Review: Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2

written by Rangga Adithia on July 29, 2011 in Adventure and CinemaTherapy and Fantasy and Hollywood with 4 comments

Review Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2

“Buronan nomor satu” begitulah kira-kira yang tertulis dalam poster-poster pengumuman dengan gambar wajah Harry Potter terpajang besar-besar, yang tersebar di setiap dinding-dinding rumah di sekitar Hogwarts. Harry “The Chosen One” Potter sekarang memang sedang diburu oleh Voldermort dan pengikutnya, yang menamakan diri mereka pelahap maut alias “Death Eater”. Setelah kematian penyihir nomor satu sekaligus kepala sekolah di sekolah sihir Hogwarts, Albus Dumbledore, Harry terpaksa harus bersembunyi dan main kucing-kucingan dari kejaran sang pangeran kegelapan. Sepeninggal Dumbledore semua memang berubah, begitupula dengan Hogwarts, yang tidak lagi seperti apa yang kita lihat ketika datang untuk pertama kalinya, tempat tersebut gelap dan rasanya lebih layak disebut mimpi buruk. Selain di kelilingi oleh Dementor, Hogwarts sekarang sudah dikuasai para pelahap maut, termasuk Severus Snape yang menggantikan Dumbledore, menjadi kepala sekolah, Hogwarts lebih mirip sekolah militer dan mereka yang memiliki darah manusia alias Muggle-borns akan “dicampakan”.

Harry (Daniel Radcliffe) dan kedua sahabat setianya, Ron Weasley (Rupert Grint) dan Hermione Granger (Emma Watson) tentu saja tidak benar-benar sedang bersembunyi, untuk menghadapi Voldermort nantinya, mereka harus menemukan Horcrux yang tersisa, kemudian menghancurkannya agar kekuatan yang membuat Voldermort abadi musnah. Misi mencari Horcrux ini pun tidak mudah apalagi dengan keberadaan para pelahap maut yang siap untuk menangkap mereka dan menyerahkannya ke Voldermort. Waktu adalah musuh utama ketiga “hero” kita, karena nasib Hogwarts dan semua orang yang mereka sayangi sekarang seperti diujung tanduk, Voldermort tidak segan-segan menghancurkan semua demi mendapatkan Harry, apalagi sekarang dia sudah memiliki tongkat sihir yang dipercaya paling kuat, “Elder Wand”. Jadi, apakah Harry, Ron, dan Hermione sanggup menghancurkan seluruh Horcrux, sebelum Voldermort menangkap mereka? sekaligus menyelamatkan Hogwarts dari awan gelap yang menyelimutinya?

Review Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2

Nikmatilah! Karena ini (sedihnya) perjalanan terakhir kita ke dunia sihir, Hogwarts, setelah tujuh film selama satu dekade akhirnya penonton diajak melihat bagaimana film yang memulai petualangannya pada 2001 akan berakhir di film ke-8 (sebetulnya film ke-7 yang dipecah dalam dua bagian, bagian pertama sudah rilis tahun kemarin). “Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2” (HP7P2) tidak hanya menjadi sebuah klimaks, sebuah penutup, sebuah akhir dari perjalanan, tetapi juga bagi saya merupakan seri Harry Potter terbaik, paket magical yang sudah lama saya tunggu-tunggu, inilah yang saya ingin lihat dari film-film HP terdahulu. HP7P2 adalah pergelaran maha dahsyat dimana daya magis visual berjalan beriringan dengan cerita yang juga tidak kalah menghipnotis, tidak saja karena ini sebuah final dan marilah semua dikemas habis-habisan, tetapi bagaimana pada akhirnya David Yates berhasil mengkolaborasikan seluruh elemen, secara ajaib, jadi sebuah tontonan yang berkesan, bukan saja di mata, tetapi juga di hati.

HP7P2 membuat kita setia mengikuti pergerakan Harry Ron, dan Hermione menelusuri tempat demi tempat untuk mencari Horcrux, ketimbang bagian pertama yang menurut saya lebih membosankan (walau saya akui dramanya cukup kuat), bagian kedua ini lebih menarik dari segi penceritaan, mungkin karena yang tersisa hanya bagian yang paling menarik, syukurlah kalau begitu. Melakukan tugasnya dalam membacakan cerita, Yates juga sukses membuat saya terbengong-bengong ketika tongkat sihirnya mengubah novel menjadi visual-visual ajaib di layar bioskop. Dengan setting sekolah sihir Hogwarts dan lanskap-lanskap di sekitarnya, Yates sepertinya dengan leluasa untuk bermain dengan apa yang disebut dengan imanjinasi, dengan sepuas-puasnya pula. Bujet HP7P2 yang kurang dari $250 juta tersebut betul-betul dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin agar mata penonton tidak pernah sekalipun berkedip, bagian visual untuk spesial efeknya berhasil menyihir kita dan mereka melakukannya dengan fantastis.

Fantastis! Yah sekali lagi saya menyebut kata tersebut, kata yang juga wajib ditempelkan pada setiap karakter yang muncul di HP7P2, sepertinya semua orang diberi kesempatan untuk tampil. Sama seperti filmnya yang memiliki akhir berkesan, karakter-karakternya pun dibuat Yates untuk punya akhir yang spesial di hati para penggemarnya, khususnya Minerva McGonagall (Maggie Smith), Molly Weasley (Julie Walters), termasuk juga si Death Eater paling esentrik, Bellatrix Lestrange (Helena Bonham Carter) serta Severus Snape, yang menurut saya dimainkan dengan sangat luar biasa oleh Alan Rickman. Well, setiap karakter mempunyai perannya masing-masing dalam mendukung keseluruhan film menjadi semakin menarik. HP7P2 memang adalah film terakhir, tentu saja menyedihkan berpisah dengan Harry, Ron, dan Hermione, setelah menjadi bagian dari petualangan dan lika-liku persahabatan mereka, semenjak mereka datang ke Hogwarts saat masih bocah. Tapi kesedihan itu juga didampingi dengan rasa decak kagum ketika HP7P2 dibuat jadi film penutup yang begitu spesial. Kita masih akan melihat konflik antara ketiga sahabat, kita juga disuguhkan mimpi buruk, perang skala besar terhampar dihadapan kita, terakhir ditutup dengan manis, oleh apa…? saya tidak perlu membukanya di review ini kan.

Rating 4 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
20 Film Indonesia Wa...
Review - Ghost Diary...
Review - The Wailing...