INAFFF 2011: Sennentuntschi

written by Rangga Adithia on November 16, 2011 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Horror with no comments

Review Sennentuntschi

Diangkat dari sebuah legenda rakyat, “Sennentuntschi”, seperti tipikal film-film yang berasal dari daratan Eropa sana, mengajak penonton untuk bersabar, karena kebiasaannya memulai film dengan perlahan alias beralur lamban. Tunggulah sampai film bergulir dari menit ke menitnya, seperti seseorang penculik handal yang entah muncul darimana, kita tanpa sadar sudah seperti disekap, syukurnya tidak mati kebosanan, sebaliknya justru sedang asyik menikmati film yang awalnya bergerak layaknya keong. “Sennentuntschi” pun melakukan hal yang sama, melangkah tidak terburu-buru sambil mengisi otak para penonton dengan deretan teka-teki, sekaligus menyeret rasa penasaran kita yang kala itu pastinya tengah kebingungan oleh banyaknya pertanyaan. Well, sutradara Michael Steiner melakukan hal yang benar kepada filmnya, yang diklaim sebagai film horor pertama dari negara yang terkenal akan keindahan pegunungan Alpen, yup Swiss.

Tanpa basa-basi, “Sennentuntschi” sudah menebar kemisteriusannya di awal film, dibuka dengan penemuan tulang belulang oleh seorang anak kecil, kemudian kita diajak lompat menuju tahun 1975, ke sebuah desa kecil dimana seorang pendeta baru saja ditemukan oleh warganya tergantung di tiang sebuah gereja. Walau terlihat layaknya bunuh diri, semua orang beranggapan ada sesuatu yang merasuki si pendeta sampai bisa melakukan perbuatan yang sebetulnya dilarang oleh agama, pendapat ini dipertegas oleh perkataan kepala pendeta bahwa bunuh diri tersebut melibatkan kekuatan jahat bernama “iblis”. Ya tentu saja spontan desa langsung diliputi ketakutan, atmosfir supernatural pun semakin bertambah ketika tiba-tiba seorang perempuan dengan wajah dekil muncul di desa, dan kemudian pingsan di depan warga yang baru saja pulang dari pemakaman sang pendeta. Sebastian Reusch (Nicolas Ofczarek), petugas polisi setempat, pun langsung menolong si perempuan (Roxane Mesquida), yang belakangan diketahui ternyata bisu. Kedatangannya yang misterius setelah kematian seorang pendeta, membuat seisi desa langsung menuduh si perempuan bisu tersebut sebagai seorang pembunuh, dia tidak lain adalah sosok iblis yang disebut-sebut oleh pendeta, benarkah?

Michael Steiner, yang juga terlibat dalam penulisan cerita bersama Michael Sauter dan Stefanie Japp, benar-benar menikmati sekali membuat film ini, apalagi ketika dia berhasil mempermainkan penontonnya. “Sennentuntschi” tidak saja dipoles untuk memanjakan indera penglihatan dengan gambar-gambar indah, didominasi oleh lanskap pegunungan Alpen yang keindahannya tertangkap dengan sangat baik oleh Pascal Walder, di balik kameranya. Dibalik keindahan tersebut, film yang ikut meramaikan INAFFF 2011 ini menyembunyikan jalinan cerita yang saya akui agak rumit, jadi alurnya yang tidak buru-buru itu pun semakin bernilai positif, karena membantu saya untuk punya waktu dalam mencerna maksud dari setiap adegan yang dilempar Steiner ke penonton. Perjalanan film ini yang “santai” pun membantu kita untuk mengerti peran setiap karakternya, menjadi lebih menarik karena Steiner peduli terhadap karakter yang berkeliaran di filmnya, tidak asal taruh tapi punya porsi penting-nya masing-masing dalam cerita.

Review Sennentuntschi

“Sennentuntschi”, yang punya sub judul Der Fluch Der Alpen, atau “Curse of the Alps” ini, akan terlihat seperti sebuah film misteri biasa (dengan ekspektasi saya yang rendah) di awal, ditambah aksi polisi berkeliaran kesana-kemari mencari jawaban. Well, tunggu sampai kita tiba-tiba sudah berada di sebuah labirin ciptaan Steiner dan berkali-kali akan bilang: siapa sebenarnya perempuan bisu? “Sennentuntschi” memberi kesempatan saya untuk mencari tahu sendiri, film ini menantang penontonnya untuk berpikir tapi disana ada Steiner yang siap membantu kita agar tidak tersesat terlalu jauh, jangan sampai kita asyik berkeliaran bermain di Alpen kemudian tersesat dan jatuh ke jurang. Steiner tidak termakan egonya untuk kemudian dengan seenaknya melempar bertumpuk teka-teki, tapi dengan baik hati juga memberi kita banyak clue dan jawabannya, walau jangan harap sih Steiner akan memberikannya dengan cuma-cuma, butuh kejelian untuk memperhatikan keseluruhan cerita, karena bisa saja jawaban itu terselip diantara adegan yang kita pikir tidak terlalu penting. “Sennentuntschi” jelas film yang sengaja untuk membuat penonton pusing, tapi percayalah ketika kita sudah masuk, lebih dalam, rasanya enak banget.

Lagipula, rasa pusing kita akan sesekali disembuhkan oleh sajian pemandangan nan indah pegunungan Alpen, serasa sedang liburan saja. Ditambah permainan apik jajaran cast-nya terlebih Roxane Mesquida yang memerankan si perempuan bisu. “Sennentuntschi” tidak saja didukung oleh jalinan cerita yang menarik, walau berjalan lamban dan terkadang jadi terkesan absurd, film ini pun menghadirkan pemain-pemain yang bisa tampil total ketika berakting di depan kamera. Berkomplot untuk semakin membuat kita penasaran bersama ceritanya yang berlika-liku, Roxane yang sama sekali tidak bicara dan mengandalkan mimik muka dan gesture, mampu dengan baik menggiring kita untuk semakin tersesat, apakah dia benar-benar iblis yang dimaksud oleh kepala pendeta? yah pokoknya semua pertanyaan itu tidak pernah hilang, sampai akhirnya Steiner memberi kejutan manis pada penghujung cerita, dengan sebuah twist yang jujur melenceng dari tebakan saya. Tidak perlu dong saya ceritakan apa kejutannya, cukup gambaran kalau wajah saya amat tolol ketika Steiner menyodorkan twist tersebut. “Sennentuntschi” adalah sebuah film misteri dibalut horor yang mengasyikkan, walaupun perjalanannya agak melelahkan seperti kita sedang mendaki Alpen, tapi Steiner memberikan kita hadiah yang pantas.

Rating 3.5 Tengkorak

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Raksasa Dar...
Review - Warkop DKI ...
Review - The Eyes of...
Review - Istirahatla...