Review: Pocong 2

written by Rangga Adithia on August 8, 2011 in Asian Film and CinemaTherapy and Film Indonesia and Horror with 5 comments

Review Pocong 2

Sampai sekarang saya masih penasaran dengan “Pocong”, film yang gagal tayang karena tidak diluluskan oleh badan sensor karena beberapa sebab, salah-satunya adanya adegan pemerkosaan yang diyakini terlalu brutal. Nah sebagai gantinya, Rudi Soedjarwo segera membuat “Pocong 2”, sebuah sekuel dari film yang tidak pernah tayang itu. Film yang syuting tujuh hari ini bisa dibilang salah-satu film horor lokal yang punya kualitas seram bermutu, iseng-iseng bertanya di twitter pun, beberapa orang yang merespon pertanyaan saya tentang “film horor lokal yang menurut lo serem”, ikut menyinggung film yang juga ditulis Monty Tiwa (Keramat) ini sebagai film terseram pilihan mereka, diantara film lain macam: Jelangkung, film-film horor almarhum Suzanna, Pengabdi Setan, dll.

“Pocong 2” mengawali cerita dengan sebuah adegan pemerkosaan, setelah itu cerita lalu melompat beberapa tahun kemudian, memperkenalkan kita dengan Maya (Revalina S. Temat), seorang kakak yang sekarang harus banting tulang untuk menghidupi adik satu-satunya Andin (Risty Tagor), setelah keduanya ditinggal pergi oleh orang tuanya. Andin, sayangnya tidak tahu terima kasih, kadang selalu menyusahkan kakaknya, dengan sikap kekanak-kanakannya. Andin pun semakin membenci Maya ketika kakaknya bertunangan dengan Adam (Ringgo Agus Rahman). Tapi sikap negatif sang adik tidak membuat Maya putus harapan dan mengurangi kebaikannya, dia tetap menyayangi Andin. Masalah yang satu belum selesai, sekarang Maya bermasalah dengan apartemen murah yang baru saja ditempatinya dengan Andin. Berawal dari penjaganya yang aneh, kemudian aliran listrik yang selalu terputus tepat jam tiga sore, dari situ kejanggalan demi kejanggalan mulai bermunculan, sampai puncaknya sesosok pocong menampakan wujudnya.

Review Pocong 2

Beruntung film ini muncul ditahun dimana pocong belum se-eksis hari ini, jika tidak yah “pocong lagi pocong lagi, bosan!”. Jika sekarang pocong tidak punya karisma horor lagi sebagai salah-satu hantu lokal yang dulunya seram, di “Pocong 2” ini, hantu yang punya ciri khas terbungkus kain kafan—bayangkan saja guling yang biasa kalian peluk, bedanya yang satu ini ada mukanya, enggak terlalu ganteng sih hanya busuk-busuk dikit mukanya, ini harus bangga karena dibuat sedemikian menyeramkan dengan adegan-adegan kejutan yang disiapkan dengan cerdas. “Pocong 2” bisa dibilang menjadi cetak biru untuk film-film horor Rudi Soedjarwo selanjutnya, misalnya saja adegan “handphone” di “40 Hari Bangkitnya Pocong”, adegan ini sebetulnya seperti dikembangkan dari “Pocong 2”, yah hasilnya pun jauh lebih seram film 40 hari itu.

Dengan didukung oleh cerita yang menarik, memicu kita untuk terus betah memecahkan misteri apartemen ber-pocong, penampakan-penampakan yang ada pun tampaknya oleh Rudi diupayakan untuk tidak berlebihan, porsinya pas. Apalagi disini muka pocong yang hitam nan busuk itu entah kenapa suka sekali di close-up, bulu kuduk ini kian merinding saja setiap kali para pemain menengok, dan disana sudah siap pocong yang tidak malu serta tidak memalukan dalam urusan menakuti. Di luar penampakan pocong yang orisinil, film ini juga sedikit “terinspirasi” oleh dua film “The Eye” karya Pang Brothers, jadi tak heran beberapa momen penampakan hantunya mengingatkan pada dua film Hongkong tersebut, yang sudah menonton pasti tahulah adegan mana yang saya maksud. Walaupun begitu, Rudi sanggup membuatnya berbeda, jadi bukan hasil jiplak ide mentah-mentah.

Untuk urusan membuat penontonnya loncat dari bangku, “Pocong 2” bisa dibilang juara, itupun didukung dengan para pemain yang bermain baik. Revalina tahu bagaimana cara menempatkan dirinya dalam setiap adegan, ketika dalam porsi drama begitu pula ketika harus berekspresi ketakutan dalam porsi horor. Reva melakukan pekerjaan rumah dengan baik dan hasilnya pergerakan kamera yang mengikutinya dan sesekali juga melahap habis wajah Reva tidak sia-sia, karena akting dan mimiknya mampu mengajak kita untuk ikut merasakan apa yang dia rasakan, pada saat kebingungan dan juga ketakutan. Risty Tagor juga tidak mau kalah, sebagai adik yang menyebalkan dia bisa dibilang berhasil, untuk urusan memamerkan skill di depan kamera ketika ketakutan pun cukup baik, walau agak kaku di beberapa scene. “Pocong 2” dengan judul yang ringkas, telah mewakili apa yang akan diceritakan film ini, yah memang tentang penampakan pocong dimana-dimana. Tapi menariknya keberadaan pocong di film ini juga diikuti dengan cerita yang punya greget, tidak asal munculin pocong tapi ada cerita untuk diceritakan. Horornya menampar nyali, misterinya memancing rasa penasaran, dan pocong-nya bikin saya tidak bisa tidur! Oh ya “Pocong 2” adalah film horor lokal yang wajib kalian tonton.

Rating 3.5 Tengkorak

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Cipali KM 1...
Review - Lights Out
Review - Rumah Malai...