Review: Pelet Kuntilanak

written by Rangga Adithia on June 3, 2011 in CinemaTherapy and Film Indonesia with 7 comments

Review Pelet Kuntilanak

Kalau Pamela (Debby Ayu) terobsesi untuk menjadi kancut…ealah maksud saya menjadi cantik dengan memanfaatkan pelet kancut, filmnya sendiri “Pelet Kuntilanak”, yang pada awalnya diberi judul “Pelet Celana Dalam” kemudian dirubah lagi jadi “Pelet CD” tapi tetap mendapat respon gelengan kepala dari pihak lembaga sensor tersebut, disimpulkan justru terobsesi untuk tidak menjadi film cantik melainkan film paling kancut tahun ini. Film kesekian dari sutradara favorit saya, Nayato (akhirnya gw ngaku) ini beruntung bisa menemani “Misteri Hantu Sembelit”, “13 Cara Untuk Jadi Idiot”, dan “Pocong Kecebur Goyang Bulu Dada”, yang nongkrong di daftar teratas film paling tidak manusiawi tahun ini…so far. Apapun judulnya, siapapun nama yang dipakai, formula yang dipakai Nayato untuk horor, kembali ke root-nya bukan lagi hor-kom (horor komedi), tetap saja baunya itu sama busuknya, lebih bau dari kentut genderuwo sekalipun—tanya KKD kaya apa tuh genderuwo kalau kentut, hanya dia yang tahu.

Dari setting sampai pola penampakannya tidak akan pernah berubah sampai kiamat, yang membedakan film satu dengan yang lainnya itu hanya bagaimana Nayato sanggup bikin film berikutnya lebih “mematikan”, tentu saja mematikan kecerdasan penontonnya. Ada ungkapan “tong kosong nyaring bunyinya”, itu tepat sekali untuk film-film Nayato (Nay), termasuk juga “Pelet Kuntilanak”, selanjutnya saya akan sebut dengan PK, eh bukan penjahat kelamin loh ya. Untuk film-film Nay, ungkapan tersebut mungkin akan lebih pas apabila disesuaikan sedikit menjadi “tabung gas tiga kilogram kosong, berisik bunyinya”, supaya sesuai dengan film horornya yang luar biasa melelehkan gendang telinga. Saya saja yang biasa mendengarkan musik metal dengan volume paling kencang, terpaksa menutup dua kuping sewaktu film ini mulai pamer sound effect dan scoring untuk menambah suasana seram. Bukannya efek ngeri yang didapat tetapi gangguan psikis dan pendengaran, sudah sepantasnya saya menuntut uang saya kembali untuk menambah-nambah biaya berobat ke rumah sakit, tapi saya terlalu sayang dengan Nayato.

Review Pelet Kuntilanak

Ngomong-ngomong tabung gas, kemana properti kesayangan Nay yang satu itu, saya tak lagi melihat penampakan benda yang biasanya selalu ada di filmnya, kalau tidak dibuat hanya tergeletak, dia bisa jadi senjata kalau ditempatkan di kamar mandi (yah ada tabung gas di kamar mandi), atau bisa diterbang-terbangkan kesana-kemari yang biasanya ujung-ujungnya berakhir di kepala salah-satu pemainnya. Peran tabung gas ini mirip-miriplah sama bola kuning milik Pixar yang selalu muncul di setiap filmnya, semacam maskot gitu tapi tentu saja lebih keren kepunyaan Nay. Kembali ke filmnya, PK ternyata punya properti lain yang tak kalah berkelas dari tabung gas, yah sesuai judulnya, akan banyak kancut berbagai model yang akan digelar bak lapak di pasar. Film ini pun tidak perlu tuh susah-susah nyari kancut, karena sohib Nay, KKD bersedia menyediakan pasokan kancut berlusin-lusin secara gratis, tinggal pilih yang model seperti apa, termasuk yang khusus bergambar muka manisnya itu.

Kancut banyak tersedia, kesalahan fatal yang dilakukan Nay adalah, semua kancut yang dipesan itu untuk wanita, itulah mengapa kuntilanak disini begitu geram karena tidak bisa ganti kancut setiap syuting, apalagi kan kancutnya yang berkhasiat untuk pelet tersebut selalu diambil orang yang mau melet. Loh bukannya kuntilanak itu biasanya berjenis kelamin cewek yah, iya itu kalau di film-film horor lain, disini kita berbicara soal horor buatan Nay, seperti kalian tahu sejak kuntilanak yang biasa main di filmnya itu ngambek, sebab tidak mau jadi bahan kekerasan dalam film horor (KDFH), Nay terpaksa merekrut hantu pocong yang rela di make-over menjadi kuntilanak, hasilnya ta-da…! kuntilanak-nya sekarang cowok gitu (berbusa). Makanya sebetulnya di film ini, si kuntilanak bukan tidak punya alasan mengganggu manusia, dia hanya ingin kancutnya balik dan tidak sudi kancut kesayangannya dicium-ciumin sama Debby Ayu dan kawan-kawan, apalagi stok kancut dia itu cuma satu-satunya, apes ye.

Perasaan dari tadi yang diomongin kancut mulu yes, isi filmnya dong, cerita, editing, atau mungkin sinematografinya gitu. Sebenarnya saya malu untuk ngomong ini, tapi jujur pas film main baru beberapa menit, saya langsung tidak niat lagi merhatikan filmnya karena saya sibuk tutup kuping karena PK terlalu berisik, kalau tuh suara knalpot motor balap liar yang saling bersautan di perempatan mampang. Lagian buat apa juga peduli dengan segala cerita dan lain-lain, kalau film ini tidak punya niat serius buat bikinnya jadi layak untuk ditonton manusia. Ceritanya seringan kancut, okay saya maklumi kalau ditunjang dengan kemasan yang masih bisa dinikmati, tapi upaya saya untuk menikmati film ini (buset, film kaya gini bisa dinikmati ya?) langsung dipatahkan dengan bebunyian berisik yang datangnya dari stok file suara dan musik yang digabung-gabungin secara asal, yang penting ada bunyinya, kasus selesai. Masih saya maklumi deh kalau elemen-elemen yang niatnya dibuat untuk mengiringi adegan, seperti sound effect yang berisik itu, bersuara di momen-momen yang pas, eh ini sih udah berisik setengah mati, ditempatkan tidak pas, makin membuat orang yang tadinya mau bunuh diri terus tidak jadi, hanya karena semua tetek bengek suara dan musik itu muncul setiap detik sekali, merusak otak, banget.

Terima kasih untuk film ini, Nayato akhirnya bisa mendapatkan nilai sempurna dari saya untuk pertama kalinya, dengan bangga “5 kancut” saya kasih dengan cuma-cuma karena saya begitu mencintai film ini. “Pelet Kuntilanak” sukses membuat saya yang notabene doyan yang berdarah-darah, tidak peduli kalau Nay buat film ini penuh darah di akhir, sudah terlambat Nay, kau sudah buat diriku kehilangan banyak darah perawan, ketika menonton film yang entah berapa durasinya, keluar dari hidung, keluar dari mulut, keluar dari kuping, keluar dari pantat, sampai otakku pun lari terbirit-birit saking tidak kuatnya menahan siksaan sinematik yang kau ciptakan wahai kakanda Nayato. Ada benarnya juga ketika sang produser mengatakan dia merasa menjijikan menonton film ini, walau sudah nonton sampai lima kali, yah betul film ini “menjijikan” dan saya salut anda bisa nonton sampai berkali-kali gitu… jangan-jangan hanya trailernya saja ya.

Rating Kancut

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - 3 Srikandi
Review - The Wailing...
Review - Train to Bu...