Review: Johnny English Reborn

written by Rangga Adithia on October 20, 2011 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Comedy with one Comment

Review Johnny English Reborn

Tak akan ada asap bila tak ada api, jika tidak karena film pertama untung, sekuel pun mungkin tidak akan terjadi. Dengan bujet $40 juta , “Johnny English” sanggup mengeruk keuntungan berlipat-lipat hingga mengumpulkan pundi-pundi dolar, $160 juta. Nama Rowan Atkinson terbukti memang sukses menjual film ini, semua orang tampaknya cinta dengan Mr.Bean. Perannya sebagai Mr.Bean begitu melekat pada diri seorang Rowan Atkinson, tidaklah heran, walaupun “dipaksa” untuk merubah image sebagai super-spy dalam film “Johnny English” dan sekuelnya yang kali ini diberi embel-embel tambahan “Reborn”, topengnya sebagai Mr.Bean seperti sulit dilepaskan, kita selalu akan melihat Atkinson sebagai pria “lugu” yang mempunyai mobil mini cooper tersebut. Untuk urusan membuat penonton tertawa, Atkinson adalah orangnya, dia jagonya, aktor serba bisa, disuruh berlakon serius pun Atkinson mampu membawakannya dengan baik. Dalam “Johnny English Reborn” kita bisa melihat dua sisi seorang Mr.Bean, eh maksud saya Atkinson, di film ini dia tak hanya “wajib” lucu tapi juga di beberapa bagian tampil serius, tapi ujung-ujungnya hanya direspon oleh gelak tawa penonton.

Johnny English sedang galau karena misi sebelumnya yang berubah menjadi bencana, dia pun mengasingkan diri ke Tibet untuk mempelajari beladiri sekaligus menenangkan batinnya (serius sekali). Sedangkan di belahan dunia lain penjahat-penjahat internasional yang terdiri dari pembunuh profesional sedang melancarkan aksinya untuk membunuh perdana menteri China dan menyulut kekacauan global. Johnny English pun dipanggil kembali oleh MI7 untuk sebuah misi baru menghentikan gerombolan penjahat yang akan mengganggu kedamaian dunia. Pamela “Pegasus” Thornton (Gillian Anderson), bos di MI7 pun mentandemkan English dengan seorang agen junior, Tucker (Daniel Kaluuya), mereka langsung bergerak cepat menuju Hongkong untuk menemui seorang informan. Belum apa-apa English sudah memperlihatkan keahliannya sebagai agen yang culun, karena salah mengenali informan yang dia cari, tapi didepan Tucker walaupun berbuat salah, English tetap ingin terlihat benar. Tentu saja saya sebagai penonton tidak ingin si agen rahasia Johnny English ini  untuk menjadi film yang serius, dan film ini melakukan apa yang memang diinginkan penontonnya.

Review Johnny English Reborn

Tidak perlu memikirkan terlalu serius jika “Johnny English Reborn” punya cerita yang sepertinya hasil comot sana dan comot sini, usang, dan sudah pernah dipertontonkan berkali-kali oleh film-film bertema agen rahasia sebelumnya. Disutradarai oleh Oliver Parker, film ini toh memang tidak akan membiarkan penontonnya untuk serius sejak awal kita duduk di dalam bioskop. Nikmati saja setiap misi demi misi konyol yang diemban English untuk mengocok perut kita, serius itu yang saya lakukan, tidak peduli jika pada akhirnya cerita akan mudah ditebak, corny, ataupun segala macam hujatan yang membuat kritikus tampak cool karena mengejek-ngejek film ini. Well yang diperlukan hanya duduk manis, maka Johnny English pun akan melakukan yang terbaik untuk melepaskan stress dan membuat rahang kita sakit karena terlalu banyak tertawa, bahkan ada satu momen dimana Atkinson sukses membuat saya jumpalitan tertawa hingga mengeluarkan air mata (serius). Saya tidak akan mengatakan bagian paling lucu tersebut, tapi saya bisa katakan ini, sekuel ini lebih lucu dari film pertama dan tidak berlebihan.

Walaupun sudah dalam balutan “kostum” agen rahasia, Atkinson memang tidak terlepas dari bayang-bayang Mr.Bean, sesekali kita akan melihat sosok Bean dalam diri seorang Johnny English, gerakan-gerakan konyol ala Bean akan hadir disini, tidak banyak tapi cukup untuk membuat saya bilang “Mr.Bean banget…” (sambil tertawa). Agar semakin terlihat membodohi diri sendiri, English punya rekan yang lebih pintar, agen Tucker –lah yang nantinya bertanggung jawab menjadi penopang segala kelucuan dan kebodohan English, yang merasa sok pintar dan sok senior. Daniel Kaluuya ini jika dipikir-pikir lagi sekilas akan tampak seperti versi “halus” dari aktor Chris Tucker, yang kita kenal sebagai James Carter di seri “Rush Hour” bersama Jackie Chan. Sebenarnya “Johnny English Reborn” punya banyak karakter lain, termasuk Pegasus, pimpinan MI7, yang dilakonkan oleh Gillian Anderson (agen Scully di serial X-Files). Namun karakter-karakter tersebut ditempatkan hanya untuk “hilir mudik”, karena fokus film ini tentu ingin menonjolkan karakter English dan sebanyak-banyaknya memberikan porsi pada Atkinson untuk lebih “badut” dari badut. Jadi apakah ada karakter lain yang menyita perhatian dalam film ini? Yup ada, “The Killer Cleaner” (Pik-Sen Lim), seorang nenek yang berstatus pembunuh bayaran, lupakan Cataleya dan Evelyn Salt, mereka tidak ada apa-apanya.

“Johnny English Reborn” punya keseruan ala film-film James Bond, dalam soal aksi-aksi agen rahasia-nya, walaupun tidak terlalu serius dan tidak banyak mengumbar visual efek. Satu-satunya efek yang terasa dahsyat disini hanyalah efek menggelitik yang datangnya dari lawakan-lawakan Atkinson. Beberapa komedi memang tampak usang tapi Atkinson mampu memolesnya untuk tetap lucu, alhasil saya terhibur dari awal hingga akhir film. Didukung dengan para pemain yang cukup mendukung dan cerita yang ringan, Johnny English Reborn pun bergulir dengan asyik, nyaman untuk diikuti, dan sama sekali tidak membosankan. Kita tahu ini film komedi, tapi Oliver Parker tahu kapan harus melawak dan menempatkan serangkaian kebodohan Johnny English, agar nantinya tidak terkesan berlebihan bagi penonton. Ketika waktunya untuk serius, Oliver pun tetap mampu untuk menjaga mood penontonnya, terlalu lama serius pun tidak baik, setidaknya momen serius ini dipakai oleh saya untuk mengistirahatkan rahang yang sudah capek tertawa. Melihat kelucuan Rowan Atkinson saya jadi rindu dengan film-film Mr.Bean, biasanya saya geli jika mendengar kata sekuel kedua, tapi pengecualian untuk seri Johnny English, bolehlah kalau mau diteruskan ke film ketiga, kita butuh film aksi bodoh seperti ini.

Rating 3 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Iblis (2016...
Review - Cipali KM 1...
Review - Ouija: Orig...
Review - The Girl wi...