Review: Super 8

written by Rangga Adithia on October 31, 2011 in CinemaTherapy and Hollywood and SciFi with no comments

Review Super 8

Walau tidak menangani langsung “Cloverfield” (2008), J.J. Abrams yang kala itu duduk sebagai produser sekaligus otak dibalik ide film monster ini, selalu saja jadi sasaran pertanyaan, kapan dia akan membuat lanjutannya? Well, ketika proyek “Super 8” muncul ke permukaan, spontan isu sekuel/prekuel “Cloverfield” pun kembali ramai dibicarakan. Apalagi ketika trailer-nya yang mengundang rentetan misteri itu dirilis, wah hype film ini pun semakin menanjak. Banyak yang mengira jika film yang disutradarai sendiri oleh Abrams dan diproduseri Steven Spielberg ini ada hubungannya dengan “Cloverfield”, isu ini pun langsung dibantah oleh Abrams. “Super 8” bukan “Cloverfield 2”, ya tentu saja tidak apa-apa, kecewa sedikit,iya, karena saya salah-satu penggemar film itu dan sangat menunggu lanjutannya, walau sebetulnya juga tidak berharap adanya sekuel/prekuel (oh sebuah pernyataan yang terdengar labil). Bagaimanapun juga “Super 8” tetap sebuah film yang “wajib ditonton”, mengundang rasa penasaran, hey ada nama Spielberg disana! dan setelah “Star Trek” (2009), jika itu berurusan dengan sci-fi, Abrams adalah orang yang bisa kita percaya, orang yang sanggup membuat kita “lost” dalam dunianya.

“Super 8”, menceritakan segerombol anak-anak kota kecil, Lillian di Ohio (sebagai info nama kota tersebut adalah fiksi), mereka adalah Joe Lamb (Joel Courtney), yang baru saja kehilangan ibunya, Charles Kaznyk (Riley Griffiths), Preston (Zach Mills), Martin (Gabriel Basso), dan Cary (Ryan Lee), yang sedang membuat film low-budget zombie untuk diikutsertakan dalam festival. Untuk menambah unsur “drama” ke dalam filmnya, Charles, sahabat Joe sekaligus sutradara film ini, pun meminta Alice (Elle Fanning) untuk ikut bermain sebagai istri tokoh utama. Di tengah syuting, di sebuah stasiun kereta yang sepertinya sudah tidak terpakai, Joe tiba-tiba melihat sebuah mobil truk pick-up sinting yang melaju di atas rel kereta, padahal jelas-jelas ada kereta api yang juga sedang melaju kencang ke arah mobil tersebut. Kecelakaan pun tak terhindarkan lagi, Joe dan teman-temannya yang sedang asyik merekam adegan Alice dan terkesima dengan aktingnya pun langsung berlarian. Kereta api yang saling bertubrukan, terjungkir, berguling, dan keluar dari relnya, ditemani deretan ledakan-ledakan dahsyat itu, tidak hanya membuat anak-anak belasan tahun ini ketakutan, saya yang duduk di kursi penonton, langsung dipaksa ikut “merinding”, thanks Abrams! karena takjub melihat bagaimana adegan kecelakaan divisualisasikan dengan gila-gilaan, tentunya didukung pula oleh tata suara yang tak ada habisnya memborbardir telinga.

Opening tersebut bagaikan sebuah umpan manis yang “menggiurkan”, dan ketika pihak militer berdatangan setelah insiden tersebut, kota Lillian sekarang tidak saja menjadi kota yang diliputi misteri, kita pun diundang untuk ikut penasaran, apa sangkut paut militer dengan kecelakaan kereta, lalu “benda” apa yang dilihat Joe dan kawan-kawannya keluar dari salah-satu gerbong kereta, termasuk pertanyaan apakah film zombie akan diteruskan, karena saya ingin sekali melihat mereka syuting lagi. “Super 8” bisa dibilang adalah film di dalam film, karena disini kita tidak hanya disajikan kisah misteri berbalut fiksi ilmiah yang berawal dari sebuah kecelakaan kereta api, tapi juga dipaparkan bagaimana keuletan Joe dan kawan-kawan dalam merealisasikan mimpi mereka membuat film, mungkin bisa jadi inspirasi bagi mereka yang akan membuat film. Bermodal kamera Super 8 (kamera 8mm), dari sanalah judul film ini diambil, dan alat seadanya, mereka sangat gigih untuk menyelesaikan film zombie tersebut, di tengah situasi yang terbilang tidak mendukung. Tapi lihatlah saking kreatif, mereka bisa memanfaatkan kecelakaan kereta dan hadirnya pihak militer untuk jadi bagian dari film, secara “ngumpet-ngumpet”, ini demi production value, itulah yang sering diungkit-ungkit Charles. Kisah dibalik pembuatan film zombie pun tak pelak jadi hiburan menarik tersendiri, di saat mata saya sedang sangat serius pada layar, memperhatikan sesosok makhluk yang bersembunyi dibalik semak-semak.

Review Super 8

Anak-anak yang hebat, bukan! ditangan seorang Abrams, “Super 8” pun jadi hebat dan sangat menyenangkan untuk ditonton. Tampilan filmnya yang retro, karena ber-setting di akhir tahun 70-an pun makin menambah sisi artistiknya, sekaligus mengingatkan saya sih dengan film “E.T. the Extra-Terrestrial” garapan Spielberg di tahun 1982. Saya menyebut film ini sebagai versi “imut” dari “Cloverfield”, dengan keseruan ala film “The Goonies” (1985), yah tidak lagi dibuat asyik berpetualang mencari harta karun bajak laut, sebagai gantinya kita akan diajak melihat aksi Joe dan kawan-kawan dalam mengumpulkan teka-teki dibalik insiden kecelakaan kereta api, sama-sama seru dan “Super 8”, dengan manis mampu memanfaatkan momen-momen menegangkan untuk mengajak jantung penonton berlari kencang. Didampingi visual yang juga keren, khususnya ketika “Super 8” sudah bosan menyambunyikan “tamu” kota Lilian yang tak diundang itu dan dengan baik hati memperlihatkan sosok misterius tersebut. “Super 8” memang bukan semata-mata selalu soal visual, atau bagaimana film ini mampu dengan baik mengurung kita dalam “penjara” bernama rasa penasaran dan sekaligus sanggup menyimpan misterinya rapat-rapat sampai waktu yang terbilang tepat untuk mengungkapkannya pada penonton. “Super 8” juga film yang sanggup mengajak hati kita ikut tersenyum, sambil mengikuti bocah-bocah kreatif dan pemberani ini berpetualangan menemukan jawaban atas setiap misteri.

Diiringi musik scoring karya Michael Giacchino yang menambah kenyamanan penonton dalam melahap “Super 8” dengan durasi 112 menitnya, kita juga tidak akan pernah bosan ketika film ini menampilkan akting anak-anak yang bisa dibilang sangat memukau. Elle Fanning, yup adik Dakota Fanning itu adalah yang paling menyita perhatian, ketika peran dia sebagai Alice betul-betul memukau. Lihat saja ketika dia memamerkan kemampuan akting di depan teman-temannya, Elle harus berakting sebagai Alice sekaligus menjadi tokoh dalam film zombie tersebut, dan dia melakukannya dengan fantastik. Joel Courtney yang memerankan Joe juga tampil sangat baik, sanggup mengajak penonton untuk tidak pernah bosan mengikuti kemanapun dia pergi. Satu lagi, Riley Griffiths yang aktingnya sebagai sutradara cilik yang ambisius, Charles Kaznyk, patut diacungi dua jempol. Semua telah bermain dengan menyenangkan, memaksimalkan porsinya masing-masing, hasilnya kita bisa merasakan chemistry persahabatan yang kuat diantara Joe dan teman-temannya. Abrams telah menghadirkan film yang tidak saja seru dan menghibur, fiksi ilmiah yang ceria dibumbui dengan ketegangan ala film-film monster, dan menyentuh ketika film ini sudah menampilkan sisi drama-nya yang tidak dibuat terlalu cengeng. “Super 8” adalah film yang super-FUN! oh dan jangan keluar dulu ketika end credit muncul, karena yang penasaran bagaimana film zombie yang dibuat oleh Joe dan kawan-kawan (termasuk saya), bisa menonton di akhir film ini. Secara mengejutkan, film yang berjudul “The Case” ini pun ternyata keren, bravo Charles… dan juga J.J. Abrams.

Rating 4 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Aach... Aku...
Review - Deathgasm (...
Review - Iblis (2016...
Review - Raksasa Dar...