Big Wave Festival: Tiga Band Internasional Taklukan Gelora Bung Karno!

written by Rangga Adithia on September 24, 2011 in Concert Report with no comments

Big Wave Festival 2011

Sebelum Linkin Park manggung pada hari rabu (21/09), Bid Daddy selaku penyelenggara ternyata punya suguhan konser yang tidak kalah menarik, bertajuk “Big Wave Festival”. Tidak tanggung-tanggung ada tiga band yang akan mengisi konser yang digelar pada hari selasa malam (20/09), ketiga band tersebut adalah: Yellowcard, Panic at the Disco, dan satu band senior beraliran punk rock, Bad Religion. Oke, saya tiba di venue, Gelora Bung Karno, tepat pukul 19.00 –pas sekali karena pintu masuk baru saja dibuka, jadi saya tidak perlu mengeluh menunggu lama untuk masuk ke areal konser. Well, berbeda dengan apa yang saya lihat pada konser LP keesokan harinya, Big Wave ternyata kok lebih “sepi” dari apa yang saya bayangkan, padahal band-band yang dijadwalkan main asyik-asyik, pikir saya mungkin orang-orang menyimpan uangnya untuk beli tiket LP. Area festival memang nampak padat, dipenuhi anak-anak ABG yang sepertinya tidak sabar menunggu Yellowcard dan PATD, yang notabene sesuai selera mereka, muncul dari balik panggung. Sedangkan mereka yang seleranya “lebih keras” dipaksa bersabar karena Bad Religion sendiri akan manggung paling terakhir, termasuk tiga orang bapak-bapak yang duduk di sebelah saya, sudah bisa ditebak  mereka adalah fans band berasal dari Los Angeles yang dibentuk pada tahun 1979 tersebut, lihat saja ketika Yellowcard dan PATD beraksi di atas panggung ketiganya justru diam, “hahaha sabar ya pak, giliran anak muda dulu”.

Tidak lama setelah saya menghempaskan (maaf) pantat ke bangku berwarna biru di area tribun, Sean Mackin langsung menyapa penonton dengan aksi biolanya, memainkan intro untuk lagu “For You, and Your Denial”. Disusul oleh geberan gitar listrik Ryan Mendez, gebukan mantap drum milik Longineu W. Parsons III, betotan bas Sean O’Donnell, dan tentu saja Ryan Key, sang vokalis utama band yang malam itu memakai kaos hitam ikut menyapa penonton, dengan lirik lagu dari album terbaru Yellowcard yang rilis di bulan Maret lalu tersebut. Lagu pembuka sukses menghadirkan keriuhan di area festival, sudah pasti diiringi teriakan histeris para ABG cewek yang memanggil-manggil nama vokalis, yang berdiri menebar pesona sambil juga memegang gitar.

Dengan sedikit berbasa-basi, mengucapkan kesenangan mereka berada di Jakarta, Yellowcard langsung menghajar ke lagu berikutnya, “Rough Landing, Holly”, dari track ke-6 di album Lights and Sounds di tahun 2006. Yellowcard diberi porsi 12 lagu di “Big Wave Festival”, termasuk membawa lagu-lagu hits mereka lainnya, diantaranya “Way Away “, “Light Up the Sky”, dan juga “Lights and Sounds”. Yellowcard tidak saja tampil maksimal dan penuh semangat, tapi juga sanggup mengajak penonton untuk bersenang-senang bersama dengan deretan lagu yang dimainkan. Termasuk juga bernyanyi bareng seperti di lagu “Only One”, Ryan Key pun memimpin penonton untuk menendangkan “Here I go, scream my lungs out and try to get to you…”, kemudian dilanjutkan dan disambut teriakan keras penonton “You are my only one”. Yellowcard pun menutup aksi panggung mereka yang mempesona dengan “Ocean Avanue”. Jatah satu jam betul-betul dimanfaatkan Ryan Key dan kawan-kawan untuk “berkomunikasi” dengan fans-nya yang sudah menyambut mereka dengan hangat di GBK. “sampai ketemu lagi”, kata Ryan dan satu persatu personil pun menghilang ke balik balik panggung.

Setelah “diguyur” lagu-lagu Yellowcard yang nge-rock abis, GBK pun tiba-tiba kembali hening. Jika pada band pertama penonton di festival terbagi seimbang antara cowok dan cewek, sekarang tampak dari tempat duduk saya di VIP—yah pihak panitia menyuruh para penonton untuk mengisi bangku yang “bolong” di VIP, saya pun dengan senang hati pindah ke posisi yang lebih dekat dengan panggung—area festival kini didominasi oleh para fans PATD yang kebanyakan cewek, sesekali terdengar teriakan “Breendooooon!”, yup memanggil Brendon Urie, sang vokalis PATD yang digemari karena ketampanannya tersebut. Kira-kira kurang dari setengah jam, layar lebar di tengah menyala, menampilkan tiga gambar band yang mengisi Big Wave Festival, gambar PATD pun “terpilih” yang memastikan mereka menjadi band kedua yang akan tampil. Logo PATD tidak lama kemudian muncul dan langsung disambut histeria penonton, band yang suka menuliskan judul lagunya dengan kalimat panjang ini, akhirnya “menyapa” penontonnya dengan lagu pembuka “Ready to Go (Get Me Out of My Mind)”, dari album baru PATD di tahun ini.

Serentak penonton serasa disihir untuk ikut bergoyang bersama band asal Las Vegas yang sekarang hanya menyisakan dua personil, Brendon si vokalis dan Spencer Smith yang asyik menabuh perangkat drumnya. PATD pada malam itu ditemani Dallon Weekes pada bas dan Ian Crawford pada gitar, yang menjadi personil sementara PATD selama tour. Brendon tidak henti-hentinya mengajak penonton untuk bergoyang, termasuk lagu-lagu seperti “The Ballad of Mona Lisa”, “Lying Is The Most Fun A Girl Can Have Without Taking Her Clothes Off”, “Trade Mistakes”, dan “Hurricane”,diselipkan juga di akhir lagu ini “Personal Jesus” milik Depeche Mode. Berbeda dengan Yellowcard yang bermain sebelum PATD, Brendon tidak saja mahir bernyanyi atau memainkan alat musik lain, seperti perkusi dan keyboard misalnya, namun jago berkomunikasi dengan penontonnya, setelah menyelesaikan satu lagu, Brendon terkadang dengan senang hati mengajak ngobrol tuh penonton dibawah, murah senyum, dan sesekali melemparkan lelucon.

Big Wave Festival 2011

Lanjut ke lagu ke-9, “Let’s Kill Tonight”, penonton pun kembali diajak bergoyang, dan bernyanyi bareng bersama PATD, apalagi sang vokalis Brendon kerap memamerkan aksi menarinya yang makin membuat penonton cewek makin teriak histeris. Lagu yang saya tunggu-tunggu pun akhirnya dibawakan, “Nine In The Afternoon”, dari album “Pretty. Odd” (2008), tanpa sadar saya dan ribuan penonton pun ikut bernyanyi, “…cause it’s nine in the afternoon,  and your eyes are the size of the moon”. Penampilan konser PATD pun makin ciamik dengan tata cahaya dan suara yang sangat baik dan keren. Sebelum lagu berikutnya dimainkan, Brendon sempat “curhat” agak lama jika lagu ini adalah kesukaan mama-nya, yup lagu yang dimaksud adalah “I Write Sins Not Tragedies”, lagu favorit saya juga dari band yang konser untuk kedua-kalinya di Jakarta ini. PATD betul-betul menghabiskan energi penontonnya dengan penampilan mereka yang luar biasa, lagu-lagu hits mereka tidak berhenti mengajak penonton bernyanyi, cewek-cewek di deretan depan tidak pernah kehabisan suara untuk berteriak memanggil Brendon. Konser yang saya akui sangat menghibur ini sayang harus berakhir ditutup dengan “Nearly Witches (Ever Since We Met…)”, lagu yang memang cocok dijadikan salam perpisahan.

Bad Religion boleh tampil di penghujung Big Wave Festival, tapi itu tidak menyurutkan semangat para penggemar setianya, area festival yang sebelumnya didominasi anak-anak ABG, sekarang berubah wajah berganti dengan mereka-mereka yang siap untuk moshing. Deretan depan panggung pun tidak lagi dikuasai cewek-cewek yang berteriak histeris tapi diisi oleh cowok-cowok, ada yang berambut gondrong, mohawk khas anak punk, ada juga yang bertelanjang dada. Pokoknya atmosfirnya berubah jauh dari dua band sebelumnya, karena kali ini adrenalin kita akan diajak menanjak, energi kita dihantam sangat keras, oleh band yang beranggotakan Greg Graffin (vokalis), Greg Hetson (gitar), Jay Bentley (bass), Brian Baker (gitar) dan Brooks Wackerman (drummer). Kira-kira pukul 22.00, Bad Religion muncul dari balik panggung, spontan disambut oleh kepalan tangan ribuan orang yang menjulang ke langit GBK. “Halo Jakarta”, sapa Greg Graffin, dan tanpa basi-basi panjang lebar, lagu “The Resist Stance” dari album The Dissent of Man (2010) pun dimainkan jadi pembuka dilanjut dengan lagu “Social Suicide” (The Empire Strikes First, 2004). Di sela-sela lagu yang dimainkan dengan cepat, Greg tidak lupa memberitahu jika mereka senang akhirnya bisa manggung di Jakarta.

Yup! setelah eksis selama kira-kira 31 tahun, band yang sekarang personilnya tidak muda lagi ini akhirnya bisa menyapa para fans setia-nya di Indonesia, sambutan penonton pun luar biasa, semenjak lagu pertama GBK tidak berhenti bergetar karena ribuan penonton tersebut loncat-loncat tidak ada capeknya. Sambil bernyanyi bersama, kepalan tangan ke udara terus tampak terlihat mengiasi stadion GBK, sesekali akan terlihat penonton yang melakukan body surfing dan lingkaran manusia yang sering disebut “circle pit” spontan tercipta. Walau konser Bad Religion ini terbilang sangat brutal, seperti biasa penonton ini pada waras dan nga norak. Disenggol ataupun terkena tendangan sudah biasa, jadi konser pun berjalan aman tidak ada tuh yang berkelahi, jadi petugas polisi yang berjaga-jaga pun bisa santai. Melihat penonton yang “gila”, Bad Religion pun terpicu untuk tampil gila-gilaan juga. Walau sudah tua, Greg Hetson sang gitaris plontos yang esentrik itu masih mampu untuk meloncat kesana-kemari dengan gaya bermain gitarnya yang khas. Begitu juga dengan Greg Graffin yang suaranya tetap terjaga menyanyikan lirik dari lagu demi lagu, dia dan sang pembetot bas Jay Bentley pun masih sempat-sempat untuk mengajak penonton bercanda. Bad Religion yang tampil simple dengan memakai kaos dan celana jeans ini, ternyata tidak hanya kumpulan rocker tetapi juga komedian, mereka lucu.

Bad Religion pun dengan baik hati membawakan lagu-lagu lawas mereka, seperti “21st Century (Digital Boy)”, “Punk Rock Song”, “No Control” dan “Atomic Garden”. Tentu lagu-lagu lama mereka tersebut makin disambut liar oleh penonton yang tidak ada letih melakukan moshing, Jay pun sempat terpukau, “kalian tahu juga lagu-lagu lama kita”, kira-kira begitu katanya. “Anastesia”, “Along The Way”, dan “Fuck Armageddon” jadi lagu penutup sebelum satu persatu personilnya cabut ke balik panggung. Tentu saja para penonton tahu masih ada encore dan teriakan “we want more” pun menggema di seluruh GBK pada malam itu. Greg Graffin dan kawan-kawan akhirnya keluar lagi dan langsung membawakan lagu “American Jesus” dan “Infected”, penonton pun diberi kesempatan untuk kembali menghantamkan diri ke penonton lain, moshing semakin liar. “Sorrow” jadi lagu penutup konser Bad Religion yang sangat-sangat luar biasa ini, Greg Graffin dan kawan-kawan membuktikan, walau sudah tua mereka masih tetap badass. Penonton pun dibuat puas dengan 25 lagu yang dibawakan, yup! Bad Religion sukses taklukkan GBK dan berjanji akan kembali lagi… kita tunggu saja.