Review: Cars 2

written by Rangga Adithia on October 12, 2011 in Animation and CinemaTherapy and Hollywood with 5 comments

Review Cars 2

Jika mau dibanding-bandingkan, dari deretan film animasi yang sudah dirilis Pixar, saya akui “Cars” memang berada di urutan paling bawah. Tapi bukan berarti mobil-mobil yang bisa ngomong itu saya acuhkan, saya suka semua film Pixar, sebenarnya tidak mau juga mengurut-urutkan mana yang paling bagus dan jelek, menurut saya masing-masing rilisan Pixar punya kelebihan dan keunikannya tersendiri, sekaligus balutan pesan yang ingin disampaikan, tentu saja untuk kualitas animasi, semua juara dan memuaskan mata para penggemar animasi. Pixar memang tidak pernah bikin saya kecewa untuk urusan cerita dan gambar, termasuk “Cars”. Tapi entah kenapa setelah Pixar sukses dengan sekuel-sekuel “Toy Story”, mereka justru memilih melanjutkan kisah si mobil balap nascar, Lightning McQueen, dalam sebuah sekuel berjudul “Cars 2”. Dirasa tidak perlu tapi kehadiran film baru dari studio animasi yang bermarkas di California ini, sepertinya sayang untuk dilewatkan, lagipula ini Pixar kan. Sayangnya berbeda dengan respon yang didapat oleh Woody dan Buzz, “Cars 2” sebaliknya mendapatkan kritikan “pedas” yang jarang film-film Pixar dapatkan, termasuk untuk pertama kalinya memperoleh embel-embel “rotten” di situs rotten tomatoes.

Well, saya tidak peduli sebenarnya dengan segala kritik yang dilayangkan kepada film yang disutradarai kembali oleh John Lasseter dan sekarang bersama dengan Brad Lewis ini, saya menonton untuk mendapatkan hiburan dan “Cars 2” dari sudut pandang yang berbeda masih menawarkan itu, walau jujur saja feel yang biasanya saya rasakan ketika menonton produk Pixar, agak kurang terasa disini, tapi untuk urusan “keajaiban” khas Pixar, “Cars 2” masih bisa dibilang memiliki sentuhan magic tersebut, khususnya di bagian animasi-nya. Berbicara soal gambar, film ini betul-betul eye-candy, apalagi ketika kita diajak jalan-jalan ke kota-kota besar seperti Tokyo dan Paris. Kali ini cerita memang tidak lagi berfokus pada Radiator Springs, Lightning McQueen (Owen Wilson) yang merupakan juara empat kali kejuaraan balap “Piston Cup” berpartisipasi dalam sebuah balap mobil bernama “World Grand Prix”. McQueen tentu saja memboyong teman-teman lamanya untuk menjadi kru, yup termasuk si mobil derek karatan yang jadi sahabat baiknya, Mater (Larry the Cable). Tapi dibalik balapan yang diikuti oleh mobil-mobil balap hebat ini, ada sekelompok penjahat pimpinan Professor Zündapp yang ingin melihat balapan tersebut hancur. Semua harap tenang, karena disana ada agen Mater, apa “agen”? yup Mater bersama dua agen rahasia Inggris, Finn McMissile (Michael Caine) dan Holley Shiftwell (Emily Mortimer) akan berusaha menghentikan aksi jahat Zündapp.

McQueen tetap jadi sebuah mobil balap dengan aksi-aksi adu cepat di sirkuit, semua tentang dia sudah dibahas tuntas di film pertama, tidak heran jika “Cars 2” kemudian menggeser lampu sorotnya ke arah Mater. Karakter yang bisa dikatakan paling unik di film Cars ini sebelumnya hanya jadi bayang-bayang McQueen, tapi sekarang mobil yang bangga dengan penyok di body mobilnya ini kedapatan porsi yang lebih besar. Bahkan tidak terpikirkan sebelumnya jika “Cars 2” akan jadi seperti film-film spy ala James Bond, apalagi Mater yang agak “lugu” itu dipaksa bermanuver dan berakrobat menghadapi panjahat. Dari segi cerita memang tidak ada yang bisa ditonjolkan, Pixar sepertinya sedang malas dan hanya mengadopsi kisah-kisah agen rahasia yang sudah ada, kemudian merakitnya untuk pas dimainkan oleh mobil-mobil yang bisa berbicara di dunia mobil-mobilan tentu saja. Untuk sebuah sekuel, “Cars 2” menawarkan apa yang memang film sekuel wajib ada, sesuatu yang “lebih” ketimbang predesesornya, itu terlihat ketika kita dibawa keluar dari Radiator Springs dan melihat ternyata dunia “Cars” ini begitu mempesona, lucu, dan menggemaskan.

Review Cars 2

Banyak hal-hal lucu di “Cars 2” yang sanggup membuat kita senyum-senyum ganteng seperti saya ini (maaf), ataupun tertawa geli melihat tingkah pola Mater, yang sekali lagi memang eksis sebagai pemancing tawa yang jitu. Jika suka dengan karakter yang satu ini di film pertama, mungkin akan lebih suka lagi dengan Mater di film kedua. Di “Cars 2”, selain Mater yang pintar menghibur, dunia yang dibuat oleh para animator Pixar juga tidak kalah untuk menghipnotis kita agar terhibur puas, setidaknya ketika kita melihat kota-kota dipenuhi beraneka mobil-mobil lucu yang hidup, cerita yang agak “cetek” itu bisa dilupakan sementara waktu. Kemampuan studio Pixar dalam menyajikan animasi yang berkualitas memang bisa diandalkan, yah visualnya masih mampu memanjakan mata dengan detil animasi yang juara. Sambil mengikuti cerita yang bergulir dengan cepat, tidak membosankan dan tidak juga mengesankan, balap-balapan yang dihadirkan juga seru, walaupun tidak jadi fokus film ini, karena aksi-aksi Mater, Finn, dan Holly dalam meringkus penjahat tetap jadi sorotan di “Cars 2”.

Film Pixar yang mudah dilupakan! selama 106 menit, saya memang diajak jalan-jalan seru berpetualang bersama Mater dan kawan-kawan, ikut McQueen juga merasakan sensasi balapan malam di Tokyo, sekilas mengingatkan dengan film “Speed Racer”, dan juga balapan jalanan di Italia. Porsi balapan dan “agen-agenan” terbukti sanggup menghadirkan hiburan, “Cars 2” hanya perlu dinikmati tanpa harus memikirkan lagi jika ceritanya tidak sesuai dengan harapan, maka film ini pun akan melakukan tugas dengan baik untuk membuat penontonnya terhibur. Pixar memang sedang “bermain” kali ini, tapi bukan berarti hasil animasinya pun jadi ngasal, sayangnya kemampuan mereka untuk membuat takjub penonton tidak terulang disini, kenikmatan sesaat yang hanya terbatas di dalam studio bioskop saja. Ketika kita keluar, semua tampak hilang begitu saja, banyak karakter yang juga jadi sia-sia, termasuk juga karakter-karakter lama yang sepertinya hanya numpang lewat saja, nyetor muka dan menghilang lagi. “Cars 2” memang tidak jelek, tapi tidak seperti menonton film-film Pixar sebelumnya, ada yang kurang, tidak saja dari sisi cerita tapi keajaiban Pixar sekarang hanya terlihat dalam visual, itu saja, tanpa mengajak hati untuk “menumpang”, film Pixar yang terlalu biasa.

Rating 3 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Green I...
Review - A Copy of M...
Review - Ghost Diary...
Review - Blair Witch...