INAFFF 2011: Immortals

written by Rangga Adithia on November 12, 2011 in CinemaTherapy and Fantasy and Hollywood with no comments

Review Immortals

Dari awal melihat trailer-nya, “Immortals” dengan embel-embel “from the producers of 300”, memang terkesan seperti ingin membangun ekspektasi bahwa film ini akan sekeren film yang disutradarai Zack Snyder tersebut, setidaknya dari segi action yang ditawarkan. Ditambah dengan melibatkan nama Tarsem Singh, saya buru-buru menyimpulkan akan banyak visual-visual indah khas Tarsem, seperti yang diperlihatkan dalam “The Fall” dan busana aneh ala “The Cell”, semua itu membuat “Immortals” menjadi abadi di daftar film yang wajib ditunggu tahun ini. Kabar baiknya, film ini masuk ke Indonesia dan menjadi pembuka di INAFFF 2011, senang? sudah pasti, kabar buruknya adalah semua bayangan saya tentang film yang dibintangi the next Superman ini buyar, setelah keluar ke bioskop dengan wajah biasa saja, menandakan kalau “Immortals” memang sudah mengecewakan.

“Immortals” terlalu dipaksakan untuk menjadi se-epik “300”, dan semua slow-motion itu tidak juga membuat film ini lebih keren dari buatan Snyder. Apa yang berlebih dari setiap adegan action-nya hanya suguhan kesadisan yang tidak tanggung-tanggung, setidaknya itu yang membuat saya masih “terbangun”, dan kaget juga karena tidak menyangka kalau “Immortals” bisa seberani ini dalam urusan mengekploitasi tingkat kekerasannya. Leher tersayat, kepala pecah berhamburan, tubuh tercerai-berai, dan darah yang menghujani isi layar, jadi suapan yang tidak ada habis-habisnya di “Immortals”. Tingkat kesadisan yang mengasyikan tersebut sayangnya harus tercoreng oleh buruknya kualitas CGI, well kalau ini filmnya Yoshihiro Nishimura saya masih bisa memaklumi, tapi hey disana ada nama seorang Tarsem Singh, saya tentunya berharap lebih untuk urusan visual.

Kualitas CGI juga tidak hanya mengganggu kenikmatan mata saya ketika menonton aksi-aksi Theseus (Henry Cavill) dan Zeus (Luke Evans) menghajar musuh-musuhnya, tetapi juga menulari bagian-bagian pendukung di film ini. Sebut saja beberapa lokasi “buatan” yang entah kenapa Tarsem lebih senang memilih pinggir jurang sebagai lokasi favoritnya. Lagi-lagi kebanyakan juga hasil kreasi digital yang payah, lupakan pemandangan indah di “The Fall”, disini semua terlihat tidak real. Desa tempat tinggal Theseus ataupun kamp Raja Hyperion (Mickey Rourke) dipoles sangat tidak menarik, saya membayangkan akan ada arsitektur atau dekorasi set yang sinting ala Tarsem, tapi selama film bergulir saya tidak menemukan sesuatu yang mampu meningkatkan gairah menonton. Mungkin satu-satunya yang agak menarik adalah lokasi tempat kemunculan Phaedra (Freida Pinto) dan para peramal, dengan kostum mereka yang unik. Akhirnya Tarsem mengeluarkan jurus andalannya, harus saya akui “Immortals” punya keunikan dalam soal berbusana.

Review Immortals

Salah-satu yang saya suka dari film-film Tarsem adalah pemilihan kostumnya yang tidak biasa, termasuk “The Cell” yang menurut saya lewat kostumnya mampu mengeluarkan aura freak dan keabsurdan filmnya. “Immortals” mengulang apa yang sudah dilakukan Tarsem di “The Cell”, kebrutalan Raja Hyperion dan pasukannya bisa terwakili oleh liar dan sangar-nya kostum yang mereka pakai. Tarsem sepertinya memang tidak benar-benar setia pada mitologi Yunani, bisa dibilang menyimpang jauh, tidak saja terlihat dalam penggunaan kontum, yang “seenaknya” gaya yang diinginkan Tarsem. Lihat saja pakaian yang dikenakan para Dewa, agak aneh memang jika image yang sudah menempel di otak kita adalah dewa-dewa di film “Clash of the Titans”, kemudian disodorkan dewa-dewa di film ini. “Kok dewanya begini”, komentar penonton di sebelah saya, tidak dia saja yang kaget, saya pun begitu, memang seharusnya tidak perlu kaget, jika tidak aneh, bukan film Tarsem kali yah. Melihat kembali gambar-gambar promo “Immortals”, tampaknya lebih terlihat bagus di gambar-gambar tersebut ketimbang di filmnya sendiri.

Tarsem bisa dibilang kehilangan citarasa yang pernah saya rasakan di dua film terdahulu, di “Immortals” saya tidak dapat merasakan kalau ini hasil arahan sutradara yang punya nama lengkap Tarsem Dhandwar Singh ini. Terkecuali di beberapa bagian visual dan yah mostly untuk kostum yang dihadirkan, selebihnya seperti dipaksakan untuk menjadi the next 300. Jika bertanya apakah “Immortals” menghibur? saya akan mengangguk manis, apalagi ketika Tarsem memamerkan aksi-aksi berdarah yang belum pernah dia tampilkan di film-film sebelumnya, walaupun didominasi oleh hasil olahan komputer yang sungguh disayangkan tidak terlalu smooth. Nilai minus “Immortals” juga bertambah ketika saya melihat bagaimana Tarsem menceritakan kisah mitologi Yunani versinya sendiri itu, duo Vlas dan Charley Parlapanides juga tidak menyuguhkan cerita yang benar-benar menarik serta ditambah storytelling Tarsem yang agak kurang nyaman untuk diikuti. Karakter film ini pun kurang tergali dengan seharusnya, beberapa karakter terkesan numpang lewat saja dan tiba-tiba menghilang begitu saja, seperti Phaedra yang dimainkan oleh Freida Pinto. Akting Henry Cavill cukup baik disini, penasaran bagaimana perannya sebagai Superman nanti, tapi Mickey Rourke tetap yang paling mencuri perhatian, sebagai Raja yang bengis dan terlihat sangat sangar dengan bekas luka diwajahnya. Sebagai film yang ditunggu-tunggu, “Immortals” telah mengkhianati ekspektasi saya yang kelewat antusias, well film yang mudah untuk dilupakan, terkubur bersama Panah Epirus.

Rating 2.5 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Turbo Kid (...
Review - Some Kind o...
Review - Iblis (2016...
Review - Ouija: Orig...