Review: Hantu Rumah Ampera

written by Rangga Adithia on August 6, 2011 in Asian Film and CinemaTherapy and Film Indonesia and Horror with one Comment

Review Hantu Rumah Ampera

Di “Hantu Rumah Ampera” (HRA), formula horor seorang Rudi Soedjarwo tampaknya sudah mengalami pergeseran, jika melirik “Pocong 2” dan “40 Hari Bangkitnya Pocong”, terlihat jelas film ini mulai agak berlebihan. Walau tidak se-lebay film-film karya Nayato, HRA tidak lagi punya feel horor yang sama seperti dua film horor Rudi sebelumnya, kali ini ada upaya pemaksaan, kalau film ini harus seseram dua film sebelumnya atau bahkan lebih. Sedangkan hasilnya justru sebaliknya “hanya seram” saja tok, HRA memang tidak jelek tapi tehnik menakuti disini sudah saya lihat di Bangkitnya Pocong, adegan di kamar mandi misalnya, terulang lagi disini, dengan hantu yang berbeda tentunya. Tampil seram saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan atmosfir ketakutan yang pas, apalagi film ini punya pola penampakan dan kejutan yang gampang ditebak.

Film dibuka dengan drama cinta ala SMA, yah boring! sepasang muda-mudi, Adit (Ben Joshua) dan Annisa (Rahma Landy) yang sedang dimabuk asmara, mereka berjanji untuk sehidup semati, dengan embel-embel gombal akan saling setia selamanya. Basilah! toh madingnya juga sudah mau terbit (apaan sih ini). Cerita kemudian loncat macam pocong ke 4 tahun kemudian, dimana Annisa yang melanjutkan kuliahnya di London, berencana pulang ke Indonesia, sekaligus memberi kejutan kepada Adit yang akan berulang tahun. Nah klise, tanpa sepengetahuan Annisa (pasti) Adit ternyata sudah punya kekasih lain di tanah air, namanya Lulu (Nadilla Ernesta)… oh tidaaaaaaak! (pasang lagu patah hati dan guling-guling galau di kasur). Adit sendiri yang baru saja pindah rumah tidak mengetahui jika kekasihnya dari SMA itu akan pulang, Annisa yang pergi diam-diam ke kampus pun akhirnya mengetahui kenyataan pahit tersebut, ketika di depan matanya sendiri ia melihat Adit sedang menggandeng perempuan lain. Annisa pun bunuh diri, come on!!

Review Hantu Rumah Ampera

Maaf bagian bunuh diri itu hanya karangan, film ini tidak sebodoh itu, Annisa memang tidak pernah bunuh diri, tapi perlahan sedang membunuh dirinya sendiri dengan diam-diam selalu memantau Adit dan aktivitas asmaranya dengan pacar barunya. Di luar drama cinta antara Adit dan Annisa, horor mulai menggerogoti kedamaian keluarga Adit, yang seharusnya bahagia tinggal di rumah baru. Ada-ada saja memang, rumah yang bertempat di jalan Ampera tersebut, menjelaskan kenapa judulnya sekali lagi norak seperti itu, tiba-tiba banyak setan. Hmm setannya sih hanya satu biji, hanya saja frekuensi penampakan dan gangguan disebabkan setan ini sering sekali. Dari mulai sesi menangis di kamar yang gelap sampai “jahil” ikutan sholat bersama Ibunya Adit, untuk adegan yang satu ini saya akui jempolan, merinding sangat bulu kuduk ini. Apakah pernah terjadi pembunuhan di rumah tersebut, atau penghuni sebelumnya bunuh diri dan gentayangan, atau ada misteri yang lebih besar bersembunyi dibalik kemunculan hantu perempuan?

Jika di “40 Hari whatever-whatever” ada Sabai Morscheck yang bisa dikatakan berakting cemerlang, di HRA tidak ada acungan jempol untuk urusan akting. Terutama Ben Joshua, yang notabene pelaku utama, seharusnya bisa membawa penonton ke tengah situasi yang dialaminya, tapi dengan akting yang datar dengan mimik wajah yang biasa, hasilnya yah malah nihil. Ketakutan di film ini muncul karena memang semata-mata adegan yang ada dibuat seram, sedangkan akting ketakutan para pemainnya justru tidak terasa, kaget dan teriak, bersembunyi di pojokan yang gelap, itu saja. Jadi film ini benar-benar bergantung pada bagaimana si setan dengan cakap menakuti kita, dengan arahan dari Rudi. Padahal saya selalu mengandalkan Rudi yang biasanya mampu memaksimalkan karakter dalam filmnya, mem-push para pemainnya untuk bermain “asyik”, terutama di film horor. Kali ini semua pemainnya tidak asyik, kecewa tapi beruntung ada si setan.

Seperti yang saya bilang di paragraf awal, HRA tidak jelek, tapi keinginan film ini untuk menakuti penontonnya terlampau memaksa, satu: dengan penampakan yang terlalu sering dan kedua: formula yang nantinya dipakai oleh film-film Nayato, yaitu efek suara horor yang dipaksa hingar bingar, berisik. Dengan cerita yang mudah ditebak, melahap film ini sebetulnya membosankan, tali pengikat yang masih membuat saya betah hanya kejutan apalagi yang akan diberikan film ini. Bermacam-macam penampakan sudah dihadirkan selama 85 menit film berjalan dengan alur yang agak lamban. Beberapa masihlah mampu menantang mental ini untuk menciut lebih dahulu, sebelum si hantu ampera benar-benar menampakan dirinya, entah itu disebelah pemain hingga iseng nempel di langit-langit rumah, macam cicak saja. Beberapa penampakan juga membosankan, tapi walaupun saya bilang begitu, tetap saja masih dalam koridor horor yang cukup efektif dalam menakuti. “Hantu Rumah Ampera” masih layak untuk dimasukkan dalam daftar horor yang seram, tidak seseram film Rudi sebelumnya memang. Kira-kira kapan yah Rudi Soedjarwo akan buat film horor lagi, dengan tiga film horor sebagai pembuktian, sudah cukup modal saya untuk menunggu film horor berikutnya dari sutradara “Kambing Jantan” tersebut.

Rating 3 Tengkorak

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Deathgasm (...
Review - Don't Breat...
Review - Train to Bu...
Review - Ouija: Orig...