Review: The Hangover Part II

written by Rangga Adithia on September 21, 2011 in CinemaTherapy and Comedy and Hollywood with no comments

Review The Hangover Part II

Stu (Ed Helms), Phil (Bradley Cooper), dan Alan (Zach Galifianakis) rela jatuh ke dalam “lubang” yang sama dua kali, tentu demi kembali mendulang sukses seperti film pertama, “The Hangover” (2009) yang mampu merauk 400an juta dolar dari bujetnya yang hanya $35 juta. Tidak saja sukses dari segi komersil tapi juga direspon positif dari para kritikus dunia, termasuk memenangkan penghargaan film terbaik kategori komedi dan musikal di Golden Globe Award. Jadi amat sangatlah wajar jika sebuah sekuel muncul di tahun 2011 masih dengan deretan pemain yang hadir di film pertama, Doug (Justin Bartha) yang dulu pernah hilang di Las Vegas juga kembali meramaikan film yang sekali lagi disutradarai oleh Todd Phillips. Pertanyaanya sekarang, apalagi yang akan ditawarkan sekuelnya? Ya sebuah sekuel tentu punya kewajiban menyajikan sesuatu yang berbeda, “The Hangover Part II” pastinya akan putar otak bagaimana formula “tertawa di atas penderitaan orang lain” bisa kembali menggelitik syaraf-syaraf penontonnya di bioskop.

Sayangnya “The Hangover Part II” betul-betul jatuh ke lubang yang sama, bedanya kali ini lubang tersebut dipindah ke Thailand. Kenapa harus jauh-jauh ke negeri gajah putih tersebut? Karena sekarang giliran Stu yang akan melangsungkan pernikahan, dan sebagai sahabat baik, dia mengundang juga Phil dan Doug. Awalnya dia segan untuk mengajak Alan, mengingat apa yang sudah dia perbuat di bachelor party-nya Doug di Las Vegas, kalian yang sudah menonton film pertama pasti “kejahatan” Alan dan efek sampingnya. Akhirnya karena merasa kasihan, Alan pun diundang dan mereka bersama-sama terbang ke Thailand, dengan tambahan satu orang, Teddy (Mason Lee), adik dari calon istri Stu, Lauren (Jamie Chung). Sebelum acara pernikahan, Stu yang menolak untuk mengadakan pesta bujang karena trauma, dipaksa untuk ikut bersenang-senang dengan Phil, Alan, dan juga Teddy, bukan pesta besar hanya minum-minum di pinggir pantai dengan hiasan api unggun. Semua diawali dengan sebuah tos, seperti film pertama, Phil dan kawan-kawan mengangkat minuman, tentunya minuman yang sudah dinyatakan “bersih” dari obat-obat milik Alan, kalau-kalau dia berniat iseng lagi. Dejavu, keesokan paginya Stu, Phil dan Alan bangun di sebuah kamar hotel murahan, bertanya-tanya dimana mereka.

The Wolfpack Is Back! dan kejadian di Las Vegas terulang lagi, formula yang sama tapi dengan kemasan berbeda, gedung-gedung hotel mewah dan kasino-kasino berhias lampu berkelap-kelip berganti wajah dengan lanskap perkotaan Bangkok, yang bisa dikatakan lebih “liar”. Ada ungkapan jika seseorang hilang di kota tersebut, maka sudah tidak ada harapan lagi, mungkin Bangkok sudah memilikinya, dalam artian diculik gangster atau dibunuh. Jika di film pertama yang hilang adalah Doug, sekarang giliran Teddy, dan Stu pun panik karena pernikahannya terancam akan hancur jika calon adik iparnya tersebut tidak ditemukan. Selanjutnya sudah bisa ditebak, serangkaian nasib sial dan kesengsaraan kembali dihadapi oleh The Wolfpack ini untuk menemukan Teddy. “The Hangover Part II” memang tidak begitu saja meng-copy-paste mentah-mentah kelucuan yang ada pada film pertama, tapi pola film ini bercerita tidak berbeda. Jadi tidak heran kalau saya pada akhirnya merasa seperti bukan menonton film sekuel, tapi remake, mendaur-ulang film pertama yang sudah sukses, hanya mengganti packaging-nya saja dengan Bangkok. Todd Phillips bersama dua penulis Scot Armstrong dan Craig Mazin, sepertinya tidak berani bertaruh untuk menyajikan cerita yang beda, sulit memang (mungkin) membuat formula yang lebih cerdas dari film pertama, makanya sekuel ini dirasa tidak perlu.

Review The Hangover Part II

Terlepas dari miripnya urutan kejadian yang akan dialami oleh The Wolfpack, seperti pengulangan pola film pertama, “The Hangover Part II” saya akui masih lucu, setiap joke demi joke yang diselipkan diantara kesialan-kesialan Stu dan kawan-kawan di Bangkok masih mampu membuat saya tertawa. Khususnya Zach Galifianakis, sebagai Alan yang lugu dan “unik”, dia sekali lagi paling menonjol, orang yang paling lucu, dan tingkahnya yang bodoh-bodoh-jenius selalu sukses membuat rahang ini pegal karena tidak berhenti tertawa setiap Alan melakukan “aksinya”. Komedi yang ditawarkan juga semakin “kotor” dan bisa dibilang tingkat kasar-nya ditingkatkan dua kali lipat, apalagi film ini kembali menghadirkan Ken Jeong, masih dengan performa komikalnya untuk memancing tawa penonton, ya beberapa masih bisa ditolerir dan menghasilkan tawa, tapi kadang terlalu berlebihan dan justru tidak lagi lucu seperti Leslie Chow si gangster “mungil” pada film pertama. The Wolfpack terbukti memang tidak “impoten” dalam urusan mengocok perut, tapi justru yang paling mencuri perhatian di film ini bukanlah mereka, tetapi monyet, ya bukan monyet biasa, seekor capuchin yang doyan merokok dan akan menemani Stu dan kawan-kawan menelusuri asingnya, liarnya, dan uniknya kota Bangkok.

Dipilihnya Bangkok adalah sebuah langkah yang tepat, mengganti modern-nya kota Las Vegas, menjadi kota yang lebih eksotis dengan aroma Asia-nya yang kental. Apalagi film ini juga tidak menyia-nyiakan keindahan lanskap pantai di Thailand, untuk dimanfaatkan sebagai penyedap visual, memanjakan mata penonton pada akhirnya. Saya sesaat ikutan larut, sedikit hilang ingatan kalau cerita film ini “mirip” dengan predesesornya, tetapi ya jika dilihat lewat kacamata orang yang belum pernah melihat film pertama atau sebuah film yang berdiri sendiri tanpa embel-embel “sekuel”, wah “The Hangover Part II” akan jadi tontonan yang luar biasa, tapi karena sudah lebih dahulu ada “The Hangover”, maaf kata “luar” tersebut saya tarik kembali dan hanya menyisakan “biasa”. Karakter dalam film ini pun sama sekali tidak berkembang, The Wolfpack adalah kumpulan orang-orang sial yang pernah kita kenal di Las Vegas, memang sih disisi lain saya tidak mau mereka berubah, termasuk Alan, biarkan mereka seperti itu tetap lucu seperti yang saya kenal di film pertama. “The Hangover Part II” adalah sebuah sekuel yang cukup ambisius dengan formula yang sayangnya “menyontek” apa yang pernah dilakukan film pertama. Walau begitu, penderitaan The Wolfpack masih sanggup mengajak kita tertawa dan terbukti tuh pundi-pundi uang masing mengalir deras. Jadi sekarang tinggal menunggu saja kapan ada film ketiga, entah pernikahan siapa lagi dan siapa yang hilang…

Rating 3 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Ada Apa Den...
Review - 3 Srikandi
Review - Munafik (20...
Review - Warkop DKI ...