Review: Colombiana

written by Rangga Adithia on September 15, 2011 in Action and Cinema of Europe and CinemaTherapy and Hollywood with one Comment

Review Colombiana

Formula film action seperti “Colombiana”, yang lebih memilih seorang wanita sebagai tokoh utamanya, memang tidak lagi baru, wanita yang “dipaksa” menjadi jagoan yang mematikan, lihai membunuh, pintar menembak, tidak kalah berkelahi dengan pria, dan siap meledakkan apapun, termasuk otak penonton. Sebelumnya juga ada “Salt” yang dibintangi aktris Angelina Jolie. Dibalik kecantikan mereka, keindahan tubuh mereka, tersimpan ketangguhan yang kadang melebihi jagoan-jagoan pria, “Colombiana” juga untuk kesekian kali akan memanfaatkan daya pikat wanita, tidak hanya untuk memancing para pecundang keluar dari “sarang”, tetapi juga tidak segan untuk membunuh mereka dengan cara yang paling “manis”. Sebagai femme fatale kali ini dipilih Zoë Saldana, well dengan tubuh sangat rampingnya (kalah deh ya model-model di iklan pelangsing tubuh), Zoe nantinya terlihat begitu mudah melakukan akrobatik sana-sini, masuk ke lorong yang sempit, untuk sampai ke targetnya, jadi pemilihan Zoe disini cocok.

Zoe akan berperan sebagai Cataleya yang memutuskan untuk menjadi pembunuh bayaran untuk bisa membalaskan dendam kematian orang tuanya. Mereka dibunuh oleh sindikat narkoba kelas kakap Kolombia, ketika Cataleya masih kecil. Beruntung Cataleya selamat, setelah sebelumnya menikam tangan bos narkoba dan dengan gesit melarikan diri menuju kedutaan Amerika Serikat, persis seperti apa yang diperintahkan ayahnya sebelum tewas. Bermodalkan secarik kertas berisi alamat, Cataleya pun pergi ke Amerika untuk bertemu pamannya. Cataleya yang punya mimpi menjadi designer pun mengutarakan keinginan pada sang paman, untuk menolongnya menjadi seorang pembunuh. Awalnya pamannya menolak, tapi karena desakan Cataleya akhirnya dia mengiyakan keinginannya tersebut, 15 tahun kemudian, Cataleya bukan lagi anak perempuan yang kita lihat di awal film, tapi sudah berubah menjadi pembunuh terlatih. Sekarang dia kerja untuk pamannya, tapi dia tidak pernah lupa dengan dendamnya. Sambil menyelesaikan pekerjaannya, Cataleya selalu meninggalkan tanda khusus pada setiap korban-korbannya, dengan harapan bisa memancing bos mafia yang bertanggung jawab atas kematian kedua orangtuanya. Namun agen-agen FBI justru yang terpancing lebih dahulu… Cataleya pun tidak hanya akan jadi incaran para penjahat tapi juga diburu oleh pihak berwajib.

Review Colombiana

Walau seorang Luc Besson terlibat sebagai penulis dan produser disini, toh pada akhirnya “Colombiana” tidak lebih dari usaha Luc untuk menambah satu film buruk lagi dalam daftar filmography-nya, tidak perlulah membandingkan dengan “Leon”, karena itu hanya buang-buang waktu saja. Ceritanya bisa dibilang terlampau biasa saja, jika tidak ingin dikatakan konyol dengan beberapa plothole yang tersebar dimana-mana. “Colombiana” seperti disajikan dari materi cerita yang belum matang, untuk menikmatinya beruntung ada Zoe Saldana disana, dengan ketangguhan dan kelihaiannya membunuh satu-persatu targetnya, film ini punya satu-satunya hiburan dari aksi Zoe tersebut. Tubuhnya yang bisa dikatakan begitu ramping, membiarkannya dapat dengan mudah mengakses tempat yang sempit, menyelinap masuk tanpa diketahui musuh, dan menyelesaikan pekerjaan dengan “bersih”. Aksi Zoe tidak terbatas akrobatik saja, tapi juga handal dalam urusan senjata, dari handgun sampai senjata yang kadang terlihat lebih besar dari tubuhnya. Jika tidak ada senjata untuk ditembakkan, Zoe pun dilengkapi dengan keahlian membela diri, jadi jangan harap bisa menang berkelahi dengan jagoan wanita yang namanya berasal dari nama bungan yang hanya tumbuh di Kolombia ini.

Aksi-aksi Cataleya memang lumayan menarik untuk disimak, setidaknya masih mujarab untuk menghindarkan saya dari nyenyak tidur di bioskop, atau asyik menghidupkan hp dan melihat isi timeline twitter. Sisanya saya dipaksa menunggu tanpa ada tawaran yang menarik dari cerita maupun action yang mudah untuk dilupakan. Cerita yang seperti saya katakan di paragraf sebelum kurang begitu dimasak dengan matang, selanjutnya dipenuhi berbagai macam hal yang klise, termasuk kehidupan ganda Cataleya yang tidak menarik. Cataleya yang diceritakan mempunyai pacar seorang seniman berusaha menutupi jati diri yang sebenarnya, untuk melindungi orang-orang yang dia kasihi. Di luar kehidupannya sebagai pembunuh, kehidupan lain Cataleya memang membosankan, padahal ada bagian yang seharusnya bisa lebih dikembangkan, hubungan Cataleya dengan pamannya, namun bagian tersebut terputus dan si paman juga hanya muncul sekali-kali, oleh sutradara Olivier Megaton (Transporter 3), untuk porsi menasehati Cataleya, itu saja! padahal saya pikir hubungan Cataleya-pamannya adalah kunci film ini untuk menarik simpati, karena dia keluarga kedua setelah orang tuanya tiada. Akan lebih menarik jika ada bagian yang menceritakan Cataleya kecil yang berlatih dengan pamannya, tapi entah kenapa film ini langsung fokus dengan Cataleya dewasa dengan misi balas dendamnya.

Aksi balas dendam Cataleya yang sebetulnya sudah diesekusi dengen benar oleh Olivier Megaton, kemudian hilang fokus ketika Cataleya mulai tersandung kisah asmara, belum lagi kucing-kucingan dengan pihak FBI, yang makin jelas membuktikan Cataleya lebih superior dibandingkan mereka. FBI disini kadang-kadang pintar dan kebanyakan terlalu bloon untuk menangkap Cataleya. Jadi ketika ditanya siapa lawan tangguh yang sepadan untuk Cataleya? Hampir tidak ada… semua dibuat menjadi bloon, saya dipaksa untuk menunggu balas dendam Cataleya yang membosankan, sampai selesai, untuk mendapati betapa sebenarnya jalan menuju kesana begitu “dipermudah” oleh film ini. “Colombiana” jelas film aksi yang cukup terasa gaya seorang Luc Besson, tapi jelas masih tidak mampu untuk menyamai (ataupun) mendekati kualitas “Leon”, mengikuti jejak film-film aksi yang selama ini dia tulis dan produseri, hasilnya pun “yah begitulah” lebih bagus sedikit dari “Colombiana” ini atau bahkan lebih buruk. Ketangguhan Zoe Saldana sebagai jagoan wanita “dikhianati” oleh cerita Colombiana yg lemah, klise, ditambah dengan action yang awalnya menarik namun lama-lama seperti pisau yang lama tidak diasah, tumpul.

Rating 2 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Aach... Aku...
Review - Bone Tomaha...
Review - Munafik (20...
Review - Don't Breat...