Review: Transformers: Dark of the Moon

written by Rangga Adithia on August 1, 2011 in Action and Adventure and CinemaTherapy and Hollywood and SciFi with 2 comments

Review Transformers: Dark of the Moon

Film kedua perang robot alien, “Transformers: Revenge of the Fallen”, bisa dibilang jadi bahan tertawaan dan cacian, film jelek kalau kata orang bilang, sampai-sampai Michael Bay sendiri bilang filmnya memang jelek dan berjanji film ketiga akan lebih baik. Tidak peduli apa kata orang, saya menganggap sekuel Transformers tersebut tidak sejelek itu, masih pantas untuk dilabeli sebagai film yang menghibur, yah walau diakui ceritanya sih berantakan. Hei! tapi ini film Michael Bay, yang sanggup menempatkan cerita di balik ketiaknya, dan selanjutnya punya kebebasan untuk pamer bahwa dia rajanya film-film “eye candy”. Yah film yang hanya menang di efek-efek khusus dan juara ketika membuat tumpukan uang berubah menjadi bola-bola api dan ledakan dahsyat, sebuah film yang memang dikhususkan untuk menghibur dan memanjakan mata. Untuk urusan itu, orang yang niatnya ingin membuat “Titanic” kedua lewat “Pearl Harbor” ini tapi gagal, yah bisa dikatakan selalu berhasil, mengundang para penonton yang datang ke bioskop memang untuk menonton film hiburan khas Bay. Begitu pula dengan sekuel terakhir (bisa saja ada film ke-empat dan seterusnya) “Transformers: Dark of the Moon”, saya tidak datang ke bioskop untuk duduk dan berharap menonton robot-robot alien merangkai cerita ala “The King’s Speech”, tujuan saya jelas: menikmati hiburan tanpa otak! beri saya perang tanpa henti, beri saya ledakan yang sanggup mengeluarkan kedua bola mata. Bagi saya itu sih sudah lebih dari cukup… roll out!

“Transformers: Dark of the Moon” (TF:DOTM) membuka ceritanya dengan sebuah misi luar angkasa paling terkenal, ketika pada tahun 1969, Neil Armstrong dan kawan-kawan dikirim oleh NASA menjadi manusia pertama yang menginjakan kaki dibulan. Namun itu di balik hari bersejarah itu, sebenarnya ada rahasia besar yang ditutupi oleh pemerintah Amerika Serikat. Misi Apollo 11 ini juga bertujuan untuk menyelidiki benda yang tidak dikenal, yang pada tahun 1961 menabrak dan mendarat di bulan. Tidak ingin benda yang tidak diketahui tersebut jatuh ke tangan Uni Soviet, maka Amerika berlomba-lomba agar bisa lebih dahulu mencapai bulan. Ternyata apa yang awak Apollo 11 temukan adalah sebuah pesawat “alien” sangat besar, dipenuhi bangkai robot. Diceritakan bahwa pesawat bernama Ark yang ditemukan manusia ini dulunya berhasil melarikan diri dari perang di planet Cybertron, membawa muatan penting yang mampu mengakhiri konflik diantara Autobots dan Decepticons. Sayangnya pesawat ini dinyatakan hilang, sampai akhirnya ditemukan kembali oleh pihak manusia. Rahasia misi Apollo 11 dan apa yang mereka telah temukan pun tersimpan rapat-rapat selama bertahun-tahun, termasuk kepada pihak Autobots yang sekarang membantu militer Amerika dalam menjaga perdamaian dunia.

Selagi Optimus dan robot Autobots lain sibuk membantu manusia dan mencari sisa-sisa keberadaan Decepticons, dalam misi di Chernobyl, mereka tidak sengaja menemukan fuel cell yang diyakini berasal dari pesawat Ark yang hilang. Dari sinilah akhirnya Optimus mengetahui bahwa pesawat tersebut berada di bulan dan manusia menyembunyikannya dari Autobots. Optimus ditemani oleh Ratchet pun pergi ke bulan dan menemukan sang pemimpin Autobots sebelum Optimus, “Sentinel Prime”, dalam keadaan “koma”. Muatan bernama “The Pillars”, yang dibawa pesawat tersebut juga berhasil ditemukan. Setelah kembali ke bumi, Optimus segera menghidupkan Sentinel Prime dengan menggunakan energi dari “Matrix of Leadership”. Sang Prime berhasil dihidupkan namun penemuanya, pilar-pilar yang dibawanya bersama pesawat Ark tidak lengkap, hanya beberapa buah saja yang ditemukan Autobots, padahal jumlahnya ada ratusan. Setelah diselidiki ternyata sisa pilar-pilar penting tersebut kemungkinan berada ditangan Decepticons. Kira-kira rencana jahat apalagi yang dimiliki Megatron dan para Decepticons?

Review Transformers: Dark of the Moon

TF:DOTM itu spektakuler, sekali lagi lupakan ceritanya yang berlarut-larut dan lumayan membosankan di awal-awal dan di beberapa bagian film, yang tujuan utamanya seperti hanya untuk membuat film ini makin panjang saja dalam urusan durasi. Bayangkan 150 menit lebih, itu berarti 2 jam setengah, tapi sebetulnya tidak perlu kaget karena dua film sebelumnya juga melakukan hal yang sama, durasinya melelahkan. Namun serupa seperti apa yang dilakukan dua film Transformers sebelumnya, Bay tentu saja tidak akan jahat menyiksa kita dengan drama bertele-tele sambil memperkenalkan pengganti Megan Fox, “pemanis” baru yang akan menemani Shia LaBeouf, sebagai Sam Witwicky. Apa yang penonton harapkan untuk muncul, memang terhampar disana, dibiarkan untuk dinikmati, apalagi jika bukan perang robot yang dipenuhi dengan ledakan dahsyat, slow motion cantik, serta tumpukan efek spesial yang mencolok mata.

Di film terakhir (katanya begitu) tidak ada lagi dua robot kembar rasis yang mengganggu, tidak ada lagi teman sekamar Sam yang penakut itu (sama mengganggunya), kemudian kedua orang tua Sam pun disingkirkan dan hanya dijadikan semacam cameo. Sedangkan porsi Shia LaBeouf yang di film kedua terlalu berlebihan, sekarang dipotong dan tentu saja dia masih punya andil sebagai tokoh utama namun perannya lebih pas, walau masih saja tidak penting menurut saya. Ditambah dengan si model “Victoria’s Secret”, Rosie Huntington-Whiteley yang kerjanya memang untuk “mempercantik” dan membuat film ini seksi dengan keberadaannya, untuk urusan akting, sayangnya saya harus bilang tentu Megan lebih jago sedikit. Tapi yah sama dengan ceritanya, akting juga disini bukan yang ingin ditonjolkan, toh pada akhirnya saya tidak akan memperhatikan dialog mereka dan teralihkan oleh para robot yang beradu jotos dan tentu saja robot super-keren yang sekali lagi berasal dari pihak Decepticons, perkenalkan Shockwave!

Yup Decepticons memang selalu beruntung memiliki pasokan robot-robot yang tidak saja keren tetapi punya persenjataan lebih canggih dan garang. Jadi perang antara Autobots vs. Decepticons akan berlangsung sangat seru di TF:DOTM, apalagi dengan racikan efek buatan komputer hasil kreasi Industrial Light & Magic, yang membuat robot demi robot menjadi semakin hidup dengan desain yang ciamik dan pergerakan yang halus. Pokoknya hasil kerja ILM kali ini betul-betul sempurna, menghasilkan perang visual efek dan bola-bola api semakin dahsyat memanjakan mata penonton diantara para robot yang saling bersiteru. Kita akan betul-betul melupakan cerita ketika Autobots dan Decepticons keluar dan saling unjuk gigi memamerkan aksi mereka menghancurkan satu kota, makin cantik dengan polesan slow motion yang bertebaran disana-sini, saya tidak keberatan dengan itu toh hasilnya memang keren. Terakhir setelah visual efek melakukan pekerjaan dengan baik dalam menghipnotis penonton, lantunan score milik Steve Jablonsky yang kembali mendampingi adegan demi adegan, benar-benar pas dalam membangkitkan mood di saat menonton, ketika perang berlangsung kita seperti larut dalam suasana, khususnya ketika tiba giliran Shockwave muncul…eng ing eng bersiaplah untuk terhibur dan terkesima.

Rating 3.5 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Turbo Kid (...
Review - The Invitat...
Review - Don't Breat...
Review - Ouija: Orig...