Review: Kung Fu Panda 2

written by Rangga Adithia on August 16, 2011 in Animation and CinemaTherapy and Hollywood with 2 comments

Review Kung Fu Panda 2

Sukses besar yang didapat “Kung Fu Panda” di tahun 2008 lalu, dengan mengantongi $600 juta lebih, ditambah sambutan hangat dari para kritikus sepertinya menjadi modal yang cukup bagi DreamWorks Animation untuk memberi lampu hijau adanya sekuel.  Maka lanjutan kisah Panda bernama Po yang jago kungfu ini pun dipersiapkan sebagai “jagoan” DreamWorks Animation di 2011 menemani “Puss in Boots”. Jika dibandingkan dengan franchise “Shrek”, saya secara pribadi lebih memilih “Kung Fu Panda” sebagai film animasi terbaik keluaran DWA, sampai akhirnya gelar tersebut berhasil di rebut oleh “How to Train Your Dragon” yang rilis tahun lalu. DWA memang bukan Pixar, studio yang selalu sukses menelurkan film animasi dengan mutu berkelas secara cerita dan juga gambar. Namun seiring berjalannya waktu, DWA makin “dewasa”, film-filmnya semakin bagus, dan saya pikir mereka sudah punya ciri khas sendiri. Malah agak sulit sekarang jika harus memilih mana film animasi terbaik, dari DWA atau Pixar, walau pada akhirnya studio yang terkenal dengan “Toy Story”-nya itu yang menang…tipis.

Tahun ini pun justru “Cars 2” dari Pixar yang ketiban sial, mendapat respon negatif dari para kritikus, dan bukan tidak mungkin DWA dengan film jagoan-jagoannya tahun ini, termasuk “Kung Fu Panda 2” akan lebih berjaya di ajang penghargaan, Oscar misalnya. Tapi masih terlalu dini untuk berspekulasi, karena 2011 pun masih menyisakan beberapa film animasi, yah termasuk “The Adventures of Tintin” yang ditunggu-tunggu itu. Lalu berbicara soal “Kung Fu Panda 2”, sebagai sebuah sekuel, pasti penonton yang pernah menonton film pertama dan menyukainya, berharap film kedua punya sesuatu yang lebih daripada predesesornya. Jennifer Yuh, yang di film pertama ikut andil sebagai sutradara untuk adegan pembuka-nya, yah yang dikemas dengan dua dimensi itu, sekarang kembali duduk di bangku sutradara, bedanya kali ini untuk mengarahkan keseluruhan film. Well, hasilnya bisa dikatakan memuaskan, Jennifer tahu bagaimana membuat sebuah sekuel. Memenuhi ekspektasi penonton yang menginginkan film ini untuk lebih lucu, lebih seru, dan lebih punya banyak adegan kungfu. Tidak hanya memiliki sesuatu yang “lebih” film ini juga tidak melupakan “jurus” rahasia yang membuat film pertama disukai, yaitu ceritanya yang bisa mengajak emosi penonton ikut berbaur didalamnya. Yah berkat duo penulisnya, Jonathan Aibel dan Glenn Berger (Kung Fu Panda, Monsters vs. Aliens).

Review Kung Fu Panda 2

Po (Jack Black) diceritakan sudah menjadi Dragon Warrior, seperti apa yang dia impikan selama ini, dengan kekuatan besar berada ditangannya, tanggung jawab besar pun kini dipikul oleh Po. Masih dengan gaya “tidak serius”-nya Po dibantu dengan teman-teman yang tergabung dalam The Furious Five, Tigress (Angelina Jolie), Viper (Lucy Liu) Mantis (Seth Rogen), Monkey (Jackie Chan), dan Crane (David Cross) harus selalu siap siaga menjaga Valley of Peace dari segala macam kejahatan yang mengancam kedamaian lembah tersebut. Pada suatu hari, ketika mencoba melindungi desa pemusik dari serangan bandit-bandit serigala, Po tidak sengaja melihat sebuah simbol. Memori masa lalu segera terhampar sesaat setelah Po melihat simbol tersebut, sebuah flashback yang diyakini ada kaitannya dengan siapa orang tua Po yang sebenarnya. Mr. Ping (James Hong), langsung membenarkan bahwa Po bukan anak kandungnya, dahulu dia menemukan Po di sebuah kotak sayuran, lalu kemudian mengangkatnya sebagai anak. Selagi Po gusar tentang jati dirinya, berita buruk datang mengabarkan jika Master Thundering Rhino (Victor Garber), penjaga kota Gongmen tewas terbunuh oleh sebuah senjata mematikan buatan Lord Shen (Gary Oldman). Senjata tersebut juga akan digunakan Shen untuk melenyapkan kungfu dan menguasai China. Po dan Furious Five pun ditugasi untuk pergi ke kota Gongmen, menghancurkan senjata tersebut dan menghentikan ambisi jahat Shen.

Saya akan katakan ini di awal, selama 90-an menit, “Kung Fu Panda 2” sudah berhasil membuat saya tertawa dari awal sampai akhir, formula komedinya memang tidak benar-benar baru, masih mengandalkan Po dengan segala tingkah-lakunya yang konyol. Namun Jennifer Yuh mampu menempatkannya dengan pas di setiap adegan, tidak berlebihan dan sanggup membaur dengan adegan perkelahian sekalipun. Dibilang lebih lucu dari film pertama, tentu saja… dari “keluguan” Po, dialog-dialognya, sampai suara perutnya yang khas ketika disentuh, semua berkolaborasi untuk satu tujuan: membuat kita guling-guling di lantai, tertawa. Jurus-jurus komedi yang ditawarkan bukan satu-satunya aksi yang akan kita lihat di “Kung Fu Panda 2”, film ini juga memiliki adegan-adegan fighting yang jelas lebih banyak dari predesesornya. Aksi-aksi kungfu yang diperagakan oleh Po dan kawan-kawan pun dikemas dengan koreografi yang sangat indah. Perkelahian pun tak ubahnya seperti tarian yang terdiri dari pukulan dan tangkisan, dengan tempo yang cepat. Untuk urusan action, film dengan bujet $150 juta ini tahu betul bagaimana membuat penonton senang dan terhibur, dengan desain pertarungan yang anggun dan juga seru, kita pastinya akan selalu menunggu aksi apalagi yang akan dihadirkan Po.

Kelebihan “Kung Fu Panda” dari film-film DWA lainnya adalah gambarnya yang indah dengan mengambil unsur-unsur eksotis dari negeri China, keajaiban goresan tangan para animator dan kreatifitas mereka pun berlanjut dalam film kedua. Dari segi animasi, saya akui memang bagus dan makin terlihat jelas ketika memakai kacamata 3D, setiap aksi Po menjadi semakin cantik dengan latar belakang pemandangan yang spektakuler. Ya, selain komedi dan kungfu, keindahan visual juga yang akan “dijual” oleh “Kung Fu Panda 2”, memanjakan mata dan membuat penonton betah melahap kisah petualangan Po beserta kawan-kawannya dalam membasmi kejahatan dan musuh baru. Semua kelebihan yang dimiliki film ini akhirnya ditopang oleh setiap karakter, lama dan baru, tentu saja tidak lupa dengan mereka yang meminjamkan suaranya. Jack Black, Angelina Jolie, Lucy Liu, dan para pengisi suara karakter-karakter animasi disini memang sangat berperan dalam menghidupkan tokoh yang mereka suarakan, dan untuk pekerjaan rumah tersebut, mereka sudah mengerjakannya dengan baik. Terlebih lagi Gary Oldman yang kedapatan porsi untuk menyuarakan seekor burung merak jahat bernama Lord Shen. “Kung Fu Panda 2” dengan ceritanya yang kali ini agak “dark” namun masih wajar sebagai tontonan keluarga khususnya konsumsi anak-anak, merupakan paket hiburan yang lengkap, dari komedi sampai adegan laga, semua dipikirkan masak-masak untuk menghasilkan film yang total dalam menghibur, lucu sudah pasti namun juga punya hati untuk dibagi.

Rating 4 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Deathgasm (...
Review - Ghost Diary...
Review - Blair Witch...