Review: Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap

written by Rangga Adithia on August 25, 2011 in Asian Film and CinemaTherapy and Comedy and Film Indonesia with one Comment

Review Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap

Walaupun disana terpampang nama Lydia Kandou, “Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap” tak ada sangkut pautnya dengan film komedi era 80-an, karya Chaerul Umam, “Kejarlah Daku Kau Kutangkap”. Ya awalnya saya pikir ini sebuah sekuel, karena ada si pemeran Ramona di film itu, namun setelah ditonton, saya menjamin jika film yang disutradarai oleh Indrayanto Kurniawan ini 100% film yang beda. Yang membuatnya sama hanya ada nama Lydia Kandou dan sama-sama bertema komedi, sebuah genre yang bisa saya bilang sulit, yup membuat orang tertawa itu pekerjaan yang tidak gampang. Bagi saya film lucu-lucuan itu tidak sekedar membuat pemain-pemainnya sampai babak belur, hanya untuk bisa membuat penontonnya tertawa, kebiasaan kita selalu tertawa ketika melihat orang lain susah. Makanya acara-acara komedi televisi sekarang doyan bener mengeksploitasi kekerasan, masa bodoh dengan pemberitahuan “memakai properti yg tidak melukai” bagi saya itu tetap bodoh. Seperti saya bilang, susah sekali bikin orang lain tertawa, apalagi membuat komedi cerdas yang mengandalkan racikan jenius sebuah dialog. Mungkin di Indonesia, hanya trio Dono-Kasino-Indro yang belum bisa terkalahkan untuk urusan bisa bikin tertawa dengan celetukan-celetukan lucunya yang cerdas.

Kembali ke KJKK, film komedi yang ceritanya ditulis oleh Benni Setiawan (3 Hati Dua Dunia Satu Cinta) ini, bisa dikatakan mengadopsi kisah yang tidak lagi baru, seorang pria kampung jatuh cinta dengan gadis kota cantik jelita. Keluguan dan kebodohan si tokoh utama pria menjadi senjata utama film ini dalam memancing tawa penonton, lucu? Saya akui beberapa saat setelah film dibuka, saya masih bisa tertawa dengan lakon Andhika Pratama yang berbahasa Sunda, namun sajian komedi yang ditawarkan tidak mengalami perubahan, malah banyak mengulang kelucuan yang sama. Alhasil sudah bisa ditebak, selain saya agak tersinggung melihat betapa orang Sunda diperlihatkan begitu bodohnya bukan main, semua siasat komedi yang ada hanya menyisakan satu kata: membosankan!!

Asep (Andhika Pratama) diceritakan anak satu-satunya dari keluarga terpandang di desa, ayahnya sudah tiada dan sekarang dia tinggal bersama Ibunya (Lydia Kandou). Pokoknya semua permintaan sang Ibu akan selalu Asep turuti, termasuk menikahi seorang gadis yang dipilih oleh ibunya, walau Asep yang taat sekali dengan agama ini, sama sekali tak menyukai gadis tersebut. Sebuah jembatan yang menghubungkan antar rumah Asep dan calon istrinya pun menjadi saksi, dimana takdir berkata lain, ketika Asep dipertemukan dengan gadis dari kota yang lewat didepannya dengan sebuah mobil. Tanpa pikir panjang dan menghiraukan Ibunya yang marah, Asep menyusul mobil si gadis. Sampailah Asep di sebuah kali, dimana Farah (Donita), nama gadis yang dikejar oleh Asep, bersama teman-temannya sesama model sedang melakukan sesi foto. Asep pun diberi kesempatan untuk menjadi pahlawan, ketika orang-orang kampung berniat menghakimi rombongan Farah, karena diyakini sudah “mengotori” kampung mereka dengan dandanan tidak pantas yang dikenakan. Beruntung Asep sukses menyelamatkan Farah dan kawan-kawan dari amukan warga kampung, dan akhirnya mengajak mereka untuk menginap di rumahnya. “Cinta pada pandangan pertama” membuat Asep ingin melakukan apapun demi Farah, sewaktu Farah kembali ke Jakarta, Asep pun menyusulnya. Maka dimulailah petualangan Asep si anak kampung dalam mencari cintanya di Jakarta.

Review Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap

Kelucuan film ini pada dasarnya berasal dari para karakternya yang dipaksakan untuk berbahasa Sunda, saya yang notabene orang sunda pastinya akan senyum-senyum sendiri mendengar dialog-dialog dalam film ini. Tapi tidak perlu orang Sunda juga untuk bisa mencerna komedi-komedi di film ini, karena penggunaan bahasa Sunda juga dicampur-campur dengan bahasa Indonesia, ditambah ada teks untuk membantu penonton yang tidak mengerti. Namun bagi saya yang mengerti, celetukan-celetukan tersebut akan lebih lucu terdengar dalam bahasa Sunda tanpa membaca teks-nya. Lydia Kandou saya bilang satu-satunya pemain yang paling bisa memanfaatkan bahasa Sunda dengan baik dalam KJKK, kelucuan-kelucuan yang dia tampilkan dengan logat Sunda disampaikan dengan pas, padahal dia bukan orang Sunda, malah Joe Project P alias Juhana Sutisna yang justru orang Bandung dan pelawak, kalah lucu dengan Lydia Kandou. Nah yang paling parah itu adalah Andhika Pratama, mungkin jika saya mendengarkan sambil menutup mata, apa yang keluar dari mulutnya akan jadi lucu. Berbeda lagi ketika saya melihat dia mencoba melawak dengan aksen Sunda, wajahnya yang dipaksakan untuk “kampung” itu tidaklah berhasil mewakili sama sekali. Hasilnya akan beda jika Sule yang jadi pemeran utamanya bukan Andhika, tidak perlu ngomong apa-apa, melihat mukanya saja sudah bikin ngakak.

Ok Andhika dan Donita masih bisa dibilang sanggup memerankan lakonnya dengan baik, namun hanya sebagai individu, berbicara soal chemistry mereka sebagai pasangan, saya tidak merasakannya. Karakternya tidak dibangun dengan baik, dan pertemuan Asep dan Farah yang singkat kemudian berubah menjadi cinta yang kilat sepertinya terlalu maksa. Ceritanya terlalu terburu-buru ingin mempersatukan Asep dan Farah tanpa pondasi latar belakang karakter yang kuat, saya sama sekali tidak mengenal siapa mereka sebenarnya. Asep walau lugu tapi membawa uang banyak ke Jakarta, sampai-sampai sanggup bayar taksi dengan dua ikat uang seratus-ribuan. Farah yang seorang model tiba-tiba saja punya masalah dengan pacar dan orang tuanya. Semua disimpulkan sendiri, serba tiba-tiba, dan tanpa punya niat untuk mengajak penonton ke dalam cerita. Ini memang film komedi, tapi mengapa tidak cerita juga digarap dengan serius dan tidak terkesan bolong disana-sini. Belum lagi ketika KJKK betul-betul fasih benar ketika “menghajar” keluguan serta kebodohan Asep, menjadi bulan-bulanan, hanya untuk melihat bahwa upaya memancing kelucuan itu gagal. “Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap” akhirnya hanya akan menjadi film komedi yang kesulitan sendiri dalam “menangkap” perhatian penonton untuk tertawa, saya sudah jenuh lebih dahulu melihat kebegoan Asep yang terus dipaksa agar jadi lucu, hasilnya justru memuakkan, ditambah Donita terus saja menangis di film ini.

Rating 2 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Aach... Aku...
Review - Juara (2016...
Review - Telaga Angk...