Dawn of the Dead: Romero vs. Snyder

written by Rangga Adithia on July 18, 2011 in CinemaTherapy and Features and Hollywood and Horror with no comments

Dawn of the Dead: Romero vs Snyder

Sejak munculnya “28 Days Later” film zombie bisa dibilang memulai era modernnya. Banyak film-film bertema mayat hidup ini mencoba bangkit dari kuburnya namun terhitung cuma sedikit yang bisa memuaskan baik itu dari segi kualitas cerita dan horornya. Dawn of the Dead (2004) termasuk satu dari sedikit film yang bisa “survive” di tengah kerumunan film-film zombie modern lainnya dan pada umumnya disukai oleh kalangan penggemar film horor, khususnya mereka yang memuja film zombie. Film buatan Zack Snyder tersebut adalah remake dari film berjudul sama karya George A. Romero di tahun 1978. “Dawn of the Dead” sendiri merupakan seri kedua dari film berembel “…of the Dead” setelah sebelumnya sutradara yang berjuluk “Bapaknya zombie” ini membuat film “Night of the Living Dead”.

Plot/Cerita

Dawn of the Dead versi Romero dengan lengkap mengupas detil ceritanya, baik situasi kekacauan setelah “zombie outbreak” maupun karakter-karakter yang terlibat langsung dalam cerita. Dengan durasi yang sangat panjang, 185 menit, Romero dengan cermat dapat menjaga tensi ketegangan dan tempo film ini. tidak terkekang oleh durasi, Romero juga dapat leluasa bermain dengan karakternya. Fokusnya kepada bagaimana manusia biasa dapat “survive” dari situasi yang pelik ini, dapat digambarkan dengan sangat baik di film ini. Perkembangan karakter satu dengan yang lainnya dari menit ke menitnya begitu terasa berbarengan dengan letupan-letupan konflik yang terjadi diantara para karakternya. Walau dengan alur yang begitu lambat, film ini tidak akan membiarkan penontonnya untuk bosan dan tertidur.

Zack Snyder mencoba memadatkan apa yang sudah diceritakan Romero di filmnya terdahulu. Dengan durasi yang lebih pendek, kurang dari 2 jam, memaksa sutradara yang kelak membuat “300” ini untuk membuang segala pernak-pernik drama yang berlebihan dan lebih fokus pada hubungan antar manusia, bagaimana mereka mencoba selamat dan tentu saja action yang diperbanyak. Formula cerita yang disajikan Snyder terbukti cukup berhasil memompa adrenalin penonton untuk terus meninggi, lewat adegan-adegan super-tegang yang menguras keringat dingin. Sisipan nilai moral tak lupa di lontarkan seperti halnya Romero selalu melakukannya di film-film zombienya.

Dawn of the Dead: Romero vs Snyder

Horor/Gore

Romero tidak akan pernah lupa dengan sisi kreatifnya dalam mengumbar kesadisan. Di film ini pun dia dengan asyik bermain dengan isi perut manusia dan dengan gampang menghancurkan kepala dengan sekali tembak. Adegan-adegan itu tidak cuma sekali dipertontonkan namun berulang kali di perlihatkan Romero. Walau belum memakai efek canggih, toh adegan-adegan sadis tersebut masih bisa membuat penonton merinding bahkan ingin muntah. Dari sisi ketegangan pun Romero meraciknya dengan amat sangat pintar, film ini bisa mengontrol ketakutan dengan sangat baik lewat kejutan-kejutan yang sudah disiapkan.

Dengan efek yang lebih canggih, Dawn of the Dead versi Snyder bisa lebih menyiksa kita dengan adegan-adegan sadisnya. Semua kejutannya sukses menakuti penontonnya untuk terus merasakan ketegangan dari awal film ini dimulai hingga mencapai endingnya. Adegan-adegan sadis cukup banyak ditampilkan di film ini, dari tusukan ke kepala sampai tubuh manusia yang hancur berantakan. Film ini benar-benar menciptakan horor zombie yang khas, menambahkan rasa klasik dengan bumbu modern yang pas.

Dawn of the Dead: Romero vs Snyder

Zombie/ Post-Apocalyptic

Zombie yang berjalan bukan berarti mengurangi teror yang disebarkannya. Justru gerak-gerik mereka semakin tidak bisa ditebak, walau berjalan lambat dan kadang terlunta-lunta, zombie-zombie ini masih bisa menangkap setiap mangsanya dan selanjutnya menyantap mereka bersama-sama. Romero benar-benar memberikan standar untuk mayat hidup dengan brilian, dengan sentuhan make-up yang sederhana, zombie versi Romero ini masih tetap bisa menakuti penontonnya. Dunia “pasca-kiamat” yang diciptakan Romero juga benar-benar menggambarkan kondisi yang nyata. Sekali lagi walau tanpa spesial efek, filmnya bisa membangun atmosfir horornya dengan sangat baik.

Snyder yang ingin menciptakan suasana baru, mencoba mengadaptasi “zombie modern” dengan membuat para mayat hidup ini dapat berlari. Penampilan zombie versi modern ini pun lebih menyeramkan dengan segala pernak-pernik muka hancur atau bagian tubuh yang hilang. Segala macam “tambalan” yang diciptakan Snyder sudah barang tentu makin menyempurnakan zombie versi Romero, namun keduanya masih sama-sama menakutkan dengan kelebihannya masing-masing. Untuk urusan, dunia yang hancur, film ini sangat baik menampilkannya. Dengan tambahan spesial efek, sudah pasti makin membuat dunia “post-apocalyptic” ini makin nyata.

Dawn of the Dead: Romero vs Snyder

Membanding-bandingkan kedua film yang notabene gw sukain ini memang tidak ada habis-habisnya. Apalagi jika menonton lebih dahulu versi Snyder ketimbang versi Romero, gw yakin celetukan-celetukan yang bilang versi orisinil itu membosankan dan nga serem (okay ini film zombie bukan film hantu sadako) pasti ada. Keduanya punya kelebihan dan keduanya juga tak pelak punya kekurangan, siapa yang menang dan siapa yang kalah itu tidak penting, karena pada akhirnya siapapun yang menang toh manusia tetap kalah (ini minjem tagline film apa yah? muahahaha), terinfeksi, dimakan, dan mati. Romero telah memberikan sebuah standart bagaimana membuat film zombie sesuai ZYD (bukan EYD), kemudian Syder memodifikasinya untuk sesuai dengan zaman, yah ketika kita lebih senang melihat zombie yang bisa lari kesana-kemari, ketimbang yang pelan-pelan jalan sambil teriak “otak…otak” (loh ini mah zombie kampung pisang yee).

Jadi siapa yang menang? gw memberikan kedua versi nilai berimbang alias seri, versi orisinil tidak mau kalah dengan versi remake, begitu pula versi remake yang tidak ingin mengecewakan Romero. Kedua film “Dawn of the Dead” sangat layak untuk ditonton, versi remake jelas dibuat untuk “lebih” menghibur tapi tetap tidak kehilangan esensinya, sebuah film zombie yang tidak asal gigit dan menggigit namun juga menembakan sebuah pesan kemanusian tepat ke kepala. Bertahan hidup? kadang kita lebih “zombie” loh daripada zombie-zombie itu.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - 3 Srikandi
Review - Ratu Ilmu H...
Review - The Girl wi...
Review - Before I Wa...