Review: The Ward

written by Rangga Adithia on June 8, 2011 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror and Thriller with 2 comments

Review John Carpenter's The Ward

Masih ingat dengan icon horor Michael Myers? jika jawabannya adalah iya, berarti ingat juga kapan pembunuh dengan ciri khas pisau dapur ini pertama kali muncul di film, yup film slasher legendaris “Halloween”. Ngomong-ngomong soal film buatan tahun 1978 tersebut, tidak sah jika tidak menyebut nama besar John Carpenter, sutradara yang juga dikenal sebagai salah-satu master of horror. Terakhir duduk di bangku sutradara di film “Ghosts of Mars”, pada tahun 2001, semenjak itu Carpenter tidak pernah membuat film lagi. Sedangkan franchise “Halloween” sendiri masih berlanjut dengan sekuel terakhir, “Halloween: Resurrection” pada tahun 2002, kemudian disusul oleh remake buatan Rob Zombie di tahun 2007, dengan judul yang sama seperti film original-nya. Zombie juga membuat sekuelnya di 2009, “Halloween II”, yang ternyata tidak sebagus film pertama.

Melihat deretan film horor daur ulang dan sekuel akhir-akhir ini, walau tidak semuanya juga berakhir di tempat sampah, penonton khususnya penggemar genre ini tentu saja bisa dikatakan sudah bosan, harapan mereka adalah menunggu sutradara-sutradara old-school macam Carpenter ini bangkit dari kuburnya. Well, doa kita terkabul, Carpenter kembali dengan “The Ward”, dia tidak akan mencoba mengolok-ngolok film horor remake dan sekuel seperti apa yang dilakukan oleh Wes Craven di film terbarunya “Scream 4”, tapi apa yang disajikan oleh Carpenter bisa dibilang tidak menawarkan sesuatu yang baru. Filmnya sendiri berkisah seputar Kristen (Amber Heard), gadis cantik pembuat onar, yang kedapatan membakar sebuah rumah. Kristen pun langsung dibawa oleh polisi, tidak ke penjara melainkan ke sebuah institusi mental, North Bend Psychiatric Hospital.

Review John Carpenter's The Ward

Di rumah sakit inilah, Kristen bertemu dengan pasien-pasien lain, Iris (Lyndsy Fonseca), Sarah (Danielle Panabaker), Emily (Mamie Gummer), dan Zoey (Laura Leigh), gadis yang selalu terlihat ketakutan. Walau menyangkal bahwa dirinya tidak gila dan bersikeras ingin meninggalkan rumah sakit, dengan bukti dia membakar rumah, membuat Dokter Stringer (Jared Harris) sepertinya akan mengurungnya dalam waktu yang lama. Kristen pun mencoba melarikan diri tapi upayanya gagal. Tidak perlu waktu lama bagi Kristen, untuk kembali disebut gila oleh Stringer, ketika dia mengatakan telah melihat sosok aneh yang menyerangnya, Kristen menyebutnya bukan manusia. Tentu saja kesaksian tersebut tidak digubris oleh Stringer, tapi setelah itu kejadian demi kejadian yang lebih aneh dan menyeramkan terus berdatangan. Kemunculan sosok misterius pun belakangan mulai disangkut-pautkan dengan hilangnya seorang pasien yang sebelumnya tinggal di kamar yang sekarang ditempati oleh Kristen. Korban pun mulai berjatuhan dan Kristen sekarang berpacu dengan waktu, untuk segera keluar sekaligus menguak rahasia rumah sakit ini, sebelum semuanya terlambat dan dia juga jadi korban selanjutnya. Siapa sosok misterius itu sebenarnya? benarkah dia pasien yang hilang itu?

Pertanyaan-pertanyaan diatas nantinya akan menemani perjalanan kita dalam mengupas misteri “The Ward”, mengungkap rahasia gelap dibalik tembok North Bend Psychiatric Hospital, sekaligus mengikuti setiap langkah Kristen untuk masuk ke lorong rumah sakit lebih dalam, membuka pintu yang selama ini tertutup rapat. Bagaimana usaha Carpenter dalam membangun suasana spooky rumah sakit, lalu kemudian mengajak penonton untuk penasaran memang diakui menjadi daya tarik film ini, poin tersebut membuktikan sang sutradara old-school masih belum lupa cara membuat film horor yang layak, setelah lama “tertidur”. Jika pada akhirnya apa yang coba dibangunnya didasarkan pada pondasi cerita yang bisa dibilang tidak lagi baru, kita bisa menyalahkan duo penulisnya, Michael dan Shawn Rasmussen. Mereka sepertinya banyak menyomot pernak-pernik dari film ini dan itu untuk merangkai misteri “The Ward”, hingga akhirnya saya sampai ke ending, ucapan pertama yang saya ucapkan adalah “oh sama seperti film A yah”.

Baiklah, sebetulnya saya tidak begitu peduli juga apabila “The Ward” melakukan apa yang sudah pernah dilakukan film-film yang memakai formula sejenis. Toh yang paling penting adalah bagaimana Carpenter menuntun langkah penontonnya untuk berjalan dari titik A ke titik B, tapi jika saja film ini punya sesuatu yang baru untuk dimunculkan, tentu akan jadi nilai plus tersendiri. Sayangnya setelah punya cerita yang agak “basi”, cara-cara film ini untuk menakuti dan membuat saya kaget pun ternyata sama “basi”-nya, walau di beberapa momen, Carpenter masih sanggup membius saya untuk takut dan kaget, apalagi film ini memiliki sosok misterius yang diakui cukup horor walau tidak seikonik legenda horor pembunuh macam Myers misalnya. Porsinya pun tidak terlalu mendominasi disini, tapi kehadirannya kadang mampu membuat nyali ini bersembunyi dibalik rok suster, aah apalagi ketika si sosok yang disebut Kristen sebagai “hantu” tersebut mulai memamerkan keahliannya dalam menyiksa korbannya, sekaligus membuat penonton ngilu di kursinya.

Oke-oke “The Ward” memang bukan film horor yang menawarkan paket horor berbalut thriller yang benar-benar baru, tapi usahanya untuk membuat penonton tetap betah duduk di kursinya selama 88 menit, menjadikan film ini bukan pula horor yang buruk. Carpenter masih punya “karismanya” sebagai master of horror, walaupun ekspektasi saya dengan comeback dia yang terlalu berlebihan ternyata agak dikecewakan. Well, poin yang perlu diperhatikan adalah “The Ward” masih bisa dikatakan menghibur dan permainan untuk menebak-nebak misteri dalam film ini pun masih bisa mengajak saya untuk tetap tenang, layaknya diinjeksi obat penenang. Momen-momen kejutannya walau klise tapi jujur saya masih bisa kaget. Amber Heard juga bermain dengan baik, membawa kita untuk ikut memecahkan misteri bersamanya, didukung juga oleh jajaran cast yang juga memainkan perannya dengan cukup maksimal, walau porsinya tidak banyak, Mamie Gummer yang memerankan Emily bisa dibilang paling mencuri perhatian saya disini. Semoga saja ini bukanlah film terakhir John Carpenter, sebagai pemanasan sekembalinya dia dari tidur panjang, film ini masih tetap horor yang lumayan seru kok.

Rating 3 Tengkorak

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Ghost Diary...
Review - Ada Apa Den...
Review - Blair Witch...