Turkish Film Festival 2011: Eyyvah eyvah

written by Rangga Adithia on October 2, 2011 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Comedy with no comments

Review Eyyvah eyvah

Walau hanya mempertontonkan empat film dan berlangsung dua hari, sama seperti tahun lalu, “Turkish Film Festival” jadi salah-satu festival yang wajib saya datangi. Daya tarik festival ini, tentu saja selain karena menghadirkan keunikan sinema Turki, saya pikir juga kapan lagi bisa menonton film-film yang pastinya susah dicari DVD-nya tersebut di layar lebar. Well, “Turkish Film Festival” bisa dibilang salah-satu “oase” ditengah gempuran film-film Hollywood, sebuah alternatif bagi yang ingin menonton film-film yang berbeda. Senada dengan 2010, tahun ini, festival yang tidak memungut bayaran untuk tiketnya ini kembali menghadirkan genre komedi, ya salah-satunya “Eyyvah eyvah”, yang di Turki sendiri sudah rilis pada Februari 2010. Disutradarai oleh Hakan Algül, film yang diklaim paling laris di negaranya ini, nantinya tidak hanya menyodorkan kita adegan-adegan yang lucu, tetepi juga membalutnya dengan drama yang “manis” dan juga thriller yang secara mengejutkan asyik, makin menambah hiburan ke dalam film ini.

“Eyyvah eyvah” memperkenalkan kita dengan Huseyin Badem (Ata Demirer), sekilas ia mengingatkan saya dengan aktor asal Inggris, Nick Frost, apalagi ditambah “keluguaan”-nya yang bisa dibilang agak mirip, jadi selama menonton, saya selalu menyebut orang ini dengan panggilan Nick Frost versi Turki. Huseyin sendiri tinggal di kampung bersama kakek dan neneknya, pekerjaan sehari-harinya bermain clarinet, sejenis alat musik tiup, di sebuah band yang biasa dipanggil di berbagai hajatan. Huseyin yang bertubuh gemuk pun akhirnya menemukan jodohnya, seorang suster di kampungnya yang selama ini ia cintai, bernama Mujgan. Sayangnya pertemuan mereka cukup singkat, karena Huseyin baru saja menemukan bahwa ternyata dia selama ini mempunyai ayah kandung, yang dirahasiakan oleh kakek dan neneknya, bilang kalau ayahnya sudah lama mati. Huseyin pun langsung pergi ke Istambul dan meninggalkan Mujgan. Bermodalkan sebuah foto dan surat dengan alamat lama, Huseyin pun kesulitan menemukan keberadaannya sang ayah. Selagi sibuk mencari ayahnya, Huseyin tinggal di rumah pamannya, seorang penjahit yang punya hobi ke “bank”. Ayahnya belum juga ditemukan, Huseyin justru akan dipertemukan kejadian-kejadian yang unik terlebih dahulu selama di Istambul, termasuk bertemu dengan seorang wanita penyanyi bar yang esentrik, Firuzan (Demet Akbağ).

“Eyyvah eyvah” dengan kelucuannya tak pelak jadi sumber sakit perut yang mujarab. Ya awalnya film yang ditulis oleh Ata Demirer ini memang akan menyajikan drama sebagai pemanisnya, menceritakan kisah cinta antara Huseyin dan Mujgan. Tapi dengan opening yang seperti itu, kita tahu film ini bukanlah film yang seserius itu, perlahan namun pasti, sambil membangun ceritanya, Hakan Algül juga sudah menyiapkan berbagai adegan lucu yang nantinya akan “menghajar” saya hingga berguling-guling tertawa. Komedi-komedi tersebut pun semakin disempurnakan dengan peran Ata didalamnya, Huseyin di film ini betul-betul juara dalam memancing penonton untuk tertawa. Tidak perlu melakukan apa-apa, Huseyin sebenarnya sudah lucu dengan muka polosnya tersebut, si Nick Frost dari Turki ini juga mampu menyemburkan dialog-dialog kocak dan bertingkah laku jenaka, yang pada akhirnya selalu direspon gelak tawa.

Review Eyyvah eyvah

Ditandemkan dengan Demet Akbağ, yang berperan sebagai Firuzan, kelucuan-kelucuan di film ini pun makin berwarna. Selagi kita diajak berputar-putar, menelusuri gang-gang kecil di Istambul untuk mencari keberadaan ayah Huseyin, Hakan Algül tampaknya tidak pernah kehabisan bahan untuk menggelitik penontonnya dan komedi yang dihadirkan di film ini pun semakin “sinting” saja. Asyik menyuguhkan komedi demi komedi yang lucu, tidak membuat Hakan Algül akhirnya lupa dengan cerita, “Eyyvah eyvah” bergulir tidak membosankan, ceritanya yang ringan begitu nyaman untuk diikuti, apalagi ketika dalam dramanya juga diselipkan beberapa ketegangan yang makin membuat film ini semakin colorful dalam menyajikan ceritanya. Konflik demi konflik silih berganti datang, begitu juga dengan drama pencarian ayah yang terus mengalir dengan fun. Hakan Algül mampu mengatur semua genre yang hadir untuk tidak saling tumpang tindih, tapi justru saling mendukung, dengan komedi diberikan porsi yang lebih besar tentunya.

Hadir di pemutaran kedua pada sore hari, “Eyyvah eyvah” benar-benar telah menghibur penonton Blitzmegaplex Grand Indonesia kemarin, itu terlihat dari suara tawa yang tidak pernah berhenti, apalagi saat Huseyin mulai kembali bertingkah. Saya yang duduk pada baris di belakang pun sampai nangis menonton film ini, bukan…bukan karena sedih, yah walau ada momen-momen yang mengharukan juga nantinya, tapi saking lucunya, ada satu momen dimana Firuzan dan Huseyin harus mengelabui gangster dan adegan tersebut sukses membuat saya ngakak sampai mengeluarkan air mata. Nick Frost…eh Ata Demirer tahu sekali bagaimana menghibur penontonnya dengan kebodohan-kebodohannya yang cerdas itu. Tidak peduli pada akhirnya “Eyyvah eyvah” kadang terlihat klise, Hakan toh sanggup membuatnya untuk tidak murahan dan sebaliknya menjadikan film komedi ini berhasil, menghibur dan tokcer menghilangkan stress. Jika tahun lalu ada “Vizontele” di jajaran film yang dihadirkan “Turkish Film Festival”, tahun ini film serupa hadir lewat “Eyyvah eyvah”, yang sama-sama sukses jadi pengocok perut.

Rating 3.5 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Cipali KM 1...
Review - The Wailing...
Review - The Girl wi...