ini. Sudah ribuan film horor ataupun komedi yang berusaha mengeksploitasi hantu pocong akhir-akhir ini, dan ujung-ujungnya hanya menjadi bahan makian, kebanyakan ketika seorang Nayato “kebetulan” duduk di bangku sutradara. Padahal stok hantu lokal masih banyak yang belum terjamah, si tante kuntilanak saja yang menjadi saingan satu-satunya pocong, sekarang harus pasrah gigit jari di pohon mangga dan menggadaikan peralatan make-up, karena sepi orderan main film. Ketika judul “Poconggg Juga Pocong” muncul, jujur kata-kata yang pertama keluar dari mulut saya adalah “pocong lagi pocong lagi”, terlebih saya belum pernah membaca bukunya dan kurang familiar dengan isi tweet akun @poconggg.

Baiklah, saya akan memberikan kesempatan “Poconggg Juga Pocong” untuk menghibur saya, walaupun ketika melihat nama Chiska Doppert, terpampang sebagai sutradara, lagi-lagi “nyali” saya langsung ciut. “Ada Apa Dengan Pocong” bisa dibilang hancur, namun sutradara yang namanya pernah disangka sebagai salah-satu alter ego dari Nayato ini pun memperbaiki kesalahannya di horor-komedi dengan membuat “Tumbal Jailangkung”, ya posternya memang sanggup membuat saya muntah dari kuping, tapi film horor ini bisa dibilang punya niat “benar” untuk menakuti, sayangnya hasilnya masih mengecewakan. Oke sekali lagi saya akan beri kesempatan “Poconggg Juga Pocong” untuk membuktikan filmnya bisa menjadi film ber-pocong yang beda. Well, ternyata secara mengejutkan saya bisa tertawa melihat aksi pocong galau yang masih penasaran dengan kehidupan duniawi, masih belum menerima dirinya sudah di alam berbeda, menjadi pocong dan tidak punya kesempatan lagi untuk menyatakan cintanya pada seorang cewek.

Dimas alias poconggg (Ajun Perwira), kaget ketika membuka matanya sudah terbungkus kain kafan, dikelilingi pocong-pocong di kuburan. Tersadar dirinya sekarang sudah mati, dan meninggalkan urusan yang belum selesai di dunia, berhubungan dengan cewek yang dia suka bernama Sheila (Saphira Indah), Dimas pun melompat kesana-kemari berusaha untuk bisa kembali berdua dengan Sheila, sayangnya alam mereka sudah berbeda. Baru menjadi pocong, Dimas bingung harus apa, beruntung di alam gaib ada hantu baik yang mau membantunya, ada Anjaw (Rizky Mocil), pemimpin geng pocong dan Kunti (Nycta Gina), yang akan menjadi semacam tutornya bagaimana menjadi pocong yang tidak cupu dan bisa menakuti manusia, sekaligus menghilangkan ke-galau-an Dimas. Belum selesai dengan masalah yang satu, muncul masalah baru yang membuat Dimas semakin sedih, ketika melihat Sheila mulai didekati cowok lain, “tukang foto”, begitulah Dimas sering menyebut Adit (Guntur Triyoga). Apa yang akan dilakukan pocong?

Review PJP The Movie

Pertanyaan sebenarnya adalah, bagaimana nasib saya setelah menonton “Poconggg Juga Pocong” (PJP)? Well, saya baik-baik saja dan tidak mengalami pergeseran otak seperti saat menonton film-film pocong sebelumnya. Walaupun jujur saja sih, cukup keras usaha saya untuk menikmati film ini, apalagi ketika 15 menit opening-nya dihabiskan dengan sebuah narasi bertele-tele yang menceritakan kisah-kasih Dimas dan Sheila pada waktu masih sekolah. Perkenalan panjang di awal tersebut tidak berdampak siknifikan untuk membuat saya dekat dengan si tokoh utama, oke mungkin jika saya termasuk penonton abg, saya akan bilang itu unyu atau apalah, tapi mau dibuat seperti apalagi, kisah-kasih yang klise tersebut memang yang paling sering terjadi pada masa SMA dulu, termasuk juga saya. Sayangnya memang kurang dipoles untuk menjadi bagian yang “mengikat” saya dengan filmnya, ataupun dengan karakternya. Tapi kesabaran saya toh ada hasilnya, beranjak ke tengah cerita, setelah Dimas menjadi pocong dan berduet dengan Kunti, film ini mulai mengeluarkan umpan-umpan komedi yang sanggup memancing saya untuk yah tertawa, apalagi. Memang, tidak semua upaya Haqi Achmad dan Arief Muhammad untuk menghadirkan tawa renyah itu berhasil, ada bagian-bagian yang bisa dibilang berlebihan dan garing, tapi untungnya masih terselamatkan oleh aksi komikal si Kunti dan Anjaw, untuk pertama kalinya Rizky Mocil terlihat tidak mengganggu di layar lebar.

PJP memang terlihat sekali seperti sebuah kumpulan cerita pendek, tapi disatukan dengan pas, pada akhirnya saya pun bisa nyaman menontonnya sebagai cerita yang utuh. Setiap adegan ke adegan disambung menjadi serangkaian cerita yang berkelanjutan, sesekali ada saja adegan yang menyelip hanya numpang lewat tapi tidak terlalu mengganggu. Walau sudah dijahit tidak berantakan, PJP masih belum mampu memberikan saya kesempatan untuk “dekat” dengan ceritanya, emosi yang dicoba dibangun sejak awal, khususnya saat porsi drama mulai bergulir memperlihatkan kegalauan pocong, tidak berhasil berinteraksi dengan saya, hasilnya saya tidak merasakan apa-apa ketika menonton. Mungkin karena ketika film ini sudah mulai membangun interaksi, memancing rasa simpatik, semuanya terputus ketika film ini terlalu cepat berpindah dan di adegan berikutnya terkadang sudah memiliki mood yang berbeda. Wajah pocong yang galau dan akting Ajun Perwira pun tidak mampu menggerakkan emosi saya untuk beranjak dari posisi standby, saya justru begitu gemes dengan Saphira Indah, bukan karena aktingnya yang tidak lebih baik dari lawan mainnya, tapi karena jerawat di wajahnya yang datang dan pergi semaunya. PJP memang terselamatkan oleh niatnya untuk konyol, itu masih terbilang berhasil, beberapa kali saya tertawa melihat tingkah pocong-pocong gaul ini, pokoknya kocaklah masbro. Dan untuk Chiska Doppert, dengan film PJP ini, bayang-bayang Nayato sepertinya akan semakin menjauh, semoga saja, kita lihat saja film Chiska berikutnya.

Rating 2.5 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Surat Dari ...
Review - Deathgasm (...
Review - 3 Srikandi