Review: Masih Bukan Cinta Biasa

written by Rangga Adithia on September 16, 2011 in Asian Film and CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with 2 comments

Review Masih Bukan Cinta Biasa

Seorang anak muda penuh tato dengan dandanan ala rocker, bernama Vino (Axel), tiba-tiba datang mengetuk rumah Tommy (Ferdy Taher). Vino mengaku jika dia adalah anak kandungnya, kejadian ini tidak hanya membuat Tommy kaget tapi juga membuat Lintang (Wulan Guritno), istrinya naik darah. Sebenarnya ini bukan kali pertama Tommy, yang sekarang sudah meninggalkan dunia “suram”-nya semasa menjadi rocker dulu, didatangi seseorang yang mengaku anaknya. Nikita (Olivia Jensen) yang tidak lain adalah anak dia dan Lintang, dulu juga melakukan hal yang serupa, tapi itu tidak terjadi di film ini tetapi ada dalam cerita di film pertama “Bukan Cinta Biasa”. Tommy pun menerima Vino yang statusnya belum jelas tersebut, untuk tinggal di rumahnya, sambil dia mencari tahu apa betul Vino itu anaknya. Kehadiran Vino tentu saja membuat keadaan rumah yang pada awalnya damai menjadi kacau balau, belum lagi Lintang yang tidak suka Vino berada di rumahnya. Tommy yang pengangguran sejak cabut dari “The Boxis”, band-nya, kali ini benar-benar dibuat pusing tujuh keliling, tidak hanya karena sikap Vino yang liar, seperti tidak punya aturan, tapi juga mempertahankan kehidupan keluarga dan rumah tangga.

“Masih Bukan Cinta Biasa”, seperti juga judul filmnya yang hanya menambahkan kata-kata “masih” tersebut, nantinya sekuel yang disutradarai oleh Benni Setiawan, yang juga menyutradarai film pertama ini, tidak akan menawarkan sesuatu yang baru, formula yang sama akan dipakai untuk film kedua ini, yah bedanya sekarang Nikita yang sebelumnya menjadi tokoh sentral akan mengalah, untuk memberi jalan pada Vino tampil membawa kisah yang serupa tapi tak sama. Mengawali jalan cerita dengan benar, saya akui film ini mampu membuat saya “betah”, kehadiran Vino yang dari semenjak muncul memang bisa dikatakan annoying juga dirasa masih dalam tahap wajar, karena perannya di film ini pun difungsikan tidak saja membuat Tommy pusing, tapi membuat penonton juga ikut serta dalam cerita, ikut-ikutan jengkel dengan tingkah pola Vino yang bikin geram.

Errr… sayangnya level betah saya menurun sejalan dengan perkembangan cerita dan tiap konflik yang satu-persatu menyelip diantara keluarga rocker insaf ini. Dari yang awalnya fokus duduk manis di bangku deretan agak depan, memantau kegalauan Tommy yang berusaha membuat Vino lebih baik dan mencegah hancurnya keharmonisan keluarga, dan menuju paruh kedua saya mulai bergerak gerah, walaupun tetap bertahan menikmati apa yang sedang disajikan Benni. Ketika cerita dibiarkan bergulir tidak terlalu menarik dan konflik pun digelar begitu klise, karakter demi karakter dalam film ini juga ikut-ikutan tidak diperhatikan, Tommy, Vino, dan yang lain seperti terjebak dalam monotonnya jalan cerita yang tidak berkembang, mereka juga tidak dikembangkan dengan maksimal. Vino apalagi, baiklah sudah cukup membuat jengkel, setiap orang punya batas toleransi yang berbeda, saya makin terganggu ketika karakter yang satu ini tetap saja begitu-begitu saja. dibiarkan untuk tidak stabil… penonton pun akhirnya sulit untuk bersimpati pada Vino, seorang anak labil yang kecewa dengan ayahnya/Tommy yang selama ini dibayangannya adalah rocker sejati, tetapi kenyataannya adalah seorang suami rumah tangga yang sangat “tunduk” pada istri, pekerjaannya bukan lagi memegang mic tetapi pisau dapur, memasak dan beli sayuran setiap pagi…wajar jika dia sering jadi ejekan Vino.

Review Masih Bukan Cinta Biasa

Akting juga jadi masalah di film ini, Axel Andaviar, anak dari gitaris band rif, Ovie, yang disini memerankan Vino, memang sangat cocok untuk karakter yang mengaku anak dari Tommy tersebut, tampilan rocker-nya sudah cukup mewakili. Sayangnya tidak dibarengi dengan kemampuan akting yang sama cadas-nya, okelah dia seorang pendatang baru di dunia film, tapi Benni tampaknya juga tidak sanggup memaksimalkan akting Axel. Untuk membangun chemistry dengan ayahnya, Tommy, dan adiknya Nikita saja, terasa sekali kalau Benni agak memaksakan mereka untuk terlihat “enak dilihat” dalam soal hubungan ayah-anak dan kaka beradik. Sedangkan untuk karakter Tommy, yang diperankan oleh Ferdy Taher, saya rasa sudah cukup baik memainkan rocker insaf, yang sayangnya agak terlalu dipaksa untuk selalu berceramah dan porsi komedi untuk Tommy juga tak semua berjalan mulus, beberapa kali Ferdy sanggup membuat saya tersenyum, tapi leluconnya hanya berjalan ditempat, jadi tidak lagi lucu ketika dilakukan untuk kedua, ketiga, dan oh kempat kali dan seterusnya. Wulan Guritno juga tidak punya cukup durasi untuk tampil memaksimalkan kehadirannya, karena disini pun porsi Wulan selalu ditempatkan untuk situasi yang hanya membutuhkan dia untuk marah-marah saja. Olivia Jensen pun punya nasib sama dengan Wulan, diporsikan untuk mengalah dengan karakter lain, alhasil saat-saat kemunculannya hanya dimaksimalkan untuk adegan nangis-nangis saja.

Ah beruntung “Masih Bukan Cinta Biasa” (masih) mampu diselamatkan justru oleh para pendukungnya, Joe P Project dan para personil The Boxis. Kemunculannya selalu sukses buat saya tertawa (ini jujur) apalagi dengan celetukan-celetukan berbahasa sundanya, dari yang tadinya bibir ini manyun dan mata ini terkantuk-kantuk, berubah segar kembali oleh komedi-komedi spontan khas Joe, yang bisa kita lihat juga di film-film yang dia mainkan. Begitu juga dengan Mucle, berperan sebagai Ustad Jepret, pelawak yang sering kita lihat di acara “Democrazy” ini juga masih mampu menghibur saya dengan lelucon-leluconnya yang tampaknya juga hasil dari spontanitasnya sendiri. “Masih Bukan Cinta Biasa” yang menjurus menjadi film yang membosankan dengan jalan cerita yang berulang, tetap bisa melakukan kewajibannya yaitu menghibur penontonnya, ini pun berkat selipan-selipan komedi yang oleh Benni diesekusi cukup baik, dengan ditolong oleh kepiawaian dan spontanitas pemain-pemainnya yang memang dari kalangan pelawak. Namun sebagai film yang dinilai secara utuh, agaknya saya sulit untuk mengatakan “Masih Bukan Cinta Biasa” adalah film yang bagus. Sebagai film yang mengetengahkan persoalan keluarga, chemistry yang membentuk kata keluarga itu justru tidak terasa, cerita dipaksa tumpang tindih dengan esekusi yang kurang nyaman oleh Benni, apalagi memasuki paruh kedua film, dan kemudian penyelesaian konflik yang begitu doang, ya penyakit turunan di film-film Indonesia yang masih saja sering kambuh lagi dan lagi. “Masih Bukan Cinta Biasa” pun hanya akan menjadi sekuel yang mudah untuk dilupakan.

Rating 2.5 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Aach... Aku...
Review - Lights Out
Review - Don't Breat...