INAFFF 2011: Livid

written by Rangga Adithia on November 18, 2011 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Horror with 2 comments

Review Livide

Opening “Livid” (Livide, dalam bahasa Perancis), oleh Alexandre Bustillo dan Julien Maury dimanfaatkan betul momentumnya untuk menempatkan mood penonton pada jalur yang tepat. Mempertontonkan gambar-gambar bangkai sampai kuburan, tapi di potretkan dengan sangat cantik, seperti ingin mempertegas duo sutradara yang sebelumnya sukses dengan film slasher “Inside” ini, akan membuat horor yang saya akui memang cantik nan mengerikan, layaknya bidadari yang jatuh dari langit tepat di kubangan darah. Karena kali ini Bustillo dan Maury ingin mencicipi tema horor-supernatural, saya tidak berharap mereka berdua akan mengulang aksi bacok-bacokan seperti di “Inside”, mungkin lebih banyak fokus bagaimana mengejutkan penonton dengan penampakan-penampakan sosok gaib yang menunggu di ruangan-ruangan gelap, pikiran cetek saya berulang membisikkan seperti itu. Tapi tebakan saya langsung disayat-sayat oleh pecahan kaca, ternyata Bustillo dan Maury memberikan kejutan manis bersama “Livid”.

Hari ini, adalah hari pertama pelatihan Lucy (Chloé Coulloud), bekerja bersama Wilson (Catherine Jacob) mendatangi orang-orang lanjut usia untuk merawat mereka. Salah-satu dari mereka adalah Mrs Jessel (Marie-Claude Pietragalla), yang hanya bisa terbaring di tempat tidurnya dengan bantuan alat pernafasan dan transfusi darah, dia sudah lama koma dan tinggal sendirian di rumah besar bergaya gothic. Dari cerita Wilson, diketahui bahwa Mrs Jessel dulunya adalah seorang guru tari yang terkenal dan kaya raya, Lucy pun tanpa sengaja jadi tahu dari mulut Wilson sendiri kalau Mrs Jessel ternyata menyimpan harta karun yang disembunyikan di rumahnya. Lucy menceritakan perihal harta karun tersebut kepada pacarnya, William (Félix Moati), sang pacar langsung punya ide untuk masuk ke rumah Mrs Jessel, tentu saja untuk mencari harta tersebut. Lucy awalnya tidak setuju, tapi keduanya akhirnya berangkat juga, ditemani teman mereka, Ben (Jérémy Kapone). Well apakah mereka menemukan “harta karun” yang disembunyikan Mrs Jessel?

Untuk urusan cerita, tidak banyak yang ditawarkan oleh “Livid”, walaupun Bustillo dan Maury yang juga menuliskan cerita di film ini, pintar menyembunyikan kejutannya dan pada akhirnya sanggup mengelabui saya. “Livid” cenderung dipanjang-panjangkan, dan agak basa-basi di awal, membuat kita diharap bersabar, apalagi dengan tempo filmnya yang terbilang “merangkak”. Namun kekurangan tersebut mampu ditutup-tutupi dengan manis oleh bagaimana cara Bustillo dan Maury dalam mengemas kisah horornya tersebut. Menjadi seperti alunan musik klasik, indah sekaligus sanggup menggetarkan bulu kuduk dan membuat adrenalin ini menari-nari balet, ketika duo sutradara sinting ini ternyata tak bisa lepas dari yang namanya adegan gore dan banjir darah. Yah “Livid” masih mewarisi kesadisan yang ditampilkan “Inside”, tidak sebanyak itu, tapi dipoles dengan sangat real dan ditempatkan di bagian-bagian yang tidak disangka-sangka, inilah salah-satu “harta karun” yang disembunyikan oleh Mrs Jessel, eh maksud saya Bustillo dan Maury.

Review Livide

“Livid” yang sudah berulang kali saya sebutkan adalah horor yang indah, Laurent Bares yang juga sebelumnya bekerjasama dengan Bustillo dan Maury di “Inside”, apik dalam menggunakan kameranya, sanggup menangkap gambar-gambar indah yang menentukan mood penonton, membuat mata ini betah sampai ke akhir cerita, bertahan dari tempo film yang lamban dalam mengeksplor segala misteri dan hal-hal berbau supernatural. Telinga pun dibuat betah oleh scoring yang makin membuat kesuraman dan kengerian di “Livid” semakin menjadi-jadi. Beberapa nomor klasik pun sempat dilantunkan, cocok menjadi pemanis momen-momen yang sebetulnya mengerikan untuk ditonton, salah-satunya lagu “Moonlight Sonata” dari komposer terkenal Ludwig Van Beetoven. Gambar dan musik sudah berkomplot untuk “menenangkan” penonton dengan keindahannya masing-masing dan giliran Bustillo dan Maury untuk melengkapinya menjadi sajian horor yang tidak saja indah tapi creepy dan juga luar biasa aneh, memuaskan? tentu saja iya banget.

Gaya Bustillo dan Maury dalam menghadirkan ke-creepy-annya di “Livid”, langsung mengingatkan saya pada sutradara yang handal dalam urusan memasukkan unsur-unsur aneh ke dalam filmnya, Guillermo del Toro. Terlebih ketika “Livid” mulai memamerkan deretan sosok-sosok yang mengerikan, memainkan mereka tidak hanya untuk meneror Lucy dan teman-temannya, tapi juga memaksa penonton yang sebelumnya duduk tenang untuk berteriak. Saya suka karakter-karakter horor yang ditampilkan oleh “Livid”, pas dengan atmosfir supernatural yang coba dibangun oleh Bustillo dan Maury sejak pertama kali kita menginjakkan kaki di rumah Mrs Jessel. Merinding sudah pasti dan setiap sudut gelap di rumah itu seperti memancing kita untuk mendekat, berbarengan dengan misteri yang perlahan-lahan mengikat kuat rasa penasaran, kemudian secara tiba-tiba menyeret kita untuk masuk dalam dunia Bustillo dan Maury, disana sudah menunggu keanehan yang indah dan ketegangan yang mengasyikkan. “Livid” memang tidak ditopang oleh cerita yang kuat, tapi saya tidak peduli, karena film ini sudah memberikan pengalaman mengasyikkan, sebuah horor yang dibacakan dengan begitu puitis dan serunya lagi ada kesadisan ala Bustillo dan Maury disana menunggu untuk ditemukan.

Rating 3.5 Tengkorak

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Juara (2016...
Review - Indonesia K...
Review - Munafik (20...