Review: Final Destination 5

written by Rangga Adithia on September 29, 2011 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with no comments

Review Final Destination 5

Belum ada film yang benar-benar menjadi “final” untuk franchise berusia 11 tahun ini, ya selagi masih sukses mengeruk untung kenapa harus dihentikan, jika perlu menumpuk seri sampai tujuh seperti apa yang dilakukan oleh “SAW”. Cerita itu-itu saja? tidak pedulilah, karena apa yang jadi daya jual film ini justru bukan cerita tetapi “kematian”. Semenjak seri yang pertama, terbilang sukses besar, hanya dengan bujet $23 juta, Final Destination mampu meraih keuntungan sampai $100 juta lebih. Setelah itu “sekuel”-nya pun muncul, tapi tentu dengan premis yang berputar disitu-situ saja, dengan entah sudah berapa orang yang dibuat mati mengenaskan di franchise yang dimulai pada 17 Maret 2000 ini. “Mati” adalah kata yang ditunggu-tunggu oleh penonton, karena FD toh terkenal karena sajian kematiannya, bagaimana di setiap serinya kematian tersebut digambarkan dengan visual yang menyakitkan, sadis, menjijikkan, dan terkadang juga “lucu”. Saya tahu ketika duduk di bioskop untuk menonton seri FD, karakter-karakter yang berseliweran, mereka yang awalnya beruntung pada akhirnya akan diburu sesuatu yang sering disebut “death” dan ini bukan lagi sebuah spoiler. Apa yang saya tidak ketahui adalah bagaimana orang-orang “dikerjai” oleh maut, permainan “sang maut” tersebutlah yang menjadi “umpan” seri-seri Final Destination untuk memancing penonton ke bioskop.

“Final Destination 5” juga tidak berbeda dengan seri sebelumnya, premis yang lagi-lagi serupa tapi tidak sama. Kali ini beberapa orang berhasil selamat dari sebuah kecelakaan yang mengenaskan, berkat “penglihatan” Sam Lawton (Nicholas D’Agosto) teman-teman kantornya terhindar dari maut. Tentu saja kita mengetahui bagaimana permainan “maut” ini dimulai, ketika “maut” dicurangi, dia tidak akan melepaskan seseorang dari daftarnya. Sahabat baik Sam, Peter Freidkin (Miles Fisher)—orang yang mirip dengan Tom Cruise dan Christian Bale—pacar Sam, Molly Harper (Emma Bell); kemudian teman-teman satu kantornya, Olivia Castle (Jacqueline MacInnes Wood), Candice Hooper (Ellen Wroe), Isaac Palmer (P.J. Byrne), Nathan Sears (Arlen Escarpeta), dan si bos, Dennis Lapman (David Koechner), ada di daftar tersebut, mereka seharusnya mati dalam kecelakaan. Nah sekarang karena sudah curang, mereka harus siap dengan konsekuensinya.

Kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya, yup “sang maut” menjemput mereka satu demi satu dengan penjemputan yang “mewah”, tanpa pikir panjang “Final Destination 5” ini bisa dikatakan punya aksi kematian yang terbaik dibanding ke-empat film pendahulunya. Dengan cerita membosankan Eric Heisserer (A Nightmare on Elm Street), harapan satu-satunya film ini memang berada di tangan Steven Quale, yang walaupun menceritakanya dengan ritme yang lambat, Steven mampu menyeimbangkannya ketika dia tiba di bagian paling menarik, yaitu menyajikan kematian dan kematian. Format 3D-nya pun membantu sekali, adegan-adegan yang disiapkan untuk menguji nyali dan perut semakin “bergairah” ketika kita memakai kacamata 3D, well saya yang bukan fans dari format ini pun memuji apa yang sudah dilakukan film ini, memanfaatkan 3D dengan cara yang sepantasnya. Ini mungkin dikarenakan film yang menghabiskan dana sampai $40 juta lebih ini di-filmkan khusus dengan kamera 3D, jadi bukan hasil konversi pada tahap post produksi seperti film berembel 3D kebanyakan, hasilnya bisa terlihat di layar lebar ketika anda menonton film tersebut. Belum apa-apa “Final Destination 5” sudah tidak sabar mau pamer kualitas 3D-nya lewat opening credit, yang saya akui memang memukau. Tidak percaya silahkan tengok sendiri dan jangan sampai telat masuk studio.

Review Final Destination 5

Baiklah, seperti yang saya singgung di paragraf awal, “Final Destination 5” sama sekali tidak menawarkan cerita yang baru, itu-itu saja, namun untuk urusan “kematian”, film ini jago-nya. Selama 90-an menit bergulirnya film, memang kita tidak melulu disajikan aksi-aksi sang maut melakukan tugasnya, disana masih ada cerita bagaimana para karakternya berusaha lari dari takdirnya, tapi itu tidaklah penting, dan adrenalin tetap betah terlentang begitu pula nyali yang tertidur tak tertantang. Namun ketika film ini masuk ke bagian apa yang saya sebut permainan sang maut, kita tidak hanya diajak ikut bergidik melihat saat-saat seseorang akan mati tapi diseret untuk ikut merasakan jantung ini berhenti berdetak. Memanfaatkan 3D-nya, “Final Destination 5” menyorot dengan jeli barang-barang yang sekiranya akan membuat seseorang terbunuh, saat misalnya sebuah baut mulai bergerak-gerak, seketika juga ketegangan itu menjulur ke seluruh tubuh, serasa kematian itu juga menjilati-jilati tubuh kita. Seperti menaiki roller-coaster, film ini mengajak kita menanjak pelan-pelan, sambil membuat penasaran seperti apa seseorang yang tidak beruntung itu akan mati. Menarik adrenalin perlahan dan sampai akhirnya kita sampai di puncak, film ini melepaskan kejutannya dengan cara paling sadis.

“Final Destination 5” ingin menguji nyali saya dan penonton untuk menatap bagaimana seseorang mati dengan tragis, dengan “pose” yang terkadang mengerikan, memanjakan mata bagi mereka yang sudah biasa menonton film-film dengan unsur gore yang cantik. Bagi mereka yang ciut, mungkin akan langsung menutup mata sambil berteriak. Ketika saya menonton film ini, bagian-bagian kematian yang mengejutkan tersebut tidak pernah sepi dari teriakan, yang selalu diawali dengan penonton yang meringis-ringis ngilu saat diajak “bermain” oleh sang maut. Setiap adegan-adegan kematian tersebut memang tidak lepas dari aksi kamera yang ahli dalam menyekap penonton dalam ketegangan, selain itu juga faktor visual effect menjadi polesan yang paling penting, dan “Final Destination 5” sanggup membuatnya cukup halus dan terlihat nyata, lihat saja bagian “musibah” di awal film, terlihat betulan dan menipu mata. “Final Destination 5” memang seperti menaruh cerita di nomor sekian, begitu pula karakter dan akting yang tidak begitu dipedulikan, lagipula saya pun tidak peduli, tapi jelas film ini menyeret adegan-adegan kematian itu ke barisan paling depan. Hanya film ini yang bisa membuat sebuah kematian yang tragis menjadi aksi yang menghibur. Dengan 3D, pengalaman bersenang-senang dengan maut semakin asyik, mari berteriak menyambut setiap darah yang muncrat, setiap bagian tubuh yang terlepas, dan setiap nyawa yang “dijemput” oleh kematian.

Rating 3 Tengkorak

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Iblis (2016...
Review - Ratu Ilmu H...
Review - Before I Wa...
Review - The Eyes of...