Review: Rise of the Planet of the Apes

written by Rangga Adithia on September 11, 2011 in CinemaTherapy and Hollywood and SciFi with 2 comments

Review Rise of the Planet of the Apes

“Caesar, pasti orang yang memakai kostum simpanse”, kira-kira seperti itulah komentar seorang penonton yang duduk tepat dibelakang saya, kenyataannya Caesar bukanlah hasil kreasi efek make-up, bukan juga simpanse betulan yang dilatih untuk bermain di film ini. Caesar dan kebanyakan kera-kera yang akan kita lihat disini merupakan buah karya dari tangan-tangan handal para seniman digital, yup berbeda dengan versi Planet of the Apes sebelumnya yang “memaksa” aktornya untuk memakai riasan kera, kali ini bisa dibilang versi reboot-nya memilih untuk memanfaatkan teknologi CGI yang lebih praktis. Bukan sembarang studio spesial efek yang bertanggung jawab untuk membuat kera-kera tersebut nampak asli, Weta Digital—perusahaan yang berbasis di Selandia Baru dan dimiliki oleh Peter Jackson—yang sudah memenangkan lima Oscar untuk kategori visual efek terbaik, termasuk film trilogi “The Lord of the Rings”, berada dibalik semua keajaiban itu. Tetapi pujian juga pantas disematkan pada Andy Serkis, yang berhasil menghidupkan karakter Caesar tersebut, Serkis kembali melakukan sesuatu yang hebat setelah dia sukses dengan tokoh Gollum. Jika bukan karena Serkis, Caesar mungkin tidak akan seperti Caesar yang kita lihat di “Rise of the Planet of the Apes” sekarang.

Siapa Caesar? Dia seekor simpanse yang dirawat oleh seorang ilmuwan, Will Rodman (James Franco), yang bekerja di sebuah perusahaan bernama Gen-Sys. Selama lima tahun setengah, Will sibuk mengembangkan obat untuk penyakit Alzheimer, sebuah penyakit yang menyerang sel-sel otak, sehingga otak menjadi mengecil, belakangan kita menjadi tahu motivasi Will untuk menemukan obat yang tepat adalah ayahnya sendiri, yang juga penderita Alzheimer. Sebagai kelinci percobaan, obat yang dikembangkan oleh Will lebih dulu diuji coba pada seekor simpanse dan salah-satu simpanse bernama Bright Eyes, hasil eksperimennya, lalu memperlihatkan kemajuan yang pesat dalam soal kecerdasaan. Will pun yakin bahwa dia telah menemukan obat untuk Alzheimer, tetapi keberhasilannya dirusak oleh tingkah laku Bright Eyes yang secara tiba-tiba menjadi liar. Proyek tersebut pun akhirnya ditutup dan Will akhirnya menemukan ternyata kelakuan aneh Bright Eyes bukan disebabkan karena efek samping obatnya, tetapi karena simpanse berjenis kelamin perempuan itu ingin melindungi anaknya yang baru lahir. Will membawa bayi simpanse yang kemudian diberi nama Caesar tersebut ke rumah, merawatnya dan dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, bayi tersebut berubah menjadi simpanse yang semakin cerdas.

“Rise of the Planet of the Apes” (ROTPOTA) tidak begitu saja membiarkan saya duduk diam hanya sebagai penonton dari awal, film ini perlahan ingin mengajak penontonnya untuk terlibat secara emosi, yup chemistry yang manis tersebut sudah coba dibangun oleh Rupert Wyatt semenjak film dimulai. Lihat saja adegan pembuka film ini sudah disiapkan untuk membuat saya semakin mendekat, layaknya simpanse yang diberi umpan, lalu pada akhirnya “terkurung” dalam kandang. Film yang punya judul konyol ini juga melakukan hal yang sama, memberi kita umpan dengan memperlihatkan betapa dahsyatnya efek CGI yang diwakili oleh para gerombolan simpanse di awal film, keajaiban itu makin terlihat jelas ketika kamera menyorot raut wajah Bright Eyes, ”gila kaya monyet beneran”, dan itu belum apa-apa, sampai akhirnya saya diperkenalkan dengan Caesar, simpanse cerdas yang dipelihara oleh Will Rodman dan kemudian menjadi bagian dari keluarga, apalagi ayahnya yang terlihat begitu sayang dengan simpanse yang ia beri nama Caesar tersebut.

Review Rise of the Planet of the Apes

Mencari-cari dimana letak kecacatan Caesar memang hanya membuang waktu, orang-orang “sinting” di Weta Digital sudah membuat simpanse yang sangat-sangat simpanse, meyakinkan, bukan saja mendesainnya sebagai kera, tetapi kera yang cerdas dan seperti apa dia nantinya akan berperilaku hampir sama dengan manusia. Sesekali saya memang melihat ketimpangan CGI pada Caesar, namun tidak terlalu peduli, karena Caesar sudah sukses membuat saya terhipnotis. Inilah yang menjadi kunci keberhasilan Weta Digital dalam film ini, tidak hanya membuat simpanse “doang”, tapi benar-benar hidup dan gila-nya membuatnya mempunyai emosi yang tersampaikan dengan baik kepada penonton. Sekali lagi karena memanfaatkan teknologi motion capture-lah semua ini bisa terjadi, tapi tentu saja karena “korban” motion capture tersebut adalah Andy Serkis, sang Gollum di “The Lord of the Rings” tersebut mampu memberikan ruh pada Caesar, menghidupkan hasil kreasi CGI ini untuk mempunyai emosi dan menjadikannya aktor yang hebat dalam film ini. Caesar-lah yang membuat ROTPOTA memiliki ikatan emosi yang kuat dengan saya yang duduk sambil takjub melihat ajaibnya kera-kera ciptaan komputer tersebut.

“Gw jadi pengen membeli bayi simpanse”, curhat saya kepada teman disebelah yang juga sama-sama menonton ROTPOTA pada penayangan midnight, di salah-satu bioskop yang memang sering dijadikan tempat kami menonton film-film pilihan yang tayang sebelum penayangan reguler-nya, alias midnight. “klo ketemu satu, gw bagi yah”, jawaban teman saya sambil lalu kembali menonton dengan serius. ROTPOTA memang bukan “The Tree of Life”, tapi ini tipikal film yang menurut saya tanpa sadar kita tidak mau melepaskan pandangan kita dari layar, termasuk saya pun begitu. Seperti juga Will Rodman yang begitu sayang dengan Caesar, saya dengan kata lain begitu sayang dengan film ini dan tidak mau melewatkan setiap adegannya. Durasinya yang hampir dua jam justru tidak terasa sama-sekali, jika bosan tentu biasanya saya akan sesekali mengintip apa yang ada di timeline akun twitter saya, tapi ROTPOTA tidak mengijinkan saya melakukan itu, dan handphone ini pun betah berlama-lama di dalam kantong celana.

Keinginan saya untuk memiliki bayi simpanse mungkin tidak akan pernah terjadi, well tapi ROTPOTA sudah membuat saya terhibur dengan keindahan visual efeknya. Yah apa yang film ini sudah ciptakan dalam bentuk Caesar, tidak hanya membuat saya takjub tapi juga mengikut-sertakan hati kedalam pengalaman menonton saya. Kita melihatnya kecil, melihatnya bermain, lucu dan kemudian berkembang menjadi Caesar dewasa. Rupert dengan apik sanggup memandu saya untuk perlahan terpikat, mengikat ikatan chemistry yang kuat, dan mengumpulkan potongan-potongan simpati yang satu demi satu diberikan oleh Caesar… lihatlah emosi yang terpancar dari wajah simpanse tersebut, sedang marah ataupun sedih kita akan langsung mengetahuinya. Saya yakin Caesar benar-benar dibuat dengan cinta, makanya hasilnya pun sempurna. Begitu juga dengan kera-kera digital di film ini, salah-satunya yang menarik perhatian saya adalah Maurice, seekor orangutan yang render-nya begitu cantik, lihat saja bulu-bulu itu begitu “menggoda” mata. CGI di film ini benar-benar luar biasa, seperti menempatkan hewan-hewan primata yang aslinya.

Oke Caesar dan kawan-kawan bangsa keranya sudah sukses menghipnotis saya, Rupert Wyatt pun tampil percaya diri menceritakan setiap adegan demi adegan dalam film yang ceritanya ditulis oleh Rick Jaffa dan Amanda Silver ini. Cerita yang tidak punya waktu untuk basa-basi dengan alur yang bisa dibilang “aman”, membuat ROTPOTA terasa jadi tontonan yang begitu nyaman, pada akhirnya rasa bosan itu sepertinya menjauhi film ini jauh-jauh. Setiap bagian ceritanya, selalu mampu diceritakan dengan menarik dan Rupert dengan lihai mampu mengesekusi setiap kejutannya dengan sangat baik. Dari Jajaran pemainnya yang bukan CGI pun terlihat sanggup menampilkan permainan akting yang baik, walau dengan lawan main yang tidak real. Khususnya James Franco, walaupun harus berbagi porsi peran dengan aktor CGI, masih terbilang bisa memainkan perannya dengan baik, walaupun karakternya bisa dibilang biasa saja. Franco dengan baik mampu berbagi apa yang dia rasakan, termasuk ikatan batinnya dengan Caesar. ROTPOTA pun semakin “bangkit” dan menonjol berkat lantunan score indah yang disuguhkan oleh Patrick Doyle. Musiknya menjadi teman yang sangat tepat, mood penonton pun dengan pas sanggup diatur oleh iringan musik Patrick, yang sebelumnya juga terlibat dalam pembuatan score untuk film superhero Marvel “Thor” ini.

ROTPOTA jelas adalah salah-satu film terbaik tahun ini dan jelas sekali sebuah film yang memiliki “hati” didalamnya. Caesar, si simpanse cerdas sudah sukses membuat saya terpesona, dengan balutan CGI yang menutupi rangka kesuksesan sesungguhnya dari karakter ini, yaitu kehebatan Andy Serkis dalam menjiwai perannya dengan maksimal. Walaupun pada akhirnya kita tidak lagi bisa melihat wajah aslinya di layar lebar, berganti dengan wajah berbulu Caesar, emosi yang memang ingin disampaikan oleh akting Serkis sanggup terbaca dengan sangat baik oleh penonton, itu juga didukung oleh polesan digital yang super detil. “Rise of the Planet of the Apes” tak disangka menjadi sajian kisah tentang kera-kera pemberontak yang begitu menghibur, dari porsi drama yang menyentuh sampai action­-nya yang menegangkan. Melihat film ini sebenarnya mengingatkan saya dengan film-film bertema zombie, bedanya kali ini semua mayat hidup tak punya otak tersebut digantikan perannya menjadi hewan-hewan berbulu cerdas, semua orang berlarian bukan karena takut tergigit tetapi menjauh karena tidak ingin dilempar oleh tangan-tangan besar para gorila yang berlarian. Seperti halnya film Batman, “Rise of the Planet of the Apes” terbukti adalah reboot yang berhasil, jadi tidak sabar menunggu kelanjutan kisah Caesar dan para kera dalam sekuelnya.

Rating 4 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Invitat...
Review - Munafik (20...
Review - Dukun Linta...
Review - Telaga Angk...