JRL 2011: Berdansa Bersama Dolores dan Ugal-Ugalan Bareng Begundal Burgerkill

written by Rangga Adithia on July 24, 2011 in Concert Report with one Comment

JRL 2011

Java Rockin’Land!!, setelah skip tidak datang tahun kemarin, akhirnya gw balik lagi ke pantai carnaval, Ancol, untuk event musik rock (nga hanya rock sih sebetulnya) tahunan yang bisa dibilang paling besar di Indonesia ini. Well, niatnya gw mau meluncur ke TKP dari sore, supaya sempat berdiri di depan panggung ketika “Kelelawar Malam” main, tapi band unik yang mengusung genre metal horor ini pun terlewat, karena gw baru sampai di venue sekitar pukul 8 malam, sedangkan “Kelelawar Malam” sudah beraksi sejak sekitar pukul 6 Sore. Sedih juga harus mencoret list “wajib tonton” di #JRL tanpa menontonnya, penyebabnya banyak sih, termasuk yang paling menghambat adalah si komo alias macet. Namanya juga Jakarta, ada upil menghalangi jalan aja bisa macet, apalagi ada acara gede-gedean macam JRL ini. Karena macet ini pun gw mesti parkir lumayan jauh dari tempat diadakannya acara, 2-3 kilometer ada kali yah (lupa ngukur pake meteran sih), untunglah ada abang ojek yang baik hati mau mengantar, yah tentu saja setelah diberi imbalan uang 20 ribu rupiah, mahal plus nga nyampe tempat yg dituju, jalan lagi, lumayan olahraga.

Tulisan ini semacam curhat anak abg ya, nga kaya reportase konser gw sebelumnya, oke mari kita lanjut. Sesampainya di gerbang masuk utama, seperti biasa harus melewati yang namanya pengecekan tiket, pemeriksaan badan, terakhir perobekan tiket, barulah gw bisa masuk ke dalam. Komentar pertama gw: “kok rame yah?!”, emang agak bodoh dan kalau diingat agak memalukan. JRL tahun ini emang lebih ramai dari sisi yang datang dan juga beraneka ragam booth, dari booth makanan, minuman, dan lain-lain, yang terhampar di area pantai carnaval. Pengennya sih keliling tapi karena mengejar “Jasad”, gw langsung ngesot menyeberang dua panggung besar yang ada di tengah area. “Jasad” ternyata sudah dikubur, alias sudah selesai main, panggung udah sepi, gw sekali lagi hanya bisa manyun dan meratapi nasib (nga sekalian aja bunuh diri). Karena bingung mau ngapain dan tidak tahu band apa yang ditonton, setelah mendapatkan booklet JRL, gw dan @sigilahoror memutuskan untuk mencari dua orang teman @flik_kenni dan @iamfiras.

Namanya sudah jodoh kali yah, diantara ribuan orang yang hilir mudik, kita pun bertemu walau tanpa adegan slow motion (makin kaya karangan sampah di diari). Sebelum mati kelaparan, gw mau cari makan dulu, bingung makan apa (asli klo di tempat ramai kaya JRL gini, gw entah kenapa selalu bingungan orangnya muahahaha), akhirnya diputuskan McDonalds saja. Dengan modal kupon 15 ribu yang sebelumnya ditukar dulu dengan uang, gw mendapatkan ayam dan nasi, untuk minum hanya 5000 saja. Selagi berjalan cari makan ini, kita ketemu @ifanmulya, tampaknya tim default berkumpul untuk midnight, tapi bukan nonton film melainkan konser. Abis makan diputuskan untuk ke segarra stage, disana sudah main band yang selalu membawakan lagu-lagu The Beatles, G-Pluck. Tapi sayangnya, gw nga bisa menikmati lagu-lagu mereka dengan semestinya, bukan karena nga suka lagu-lagu mereka, sakit kali yah gw nga suka The Beatles. Faktor utama tentu saja area yang padat dan walau sudah dipaksakan untuk dibuat nyaman, dengan kondisi yang panas akhirnya gw dan yang lain pun mutusin buat cabut setelah beberapa lagu dari band yang terdiri dari Awan Garnida (bass), Wawan (gitar), Adnan Sigit (gitar), dan Beni Pratama (drum), serta 2 additional player, Ramundo Gascaro dan Tompak (keyboard).

Jam malam itu udah nunjukin hampir pukul 10, karena ingin mendapatkan tempat yang pas buat nonton Cranberries, gw dan yang lain langsung menuju panggung utama. Pikiran penonton lainnya pun ternyata sama, hasilnya masih kira-kira sejam lagi, area panggung utama sudah dipenuhi banyak orang, berdiri dengan sabar sambil berdesakan, adapula tuh yang duduk santai dengan kondisi yang tampaknya gelap dan pengap. Susah untuk nyelip ke depan dan situasi yang sekali lagi bikin gw nga nyaman, gw mundur untuk beli minum dan berpikir untuk keliling saja cari angin dan kuping gw butuh yang agak “berisik”, yah sekedar pemanasan sebelum nanti dihajar oleh para begundal. Beruntung ada Master Wu yang sedang beraksi di panggung Tebs, gw pun singgah, awalnya ingin melihat sebentar tapi malah keterusan sampai lagu terakhir. Balik ke panggung utama, orang sudah makin banyak berjubel, butuh perjuangan untuk sampai ke posisi semula. Melihat jam ternyata masih sekitar 20 menitan, tapi dengan situasi berdesakan dan saling berebut oksigen kaya semalam, 20 menit itu terasa lama sekali, oh Tuhan! Cepatlah keluar Dolores!

Riuh tepuk tangan pun menggema ketika tiga orang muncul di atas panggung, tapi bukan personil Cranberries, gw lupa siapa tapi salah-satunya vokalis baru band Cokelat, Sarah. Ngapain nih mereka? Oooh ternyata memandu penonton untuk bersama-sama, sebelum Dolores dan kawan-kawan manggung, untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Pantai Carnaval pun seketika diliputi aura nasionalisme yang tinggi, semua orang mengepalkan tangan mereka ke atas dan bernyanyi dengan semangat, layaknya pas upacara bendera di sekolah dulu. Selang beberapa saat kemudian barulah band yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Tanpa basa-basi, The Cranberries pun menghajar penonton yang sudah tidak sabar dengan ‘Analyse’. Adapun yang gw tunggu dari aksi Cranberries malam ini, sudah pasti Dolores O’Riordan menyanyikan lagu-lagu lawas mereka yang melegenda dan hits, satu lagi tentu saja tarian khas sang vokalis yang berumur 39 tahun tersebut.

JRL 2011: Cranberries

Penampilan Cranberries memang super-ciamik, langsung membuat gw jatuh cinta, walau Dolores kurang berinteraksi banyak dengan penonton, tapi gw tidak peduli, itu berarti makin banyak lagu yang bisa di dengar. Dari sekitar satu jam waktu “kencan” penonton dengan Cranberries, mereka tidak lupa memasukkan juga tembang-tembang anyar dari album baru mereka yang rilis tahun ini, “Roses”. Namun tentu saja yang paling ditunggu adalah lagu-lagu dari album lama, setelah lagu pembuka pun penonton segera diajak ikut bernyanyi ketika lagu “Animal Instinct” dari album Bury the Hatchet (1999) dinyanyikan oleh Dolores, lengkap dengan tarian unik yang biasa dia peragakan di konser-konsernya. Lagu-lagu dari album kedua, No Need to Argue (1994) pun tidak lupa diperdendangkan, “Ode to My Family”, sukses membuat penonton melantunkan lagu tersebut dengan setia dari awal sampai akhir bersama Dolores. “Dreaming My Dreams” berhasil membuat gw dan penonton beristirahat sejenak dengan tembang yang bisa dibilang bertempo slow dan dibawakan dengan gitar akustik ini. Sedangkan penonton kembali bersemangat pada saat lagu “Zombie” dinyanyikan.

Dolores betul-betul sukses menularkan semangat dan enerjinya yang luar biasa kepada para penontonnya yang masih setia berdesakan, untuk bernyanyi bersamanya sampai lagu terakhir. Dolores yang tidak hanya punya suara bagus dan khas tersebut juga pamer skill dengan memainkan gitar, sesekali dia juga menyapa penonton dan mengucapkan terima kasih kepada penonton. Gw yang sebetulnya sudah kehilangan tenaga dan membutuhkan udara segar, terus saja berusaha menikmati, melihat enerji Dolores yang tidak habis-habis membuat gw pun semangat untuk bernyanyi dan berjoget, walau keringat ini bercucuran deras. Apalagi ketika lagu dari album pertama Cranberries “Everybody Else Is Doing It, So Why Can’t We?” (1993), yang gw tunggu-tunggu pun dengan manis dibawakan, yup “Linger”, spontan hati ini pun menjadi galau hahahaha. Hingga lagu ke-14, “Salvation” Dolores tetap tidak kelihatan lelah dan masih bisa mengejutkan, dia tampil dengan topi ala indian-nya kemudian mengajak penonton meloncat, ya Pantai Carnaval pun langsung bergemuruh dengan jikrakan ribuan penonton yang memadati area konser tersebut.

16 lagu dan penonton masih meminta lebih, memanggil-manggil nama Cranberries dan teriakan-teriakan “we want more” pun berkumandang tiada hentinya, tapi Dolores dan kawan-kawan masih belum terlihat keluar dari balik panggung. Tapi penonton tidak akan disuruh menunggu terlalu lama, karena dengan gaya baru, Dolores dan band muncul, lalu kemudian langsung mengajak penonton untuk ikut bernyanyi bersama kembali, dengan lagu “Promises”. “You better believe I’m coming, you better believe what I say, you better hold on to your promises”, itulah sepenggal lirik awal lagu dari album Bury the Hatchet yang menyeret penonton untuk kembali jejingkrakan. Setelah lagu yang cukup nge-rock tersebut, saatnya Dolores dan Cranberries menyampaikan kata-kata perpisahan mereka lewat lagu “Dreams”. Lagu oldschool dari 93 tersebut benar-benar mengajak gw bernostalgia ke jaman 90an, dan Dolores masih membawakannya dengan awesome, yup Cranberries benar-benar telah menampilkan sebuah performa yang spektakuler, membuat penonton puas dan lupa dengan waktu dan hanya ingin menikmati setiap lagu.

Konser yang luar biasa! Tapi JRL belum selesai, terutama buat gw yang masih memiliki satu agenda lagi disini. Mengunjungi para begundal, Burgerkill di propaganda stage yang letaknya paling ujung, panggung dengan pemandangan laut di malam hari, romantis yah tidak juga ketika kuping gw bergairah dengan musik yang berisik, akhirnya. Tapi sayang-nya Dolores sudah lebih dulu menyedot tenaga gw, alhasil ketika band yang baru saja mengeluarkan album baru “Venomous” ini memuntahkan nomor-nomor gaharnya, gw hanya bisa headbanging lemas di antara penonton yang ber-moshing ria. Walau begitu tidak mengganggu gw menikmati alunan cadas Burgerkill yang malam itu tampil habis-habisan. Gw lupa berapa lagu yang anak-anak Bandung ini mainkan, tapi sepertinya sih kurang dari satu jam. Setelah Burgerkill selesai, yah maka berakhir sudah saat-saat gw di JRL, karena sudah nga ada lagi yang mau ditonton. Sekarang tinggal gimana mikirin cara pulang paling nyaman karena parkir jauh banget, tapi akhirnya jalan sampai sana sambil menikmati suasana dini hari di ancol, gempor dah. Walaupun senang bisa kembali lagi, tapi jujur JRL kali ini ada yang kurang, yah masih belum bisa mengalahkan JRL tahun pertama… sampai ketemu lagi di Java Rockin’Land tahun depan \m/