Review: Captain America: The First Avenger

written by Rangga Adithia on September 8, 2011 in Action and CinemaTherapy and Hollywood with no comments

Review Captain America: The First Avenger

“Biarkan gw di-bully, tapi gw nga mau lihat orang lain di-bully”, itulah motivasi yang sederhana dari seorang Steve Rogers (Chris Evans), yang kelak akan bertaruh nyawa membela kebenaran sebagai superhero bernama “Captain America”. Modal kebaikannya-lah yang menakdirkan Steve untuk dipilih oleh seorang ilmuwan, Dr. Abraham Erskine (Stanley Tucci), yang sedang mencari sukarelawan untuk eksperimennya. Steve sendiri bukan seorang yang tangguh, selain penyakitan, tubuhnya kurus dan pendek, di-bully pun sudah menjadi santapan setiap hari, sampai dia ingat di gang mana dia pernah dipukuli. Namun Erskine tidak melihat fisiknya, dia mencari calon “prajurit” yang punya hati, dan Steve yang bolak-balik mendaftar diri sebagai tentara tapi selalu ditolak ini adalah pilihan nomor satu Erskine. Setelah melalui serangkaian tes dan latihan, Erskine semakin yakin Steve adalah orang yang tepat, walau Colonel Chester Phillips (Tommy Lee Jones) yang melatih para sukarelawan untuk proyek super-soldier ini tidak yakin terhadap pria kurus di hadapannya. Tapi ketika melihat Steve dengan tubuh kecilnya menutupi granat yang dilempar sang kolonel, sedangkan yang lain berlarian, itu menjadi bukti bahwa dibalik tubuh kurus tersebut, tersembunyi kekuatan besar, yaitu hati dan juga keberanian.

Steve selalu punya insting untuk melindungi orang lain, Erskine pun tidak ragu memberi kekuatan besar kepada Steve, karena dia yakin jika seseorang pernah merasakan menjadi lemah, seperti Steve, dia tidak akan lupa jati dirinya walau sudah memiliki kekuatan yang besar sekalipun. Maka dimulailah eksperimen mengubah Steve menjadi seorang prajurit super, jika berhasil, kemungkinan ini akan menghentikan ambisi Hitler dan tentara Nazi-nya untuk menginvasi dunia dengan terornya, menyudahi perang dunia ke-2. Eksperimen tersebut ternyata berhasil, pria kurus yang kita lihat di awal sudah berubah menjadi Steve yang berotot berkat sebuah serum spesial bernama “vita-rays”. Sayangnya Erskine tidak diberi waktu untuk menikmati kesuksesannya, karena tiba-tiba fasilitas eksperimen yang rahasia tersebut disabotase oleh seorang agen Hydra, dan langsung menyerang Erskine. Sang dokter pun tewas, Steve yang marah langsung mengejar si penjahat, membuktikan jika serum tersebut tidak hanya membuat tubuhnya tambah besar, tapi ada kekuatan lebih besar dalam dirinya. Ok si agen yang hendak melarikan diri dengan kapal selam kecil pun berhasil ditangkap, sayang dia keburu bunuh diri dengan menelan racun.

Di lain pihak, Johann Schmidt (Hugo Weaving), yang diberi kuasa oleh Hitler memimpin divisi khusus Nazi untuk mengembangkan senjata rahasia, baru saja menemukan sebuah sumber kekuatan baru yang selama ini dia cari. Sebuah kubus bercahaya yang diyakini mempunyai kekuatan “dewa”, lewat kubus dengan kekuatan misterius inilah Johann yang dibantu oleh Dr. Arnim Zola (Toby Jones) bisa saja punya “kunci” untuk memenangkan perang. Tapi apa jadinya jika kubus tersebut berada di tangan orang jahat? Kembali ke Amerika, Steve ternyata tidak dikirim ke medan perang, tapi justru diajak berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk “berjualan”, meminta sumbangan untuk perang dengan nama panggung Kapten Amerika (yup dari situlah nama superhero kita ini didapat). Tapi itu tidak berlangsung lama, karena dia akhirnya punya kesempatan untuk membuktikan jika Kapten Amerika ada untuk membela mereka yang “di-bully”, sekalipun pem-bully itu sekarang berbentuk pasukan besar Hydra, dibawah kekuasaan Johann Schmidt atau Red Skull… kematian Erskine tidak akan sia-sia.

Review Captain America: The First Avenger

Membawa embel-embel “The Avengers”, film “Captain America: The First Avenger” ini nantinya lebih kental terasa layaknya sebuah prekuel, bagi film yang akan menyatukan Thor, Hulk, Iron Man, dan juga Captain America di 2012 nanti. Banyak detil-detil yang sengaja diekspos untuk mengajak penonton berkenalan dengan apa yang dinamakan “Marvel Cinematic Universe”, dimana nantinya ada karakter Marvel yang akan muncul di film Marvel lainnya. Sejak film “Iron Man”, walau tidak terlalu terlihat, dunia Marvel ini secara tidak langsung sedang mulai dibangun, kita untuk pertama kalinya melihat pemimpin SHIELD, Nick Fury (Samuel L. Jackson) di film itu (walau tersembunyi setelah credit selesai). Di “The Incredible Hulk” pun demikian, kita bisa melihat Tony Stark menjadi “cameo”. “Iron Man 2” pun semakin membawa kita ke tahap selanjutnya dari Marvel Universe, yang kadang kita harus jeli melihatnya, ada yang masih ingat kalau perisai Captain America dijadikan “tatakan” oleh Tony Stark, dan di film ini pun untuk pertama kalinya kita akan diperkenalkan dengan Natasha Romanoff atau Black Widow, sedangkan Nick Fury kebagian peran lebih banyak disini. Dengan cerdas Marvel sedang membuat dunia indahnya yang dipenuhi superhero-superhero hebat, yang nantinya, Iron Man dan kawan-kawan akan disatukan dalam “The Avengers”.

Kembali ke “Captain America: The First Avenger”, saya sebetulnya di awal agak ragu ketika mendengar nama Joe Johnston yang dipercaya untuk menangani film ini, apalagi mengingat “The Wolfman” tidak begitu berkesan. Namun seperti dengan kemasan film yang menghadirkan manusia-manusia serigala tersebut, Johnston kali ini juga kembali mampu membuat setting masa lalu, tepatnya masa perang dunia ke-2 yang meyakinkan, sekaligus artistik dan menawan. Gambar-gambar retro tersebut pun mampu dileburkan dengan cerita yang ditulis oleh Christopher Markus dan Stephen McFeely, menurut saya pun pembagian porsi cerita diseimbangkan dengan aksi-aksi heroik sang kapten nantinya dan semuanya pun sama-sama punya level hiburan yang sejajar. Cerita yang merangkai asal mula Steve Rogers dari “zero to hero” pun diceritakan dengan menarik, memberikan waktu kepada penonton untuk mengetahui latar belakang pria yang kelak menjadi super-soldier tersebut. Alhasil penonton juga tidak begitu saja disodorkan seorang superhero, yang hanya pintar membuat kita terpukau dengan aksi patriotiknya melawan kejahatan, tapi seorang pahlawan yang kekuatannya juga berasal dari rasa simpati dan dukungan penontonnya. Apalagi Chris Evans betul-betul dapat menyatu dengan karakternya, sama seperti apa yang dilakukan oleh Robert Downey, Jr, ketika bertransformasi menjadi Tony Stark alias si Iron Man, bedanya Steve Rogers tentu lebih “rendah diri”.

Kita sudah dijejalkan prolog yang menarik, dari yang tidak tahu siapa itu Steve Rogers, menjadi bersimpati kepadanya. “Captain America: The First Avenger” tentu saja tidak akan terbuai dengan hanya menyodorkan sebuah drama, maka dari itu ketika tiba waktu untuk memamerkan aksi-aksi heroik Kapten Amerika, departemen artistik, efek visual, dan sinematografi bersatu untuk menghasilkan gambar-gambar yang memanjakan mata. Harus diakui jika dibandingkan dengan film superhero lain dari Marvel, aksi laga di film ini akan menjadi “klise” dan juga terkesan sederhana. Namun sekali lagi kemasan film ini yang retro, termasuk warna filmnya, menjadikannya jadi suguhan yang berbeda. Belum lagi super-villain di film ini, Red Skull yang diperankan Hugo Weaving, menampilkan performa yang baik sebagai lawan tanding Kapten Amerika. Perannya sebagai pemimpin dari Hydra benar-benar menakutkan, sepertinya Ghostrider pun yang sama-sama punya kepala tengkorak akan bertekuk lutut di hadapannya. Sajian seimbang antara cerita dan aksi yang ditawarkan “Captain America: The First Avenger”, tidak akan membuat kita bosan duduk selama 2 jam lebih. Ceritanya mudah untuk dinikmati dan aksi laga yang sesekali diselipi adegan slow motion juga menghibur, belum lagi dengan kemasan retro yang enak dilihat. Well, makin tidak sabar menunggu “The Avengers”, melihat jagoan-jagoan kita, bersatu! termasuk juga Captain America.

Rating 3.5 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Tujuh Film Horor Fav...
Review - Train to Bu...
Review - Warkop DKI ...
Review - Ratu Ilmu H...