Review: Lentera Merah (2006)

written by Rangga Adithia on August 20, 2011 in Asian Film and CinemaTherapy and Film Indonesia and Horror with 2 comments

Review Lentera Merah

Laudya Cynthia Bella mungkin akan cocok jika hanya sebagai korban, yang mati dengan mengenaskan atau menjadi orang gila, tapi sebagai hantu… oh come on! Apa tidak ada gadis pucat lain yang cocok menjadi pemeran hantu-hantuan, ups spoiler, untuk sekarang tolong maklumi saya yang membocorkan kejutannya, di awal paragraf pula. Barangkali tanpa saya beritahupun, siapa saja sudah tahu apa peran Bella disini, segala petunjuk dari awal sudah mengarah ke satu konklusi, jika Bella adalah hantu. Membandingkan dengan “Legenda Sundel Bolong”, tentu saja “Lentera Merah” akan terlihat buruk sekali, seperti juga film horor kedua Hanung Bramantyo tersebut, LM juga memakai formula yang agak mirip, menyelipkan tema politik ke dalam jiwa sebuah film horor, yah bisa dibilang film hantu politik. Sebagai pondasi cerita, isu-isu politik yang nantinya dilontarkan Hanung di LM seharusnya makin menambah “cerdas” film horor ini, sayangnya pemilihan pemain dan juga dialog-dialog didalamnya justru menghancurkan segala niat tersebut.

Judul film ini diambil dari sebuah majalah kampus bernama sama “Lentera Merah”, well dilihat dari namanya saja sudah terkesan ini bukan majalah main-main, bukan juga berisi gosip-gosip siapa pacaran dengan siapa. Majalah UNI (Universitas Negeri Indonesia) ini memang justru terkenal dari dulu karena tulisan-tulisannya yang kritis dan berani membeberkan sebuah kebenaran. Sempat dihentikan pada zaman PKI, tapi eksis kembali sampai sekarang, masih dengan artikel-artikel “tajam”-nya. Cerita dibalik LM memang membuat bulu kuduk kita merinding membayangkan aksi-aksi jurnalis yang menantang demi sebuah kebenaran, sejarah sepertinya hanya topeng. Begitu kita melihat siapa yang sekarang memimpin LM, saya nyaris menekan tombol stop. LM angkatan 49 tidak lebih dari kumpulan anak-anak “manja” yang sepertinya salah masuk LM. Mereka terdiri dari Iqbal (Dimas Beck), Arif (Teuku Wisnu), Wulan (Firrina Sinatrya)dan Dinda (Kartika Indah Pelapory) beserta Bayu (Saputra) dan Rio (Fikri Ramadhan).

Review Lentera Merah

Angkatan ke-49 ini sedang bersiap untuk menerima anggota baru LM, yang kelak akan mewarisi dan meneruskan perjuangan LM. Namun ada yang aneh dengan angkatan Iqbal dan kawan-kawan, karena orang tua mereka masing-masing, yang juga mantan anggota LM meninggal satu-persatu, menyisakan hanya orang tua Iqbal. Namun untuk sekarang, mereka masih menganggapnya takdir, dimana manusia pada saatnya akan mati. Maka masa perekrutan pun diteruskan tanpa memikirkan bahwa LM sedang dalam bahaya. Dari sekian banyak yang mendaftar sebagai anggota baru, salah-satunya terpilih seorang gadis misterius, pucat, dan punya dandanan jadul, bernama Risa Apriliyanti (Laudya Cynthia Bella). Risa pun segera menjadi anggota baru yang menonjol, tidak saja kecantikannya berhasil mencuri perhatian, Iqbal yang notabene ketua LM, tapi juga kecerdasan dan juga sikapnya yang bisa dibilang blak-blakan. Termasuk memulai “perang” dengan seniornya, percekcokan Risa dengan Wulan ini berujung pada kematian Wulan yang mengenaskan, tergantung di perpustakaan. Berlanjut dengan kematian Bayu, kedua kematian tersebut sama-sama meninggalkan pesan angka “65”. Karena kejadian tersebut pihak kampus pun memutuskan untuk membatalkan malam inisiasi anggota baru LM. Namun Iqbal beserta teman-temannya sepakat acara tahunan yang sudah turun-temurun sejak LM berdiri ini harus tetap terlaksana. Maka dimulailah teror setan bengek

Loh kenapa saya bilang setan bengek, karena “Lentera Merah” memang menampilkan hantu yang pada setiap kemunculannya diiringi bukan dengan sound effect seram ataupun musik mengerikan, melainkan dengan suara nafas sesak yang terengah-engah. Mungkin anggota LM seharusnya tidak perlu susah payah mencari jawaban kenapa mereka diteror oleh setan bengek, bisa saja yang diperlukan untuk mengusirnya hanya obat asma. Saya bisa merasakan penderitaan yang dialami si setan, karena saya penderita asma juga, jadi selama film bergulir saya sama sekali tidak punya simpati pada para calon korban, malah mengutuk mereka karena bersikap bodoh dan tidak sempat memikirkan untuk pergi ke apotik terdekat, sekedar untuk membelikan obat.

LM seharusnya bisa menjadi sajian horor yang menarik, dengan memasukan intrik politik ke dalam ceritanya, menjadi agak cerdas sedikit. Tapi sama dengan kesalahan “Legenda Sundel Bolong”, porsi politik tersebut tidak ditempatkan dengan sesuai, hanya tempelan saja dan tidak ada greget-nya, alhasil saya jadi tidak peduli dan berharap masih ada sisa waktu untuk menceritakan porsi horor dan misterinya. Kedua bagian penting tersebut pun tidak dibangun Hanung dengan baik, terlalu bertele-tele dan membosankan, ditambah lagi dengan penampakan yang tidak seram dan kejutan yang basi. Kesalahan besar memberi peran utama Iqbal kepada Dimas Beck, dia yang selalu disorot dengan akting yang buruk justru makin membuat film ini makin memuakkan. Anggota LM yang terkenal kritis dan dipilih dari mahasiswa baru yang punya otak cerdas, sepertinya hanya omong kosong saja karena begitu melihat mereka ber-dialog, film ini sama sekali tidak memberikan dialog-dialog yang bisa mewakili “kecerdasan” LM. Film tahun 2006 ini pun makin tidak pintar ketika memperlihatkan pembunuhan dengan 2 buah kartu yang menancap, belum cukup, masih ada adegan pembunuhan dengan pulpen berhias mainan sapi (apapun itu). Saya pasti akan mengingat “Lentera Merah” bukan karena film ini jelek semata tapi berkat dua adegan kematian terburuk di film horor Indonesia.

Rating 1 Tengkorak

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - 3 Srikandi
Review - Don't Breat...
Review - Telaga Angk...
Review - The Girl wi...