Review: Shelter

written by Rangga Adithia on July 11, 2011 in CinemaTherapy and Hollywood and Thriller with no comments

Review Shelter

Julianne Moore, salah-satu aktris favorit saya, jago ketika berakting di film drama dan cocok sekali pada saat nyemplung ke film bertema thriller, walau terkadang akting wanita yang sudah menginjak umur 50 tahun ini tidak jauh berbeda, bisa dikatakan begitu-begitu saja, tapi jika itu thriller dan ada nama Moore disana, saya akan selalu penasaran untuk melihat filmnya. “Shelter” sekali lagi mengharuskan Moore untuk bermain-main dengan misteri yang mengancam nyawanya dan juga anak perempuan satu-satunya, sekilas jika ada yang ingat, seperti membawa kembali Moore ke film “The Forgotten”, dimana dia harus berjibaku dengan sebuah “kekuatan” dan menyelamatkan anaknya. Tentu saja film ini punya cerita yang berbeda, Michael Cooney (Identity) duduk di bangku penulis dan bangku sutradara dipercayakan kepada Mans Marlind dan Bjorn Stein.

“Shelter” sendiri dibuka dengan seorang psikiater, Cara Harding (Julianne Moore) yang sedang membicarakan sebuah kasus dan membeberkan jika yang namanya “kepribadian ganda” itu tidak ada, hanya sebuah lelucon yang sering kita lihat di film-film Hollywood. Setelah itu, ayahnya (Jeffrey DeMunn), yang berprofesi sama, menghubunginya ketika Cara sedang berada di airport untuk pulang. Ayahnya memberitahu jika dia menemukan seorang pasien yang tidak biasa, meyakinkan Cara jika dia pasti tertarik dengan pasien yang satu ini, kemudian “memaksa” Cara untuk menemuinya. Dia pun bertemu dengan seorang pria yang memperkenalkan diri sebagai David Tratenberg. Cara pun memulai beberapa tes dan bertanya macam-macam kepada David, sedangkan ayahnya memantau dari balik kaca. Cara tidak melihat sesuatu yang aneh dengan pasien yang kata ayahnya ini “spesial”, David menjawab pertanyaannya dengan normal dan tesnya berjalan mulus-mulus saja. Ayahnya kemudian menelepon ke ruangan “interogasi”, dimana David duduk dengan tenang, mendengar telepon berdering beberapa kali dan melihat tidak ada orang disekelilingnya, David pun mengangkat telepon tersebut. “Saya mencari Adam Saber”, begitulah yang didengar David di telepon, dia pun membalas Adam tidak ada. Selang beberapa detik kemudian, suara aneh pun terdengar. Cara kembali masuk ke ruangan dan melakukan tes yang sama, orang yang di depannya memang tidak berubah, dia David, tapi semua prilaku dan aksen bicaranya berbeda jauh sekali. David telah berubah menjadi Adam. Apakah ini semacam kepribadian ganda?

Review Shelter

Saya suka isi kepala Michael Cooney yang dituangkan menjadi ide untuk “Shelter”, tapi setelah dijabarkan menjadi sebuah film berdurasi 112 menit, saya katakan dengan cukup lantang, jika film ini membosankan. Bagaimana duo Marlind dan Stein pun bisa dibilang terlalu lama dalam membangun misteri dan teka-teki menyangkut keanehan yang dialami oleh David, maksud saya Adam…errr yah pokoknya pasien “spesial” Cara tersebut. Yah, alur lambat memang tidak selalu membuat film menjadi sulit untuk dinikmati, banyak film yang bermain pelan-pelan tapi punya trik tersendiri untuk mencengkram penonton, yang tanpa disadari sudah terbawa oleh arus cerita film tersebut, contoh film-film dari negeri Eropa sana, intinya tidak semua film beralur lambat itu jelek. Berbeda dengan “Shelter”, yang melaju pelan tapi sepertinya malas untuk memikirkan apakah penonton masih menikmati ceritanya atau tidak. Oke, film yang aslinya rilis tahun 2010 ini, namun baru “dikeluarkan dari gudang” dan tayang di Indonesia sekarang, memang masih bisa dikatakan terlatih untuk mengurung kita dalam rasa penasaran. Sayangnya tidak mampu membuat saya nyaman dalam menikmati geliat penasaran itu, inginnya cepat-cepat saja film ini membuka tabir misteri yang ada dan beritahu siapa sebenarnya Adam.

Marlind dan Stein memang tidak seburuk itu dalam mengarahkan “Shelter”, apalagi saat mereka mampu bekerja sama dengan Linus Sandgren, dalam menyajikan gambar-gambar yang pas dengan mood dan alur filmnya. Itu bisa terlihat dengan jelas, ketika kamera mencoba menangkap mood film yang notabene bergerak lambat, dengan gerakan kamera yang juga bergerak pelan dan membuat kita bertanya-tanya, ada apa diujung sana, atau juga kadang sebaliknya ingin cepat-cepat sampai di ujung pintu, bagi mereka yang tidak sabar. Marlind dan Stein juga cukup lihai dalam menyiapkan beberapa kejutan, momen-momen dimana mereka membuat penontonnya kaget saya akui cukup berhasil, walaupun bisa dibilang memakai trik itu-itu lagi dan basi. Sangat disayangkan memang pada saat “Shelter” seharusnya bisa menjadi thriller yang keren tapi “terpeleset” untuk menumpuk segala macam basa-basi. Hingga cerita akhirnya mulai terlihat mengarah kemana dan kita sudah bisa menebak “apa yang sebenarnya terjadi”, film ini pun masih asyik mengajak penonton untuk berputar-putar dengan penyelesaian misteri yang tampak konyol, dengan memilih jalan pintas yang sangat “Hollywood sekali”. Namun sekali lagi kejutan-kejutan itu menolong film ini untuk tidak terperosok lebih dalam.

Apalagi yang menolong film ini? tentu saja performa akting Julianne Moore yang mampu meyakini penonton untuk setia mengikuti dia, walau sebetulnya sudah dibuat “tertidur” dengan tidak menariknya “Shelter” dalam membangun misterinya. Film thriller yang memang tipikal film yang dibuat khusus untuk Moore, dengan akting “ngotot” khas dia dalam mengobrak-ngabrik bukti untuk mendukung keyakinannya, dan tentu saja untuk menyelamatkan nyawanya dan orang-orang yang disayangi. Sedangkan lawan mainnya Jonathan Rhys Meyers, cukup baik dalam memerankan “banyak” karakter, tapi memang tidak begitu menyita perhatian dan aktingnya sebagai antagonis pun gampang dilupakan, atau lebih tepatnya tidak dipedulikan. “Shelter”, tak pelak hanya akan menjadi sebuah film thriller dengan balutan misteri disana-sini, yang berakhir tidak begitu istimewa, yah mampu mengurung kita untuk merasakan penasaran tapi tidak sanggup membuat formula yang pas agar penontonnya betah. Ide yang menarik itu pun jadi sia-sia walaupun tidak seluruhnya terbuang percuma. Beruntung “Shelter” masih punya jajaran pemain, khusus-nya Julianne Moore, yang mampu menampilkan akting baik, membuat kita masih mampu terhibur ketika film mulai menentukan takdir masing-masing pemain.

Rating 2.5 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - A Copy of M...
Review - Ada Apa Den...
Review - Train to Bu...
Review - Blair Witch...