Review: Larry Crowne

written by Rangga Adithia on July 20, 2011 in CinemaTherapy and Comedy and Hollywood and Romance with no comments

Review Larry Crowne

Dalam urusan berakting pemeran Viktor Navorski dalam “The Terminal” ini memang tak usah lagi dipertanyakan, selalu bisa membawakan perannya dengan baik, sekalipun tidak menampilkan wajahnya, alias hanya menyumbangkan suaranya, seperti dalam franchise “Toy Story” misalnya. Dalam film animasi produksi Pixar tersebut, Tom Hanks mampu meniupkan nyawa kepada mainan koboi bernama Woody, alhasil kita tidak hanya melihat mainan yang bisa berbicara tapi juga sanggup berkomunikasi dengan penontonnya. Kali ini Hanks tidak saja terlibat sebagai tokoh utama, seorang pria paruh baya yang baru saja dipecat dan kemudian menemukan cintanya, namun juga menyutradarai filmnya sendiri. “Larry Crowne” pun sebetulnya bukan pengalaman pertama Hanks dalam menyutradarai sebuah film, debutnya diawali bersama “That Thing You Do!” di tahun 1996. Tapi Hanks sebenarnya sudah pernah duduk di bangku sutradara sebelum itu, pada tahun 1992 dia menyutradarai sebuah serial televisi, “Tales from the Crypt”, di episode “None But the Lonely Heart”. Dalam “Larry Crowne”, Hanks juga dipertemukan kembali dengan aktris pemenang Oscar, Julia Roberts, yang sebelumnya terlihat berduet dalam Charlie Wilson’s War (2007). Jadi bagaimana aksi si “Forrest Gump” ini di depan kamera dan sekaligus di belakang layar, sebagai sutradara?

Walau terlihat mendorong-dorong kereta belanja dan berada di area perbelanjaan, Hanks sedang tidak menjadi Viktor Navorski dalam sekuel The Terminal, melainkan seorang pria paruh baya bernama Larry Crowne. Pernah mendedikasikan hidupnya di angkatan laut selama 20 tahun, bukan sebagai prajurit tetapi koki, Larry sekarang bekerja di sebuah supermarket. Walau tidak pernah dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi, Larry selalu berhasil mendapat penghargaan sebagai pegawai terbaik. Namun hari ini berbeda, Larry dipanggil ke ruangan direksi, walau tidak pantas juga disebut ruangan, bukan untuk sekali lagi diakui sebagai pegawai terbaik ke-10 kalinya tetapi untuk dipecat. Oleh karena Larry tidak pernah mencicipi bangku kuliah, pihak perusahaan memakai alasan tersebut untuk memberhentikannya. Setelah bercerai dan hidup sendiri dengan tumpukan hutang, hidup Larry makin berat saja karena sulitnya mencari pekerjaan baru. Hingga akhirnya seorang teman sekaligus tetangganya, Lamar (Cedric the Entertainer) menasehatinya untuk masuk ke sebuah universitas lokal. Larry pun kembali kuliah untuk pertama kalinya, mengambil kelas ekonomi dan satu lagi, sebuah kelas unik yang mempelajari bagaimana berpidato. Kehidupan barunya sebagai anak kuliahan bisa dibilang menyenangkan, mendapat teman baru yang mengajaknya untuk bergabung di komunitas skuter, dan bertemu dengan guru yang menarik perhatiannya, Mercedes (Julia Roberts).

Review Larry Crowne

Nama besar Julia Roberts, begitu juga Tom Hanks, sudah barang tentu membuat “Larry Crowne” mendapat ruang ekspektasi yang lebih luas dari para calon penontonnya, itu juga mungkin yang membuat respon “tidak puas” muncul ketika film ini ternyata tidak seperti apa yang dibayangkan. Walaupun setelah menontonnya sendiri, menurut saya tidak sejelek apa yang dibicarakan, saya akui dari segi cerita memang terlampau biasa, film ini benar-benar tertolong oleh Roberts dan Hanks yang mampu menghibur penonton dari awal sampai akhir cerita. Mengetengahkan tema cinta paruh baya dengan balutan komedi, “Larry Crowne” saya dapat rasakan berjalan tanpa sebuah beban yang macam-macam, film ini betul-betul ingin menghibur dengan segala pernak-pernik kelucuannya. Untuk urusan membuat penontonnya tertawa, termasuk saya, film yang naskahnya ditulis oleh Tom Hanks sendiri bersama dengan Nia Vardalos (My Big Fat Greek Wedding) ini betul-betul terlihat percaya diri, oleh karena itu lelucon-lelucon yang dilemparkan selalu saja sukses merangsang syaraf-syaraf yang tegang untuk melonggar, hasilnya beberapa senyuman dan tawa akan selalu menghiasi kisah Larry mengarungi kehidupan barunya.

Berbicara soal ceritanya yang biasa itu, coretan Hanks dan Vardalos diakui memang tidak menawarkan sesuatu yang baru, ditambah lagi plot yang dihadirkan juga berlalu dengan datar. Kemudian ketika “Larry Crowne” memasuki fase konflik pun, film ini masih juga datar, tidak terlalu mengguncang sisi emosional penontonnya, bisa dibilang kurang akrab dalam mengajak kita untuk ikut merasakan, mungkin rasa simpatik yang cukup kepada Larry, itu pun karena nasibnya yang malang. Sebetulnya dikatakan saya peduli dengan cerita film ini yang biasa juga tidak sepenuhnya benar, tapi seharusnya, harapan saya sih memang bisa lebih baik dari ini. Kepedulian saya terfokus pada bagaimana dengan cerita yang biasa, “Larry Crowne” tetap mampu menghibur penontonnya, yah film ini masih mampu untuk tampil fun dengan segala kekurangannya. Dengan durasi yang tidak terlalu panjang, 98 menit, saya rasa pas untuk menceritakan kisah Larry yang sama sekali tidak membosankan, masih tetap menarik melihat bagaimana dia beradaptasi dengan tempat dan kawan-kawan baru yang jauh lebih muda, survive setelah dipecat, dan mendapatkan cinta yang baru pula, lewat seorang dosen yang juga punya masalah dengan kehidupan rumah tangganya. Film ini menarik? Seperti saya katakan sebelum, “Larry Crowne” itu menyenangkan dan masih layak dilabeli dengan tulisan “manarik”.

Sulit sepertinya menolak karisma Julia Roberts dan Tom Hanks dalam sebuah film, pada saat mereka berduet dalam satu film, itu jelas makin menambah rasa penasaran dan daya tarik untuk melihat “Larry Crowne” tentu semakin besar. Walaupun pada akhirnya kedua bintang yang sama-sama pernah memenangkan Oscar ini tidak terlalu “wah” dalam soal menjalin chemistry-nya. Tapi hubungan mereka masih bisa dibilang manis dan tentunya tetap mengundang senyum sekaligus tawa. Karena ini pun bukan film bernuansa komedi romantis pertama bagi Julia Roberts dan Tom Hanks, keduanya bisa tampil baik, selalu bisa menggoda kita untuk tertawa lepas, khususnya dialog-dialog yang ditempelkan pada setiap adegannya. Cedric the Entertainer yang memang seorang komedian pun mencuri perhatian disini, walau porsinya tidak terlalu banyak, tapi kemunculannya ditempatkan di saat yang tepat. Yah “Larry Crowne” memang bukan sebuah komedi romantis yang bisa mencuri hati untuk menjadi yang spesial, tapi sebagai sebuah hiburan, film ini masih bisa dikatakan sebagai film yang menyenangkan hati. Dengan lelucon-leluconnya yang cukup pintar dan segar, dijamin rasa bosan itu akan menjauh dan penonton akan tertawa senang dari awal hingga akhir, film yang sayang untuk dilewatkan.

Rating 3 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Indonesia K...
Review - Lights Out
Review - The Girl wi...
Review - Under the S...