Review: Wu Xia (Dragon)

written by Rangga Adithia on July 9, 2011 in Action and Asian Film and CinemaTherapy and Drama with 2 comments

Review Wu Xia

Nama Donnie Yen sepertinya memang sudah menjadi jaminan, jika film yang akan anda tonton nanti akan penuh dengan adegan laga yang apik. Setidaknya jika film tersebut pun didominasi oleh drama dan ada secuil adegan action, maka pastinya akan digarap dengan tidak main-main. Apalagi jika nama Donnie Yen terdaftar sebagai action director-nya, keterlibatannya pasti menghasilkan permainan baku hantam yang mengesankan walaupun secara keseluruhan filmnya akan membosankan, seperti yang terjadi pada film Donnie sebelumnya, “The Lost Bladesman”. Kali ini di film terbarunya, Donnie kembali duduk di bangku action director, di sebuah film karya Peter Ho-Sun Chan, lebih dikenal dengan Peter Chan, “Wu Xia” (Dragon). Donnie tentu saja jadi tokoh utama disini, sebagai Liu Jin-xi, ditemani Takeshi Kaneshiro yang berperan sebagai seorang detektif bernama Xu Bai-jiu, sebagai “pemanis”, dihadirkan Tang Wei (Lust, Caution).

“Wu Xia” yang berlatar belakang zaman Dinasti Qing, dibuka dengan aktivitas pagi hari Jin-xi bersama keluarganya, kemudian dia bekerja di sebuah pabrik kertas. Namun hari itu tidak seperti hari-hari sebelumnya, karena Jin-xi menyaksikan toko kelontong tempat dimana dia bekerja didatangi oleh sepasang penjahat. Tentu saja kedua pria bertampang sangar dan membawa senjata yang dibalut dengan kain ini, bukan berkunjung untuk membeli kebutuhan rumah tangga, melainkan jelas-jelas berniat merampok. Jin-xi yang sedang bersembunyi akhirnya memutuskan untuk “mengganggu” para perampok. Entah karena kemujuran atau apa, Jin-xi bisa mengalahkan mereka, bahkan keduanya terbunuh ditangan Jin-xi, yang di mata orang awam sepertinya kedua perampok itu memang sedang sial, karena tampak jelas Jin-xi  tidak melakukan gerakan yang mematikan, malah dia terlihat bukan seperti seorang jago kungfu. Namun semua berubah ketika Xu Bai-jiu datang ke desa Jin-xi, investigasi Bai-jiu yang sangat detil, termasuk menghubungkan kematian kedua penjahat dengan ilmu medis, mengarahkan dia kepada kesimpulan bahwa Jin-xi bukanlah pembuat kertas biasa, dia bukan orang yang kelihatannya tidak bisa apa-apa. Kedua penjahat yang tewas tersebut bukan terbunuh karena kecerobohan mereka sendiri atau kemujuran lawannya, tapi karena Jin-xi lebih hebat dari mereka.

Review Wu Xia

Bagi yang berharap “Wu Xia” akan menawarkan banyak adegan pertarungan disana-sini, bersiaplah untuk kecewa, alih-alih memasukan sederet aksi Donnie Yen memamerkan keahliannya ber-kungfu ria, Peter Chan lebih memilih untuk menyingkirkan porsi action, tapi bukan untuk di-anaktirikan. Kemudian menyajikan hamparan drama yang akan berisi pendalaman kepada masing-masing karakter sentralnya, dibubuhi benturan konflik yang makin membuat “Wu Xia” tidak hanya “bersinar” karena terdapat hiburan berupa tarung satu lawan satu yang dahsyat, tetapi juga Peter dengan mahir mampu meletakkan sebuah pergolakan batin yang menarik pada setiap karakternya, terutama Jin-xi dan adu pintar alias kucing-kucingan antara dia dan Bai-jiu si detektif yang bersikeras untuk membuka jati diri sebenarnya dari si pembuat kertas. Baiklah, saya sendiri memang menginginkan film si sutradara yang pernah membesut “The Warlords” ini untuk mengasah lebih tajam filmnya dengan adegan demi adegan kungfu, bukan sebaliknya membuatnya jadi tumpul dengan dominasi drama yang dilebih-lebihkan. Tapi asyiknya, Peter tidak sedang main-main, sama halnya dengan bagian pukul-pukulan, drama pun bukan sembarang drama.

Oke, dengan durasi yang tidak sebentar, 116 menit, melahap asupan drama yang dengan baik hati ditawarkan oleh Peter juga bukan hal yang mudah. Bagian-bagian yang cukup membosankan juga tidak luput kerap menyerang, apalagi ketika adrenalin kita sedang diajak asyik-asyiknya menaiki tangga, Peter terkadang dengan jahatnya membawa kita semua turun dengan cepat, dari action yang memanjakan mata terjun bebas dan jatuh dalam pelukan drama yang mendalam tapi tidak cengeng. Dalam “The Warlords” yang kesannya juga akan banyak meenawarkan banyak adegan action pun, Peter lebih senang mendominasinya dengan drama, jadi sebetulnya tidak perlu kaget. Namun jujur, sangat disayangkan ketika adegan pamer tonjokan, tendangan, dan permainan senjata justru jadi lebih sedikit, padahal jika saja cerita lebih dipadatkan dan adegan kungfu diperbanyak, wow film yang sempat premier di Cannes kemarin ini bisa lebih memuaskan. Tunggu dulu, bukan berarti ketika Peter menjadikan “Wu Xia” seperti sekarang ini, filmnya jadi buruk, tidak juga, film yang punya judul internasional “Dragon” ini (tidak ada naga kok di film ini) masih tetap memukau karena bisa membaurkan adegan beladiri yang ciamik dengan balutan drama yang diceritakan dengan baik.

Sepertinya saya tidak perlu menggambarkan se-ciamik apa adegan laga dalam “Wu Xia”, silahkan menontonnya sendiri untuk membuktikan, setiap mata pastinya punya pendapat yang berbeda-beda, yang jelas AWESOME! dan menghibur sekali. Donnie Yen pun lagi-lagi membuktikan dia adalah “jagoan” yang betul-betul bisa diandalkan. Sebetulnya sih untuk urusan akting bisa dibilang biasa saja, tapi karena ditutupi oleh kelihaiannya dalam menyajikan aksi-aksi seru kungfu, Donnie terlihat begitu bersinar dan mempesona. Nah justru Takeshi Kaneshiro yang disini bisa dibilang kedapatan berakting prima. Takeshi yang akhir-akhir ini menjadi langganan film-film Peter Chan sanggup memerankan sang detektif dengan begitu meyakinkan, diselipkan dengan aksi-aksinya yang terkadang juga komikal. Sama seperti karakter Jin-xi yang dibentuk, dibangun, dan digali dengan begitu dalam dan menarik, karakter Bai-jiu yang diperankan Takeshi juga tidak kalah menyita perhatian, apalagi dengan dukungan performa mantap dari aktor yang pernah bermain di “Chungking Express” karya Wong Kar-wai ini. Apalagi ketika Bai-jiu mulai pamer skill-nya dalam menginvestigasi jati diri Jin-xi, dengan segala kepintarannya dalam medis dan memberi kesempatan kita untuk melihat sudut pandangnya, lewat “reka ulang” yang pasti membuat penonton bengong terkesima. Sekilas mengingatkan kita dengan aksi Robert Downey di Sherlock Holmes (2009). Lengkaplah film ini dengan penampilan Tang Wei, yang mampu membawakan karakternya, istri Jin-xi, dengan baik. “Wu Xia” pun menjadi lengkap, karena tidak saja asal main pukul, tapi juga menyenggol hati lewat dramanya yang mendalam, walau agak membosankan tapi masih layak dinikmati.

Rating 3.5 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Bone Tomaha...
Review - Iblis (2016...
Review - Ada Apa Den...