Review: Semesta Mendukung (Mestakung)

written by Rangga Adithia on October 19, 2011 in Asian Film and CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with one Comment

Review Mestakung

Tampaknya memori buruk “Obama Anak Menteng” (2010) masih saja berbekas, seperti noda yang enggan pergi walau sudah dicuci berulang kali, film yang niatnya mulia ingin membuat anak-anak Indonesia terinspirasi tapi gagal total, hanya mempertontonkan kisah culun tentang bocah yang kelak menjadi presiden Amerika. Agak pesimis pada akhirnya dengan Semesta Mendukung (Mestakung), yang sekali lagi digarap oleh John De Rantau, tapi masih ada “Denias Senandung Di Atas Awan” (2006) yang setidaknya mampu untuk mengembalikan keyakinan saya kalau film ini tidak akan seburuk sebelumnya. Lagipula, kemungkinan Obama “bagus” pun gara-gara ada nama Damien Dematra, yang sekarang tampaknya lebih fokus untuk memecahkan rekor ketimbang bikin film yang bener. Okay lupakan film Obama dan khususnya Damien, bisa-bisa saya membuat rekor review paling panjang (di blog), isinya “memuja-muja” sutradara yang belum lama ini (katanya sih) menyabet sebuah penghargaan di Amerika sana, lewat filmnya “Si Anak Kampoeng”.

Kembali ke Mestakung, film ini bercerita tentang Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah), seorang anak Madura, dari keluarga pas-pasan yang sangat menggemari Fisika, termasuk anak yang pandai disekolahnya. Sayangnya kepintarannya tidak membuat Arief jadi bahagia, apalagi melihat ayahnya yang bekerja serabutan, mengantar barang kesana-kemari dengan truknya. Muslat (Lukman Sardi), ayah Arief terpaksa bekerja seperti itu, karena ladang garamnya sedang dilanda paceklik. Sedangkan ibunya yang pergi bekerja ke Singapura sudah bertahun-tahun tidak memberi kabar. Walau begitu Arief tidak patah semangat, dia mengumpulkan lembar demi lembar uang yang dihasilkannya dari bekerja di bengkel untuk bertemu ibunya, dibantu oleh Cak Alul (Sudjiwo Tedjo) yang katanya akan mencarikan alamat ibunya jika uang sudah terkumpul. Mimpi Arief untuk bertemu dengan ibunya pun sepertinya bakal terkabul lebih cepat, karena bakatnya dalam bidang fisika dilirik oleh gurunya disekolah, Ibu Tari Hayat (Revalina S. Temat). Tari akhirnya mengabari temannya Pak Tio Yohanes (Ferry Salim) untuk mengajak Arief masuk dalam tim olimpiade fisika. Tentu saja Arief senang, apalagi tim yang nantinya terpilih akan diberangkatkan ke Singapura, jadi Arief bisa sekaligus mencari ibunya.

Mestakung sebetulnya menjanjikan kisah yang menarik sejak awal, apalagi ketika saya segera disajikan tradisi karapan sapi dari Madura sana. Walaupun kesan pertama terhadap tokoh utama, Arief, terlihat begitu kaku tapi saya mencoba untuk memberi kesempatan pada cerita dan juga karakter-karakternya untuk berkembang terlebih dahulu, ketimbang sibuk mencari-cari kesalahan sejak menit pertama. Porsi Arief tentu lebih dominan, kita bisa melihat bagaimana dia pintar menebak sapi mana yang akan menang dan sanggup memperbaiki truk ayahnya. Sayangnya, karena terlalu “pilih kasih”, film ini melupakan karakter-karakter lain, yang sebetulnya perlu juga diberi jatah lebih. Muslat, ayah Arief kurang begitu tergali chemistry-nya dengan anaknya, walaupun diberikan sedikit konflik berhubungan dengan sang Ibu, saya tidak bisa merasakan kesedihan atau hubungan ayah dan anak sebagaimana mestinya, sang ayah hanya “numpang lewat”, secepat dia pulang dan pergi bersama truknya. Kemudian muncul Cak Alul, yang sebetulnya pada akhirnya karakter ini menjadi tidak lagi penting, diporsikan (kemungkinan) untuk antagonis namun menghilang begitu saja bersama motor nyentrik-nya. Menempatkan Sudjiwo Tedjo untuk karakter ini pun saya rasa kurang tepat, aktingnya kemudian pun menjadi “maksa”.

Review Mestakung

Ibu Tari Hayat yang diceritakan begitu peduli dan memperhatikan bakat Arief juga tidak begitu disorot, sama seperti kehidupan sekolah Arief yang hanya tempelan, pokoknya dari beberapa adegan yang “memamerkan” kelebihan Arief, kita “dipaksa” menerima jika dia memang “anak Dewa”, selalu sempurna. Hasilnya ketika Arief meninggalkan tempat kelahirannya, Madura, untuk pergi ke Jakarta, bagian di awal tersebut mudah dilupakan karena tidak ada yang berkesan, termasuk karakter-karakter yang nantinya menghilang sementara ataupun permanen, kecuali momen karapan sapi yang saya akui menarik. Oke pindah ke Jakarta pun “Mestakung” pun memperkenalkan karakter-karakter tambahan, tapi percuma karena mereka pun lagi-lagi hanya tempelan, saya tidak tahu apa sebetulnya peran Clara Annabela (Dinda Hauw) di film ini. Kok agak setengah-setengah yah ingin menceritakan kalau Arief tuh suka sama Clara, belum lagi si Clara ini kebanyakan hanya diam, senyum-senyum, minim dialog. Niat untuk membumbui film dengan kisah “manis” pun gagal, karena justru menjadi hambar, untungnya ada bagian menyenangkan yang menceritakan persahabatan Muhammad Thamrin (Angga Putra) dengan Arief, sayang ada konflik yang dibuat-dibuat dengan karakter lain yang lagi-lagi “tidak niat”, tiba-tiba ribut tahu-tahu sudah baikan, mengingatkan saya dengan “Obama Anak Menteng”.

Mestakung yang pada awalnya fun pun lambat laun membosankan, padahal film ini ingin memperlihatkan jika fisika, pelajaran di sekolah yang saya akui menakutkan, bisa terlihat begitu menyenangkan. Film ini memang menyajikan beberapa trik fisika yang kemudian direspon dengan “kok bisa gitu yah”, tapi kok tidak dieksplor lebih banyak dan John De Rantau sayangnya lebih memilih mengemas bagian fisika yang seharusnya menarik dan menyenangkan menjadi bernuansa sekolahan, menontonnya seperti saya sedang duduk di dalam kelas dan mendengarkan “ocehan” Pak Tio Yohanes yang justru tidak membuat saya tertarik. Menuju ke penghujung cerita, Mestakung pun agak terburu-buru, bagian yang saya tunggu-tunggu sejak awal, yaitu tim olimpiade fisika berlomba pun ternyata disajikan tanpa ingin mengajak penonton untuk ikut masuk ke dalam keseruan lomba itu.

Mestakung sepertinya kekurangan “trik” untuk mengajak penonton masuk dalam cerita, fisika yang menjadi pondasi film ini pun kurang kuat menopang ceritanya, lomba fisika tingkat dunia yang ditunggu tidak lagi menarik karena dikemas terburu-buru, dan Sayef Muhammad Billah yang memerankan Arief, entah memang karakternya seperti itu, tapi saya melihatnya terlalu kaku, wajahnya kerap terlihat datar, saya ingin melihat karakter yang lebih enerjik, bisa membuat penonton bersemangat untuk ber-fisika-ria. Sayangnya karakter yang paling menyita perhatian justru datang dari tukang ketoprak, Indro Warkop sukses membuat film ini lebih menyenangkan, kemunculannya bagaikan waktu istirahat di sekolah, santai sejenak dari lelahnya mengikuti cerita Mestakung.

Rating 2.5 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Deathgasm (...
Review - Some Kind o...
Review - Warkop DKI ...
Review - Ouija: Orig...