Review: Kentut

written by Rangga Adithia on June 5, 2011 in Asian Film and CinemaTherapy and Comedy and Drama with one Comment

Review Kentut

Yuk kita ngomongin soal kentut, eh tapi “kentut” yang satu ini sangat istimewa, bukanlah kentut sembarang kentut, Aria Kusumadewa membungkusnya dalam sebuah panggung bernama Kabupaten Kuncup Mekar, sebuah panggung yang merefleksikan betapa pun busuknya itu “kentut”, kita toh tetap memerlukannya, memilihnya untuk mewakili suara kita di sebuah gedung perwakilan. Film “Kentut” hanya akan berisi soal kentut dan kentut yang keluar dari mulut diwakili oleh dialog-dialog sentilan, sampai kentut yang keluar dari pantat seorang tukang reparasi berbadan gemuk, dia rajin buang gas (yang bunyinya tidak enak didengar itu, tapi tetap kita dengarkan dan kadang ditertawakan) disana-sini, di warung atau di depan suster seksi sekalipun, giliran ditegur, dia sudah mempersiapkan alasan pamungkas “kesehatan lebih penting daripada kesopanan”. Miriplah dengan orang yang duduk disana, punya seribu macam alasan yang tampak logis untuk sembunyi dari kebusukannya. Ah tapi munafik juga kalau bilang film ini dipersembahkan untuk mereka, karena kita juga dapat jatah sindirannya, well pada akhirnya “Kentut” dibuat untuk kita, mereka, dan saya, yang sudah pernah merasakan mengeluarkan kentut dan tahu seperti apa baunya, busuknya. Sekarang bukan saatnya berpikir keras, siapa orang yang disindir, atau sedang menyindir apa, tidak perlulah, kita tertawakan saja film ini.

Alkisah Kabupaten Kuncup Mekar sedang mengadakan PILKADA untuk memilih bupati dari dua kandidat baru, yang satu bernama Patiwa (Keke Soeryo), seorang wanita cerdas yang memilih bentuk kampanye sederhana tapi langsung kepada sasarannya, yaitu rakyat desa yang miskin. Walau Patiwa tampaknya akan mudah mendapat perhatian dan suara dari rakyat, dengan program-programnya yang logik ditambah karismanya sebagai calon bakal bupati, bukan berarti kampanye tidak tanpa perlawanan. Di sisi lain ring, berbeda dengan Patiwa, Jasmera (Deddy Mizwar), ingat tanpa huruf “H” dibelakangnya, bersama dengan wakilnya Delarosa (Iis Dahlia), seorang penyanyi dangdut terkenal, lebih memilih cara-cara kampanye yang meriah, orasi-orasi dengan banyak massa diselingi dengan lagu, tarian dan nyanyian. Calon bupati yang mengusung slogan anti kemunafikan ini tampak tidak peduli dan justru bangga meneriakkan program-programnya yang cenderung agak nyeleneh, misalnya ketika terjadi debat yang ditayangkan di televisi bernama “netral”, dia menyebut akan membuat bulir-bulir padi berubah menjadi sebesar telur dengan bantuan komputerisasi. Konyol memang, tapi bukankah janji manis yang masuk diakalpun kadang tidak ada realisasinya ketika si calon terpilih, iya toh.

Review Film Kentut

“Kentut” akan makin sengit membuat lelucon, semua sepertinya ingin ditertawakan, yah termasuk juga soal politik dan sosial negeri ini, apalagi ketika ibu Patiwa ditembak oleh orang tidak dikenal. Kubu Patiwa yang dipimpin oleh Irma (Ira Wibowo) tentu saja resah, panik, dan kelabakan menghadapi situasi nan pelik tersebut, belum lagi hari pencoblosan makin dekat dan Irma tidak mau kejadian ini dimanfaatkan saingannya untuk menyebar isu yang tidak-tidak agar bisa menang. Sebetulnya masa kritis Patiwa sudah lewat, tetapi permasalahannya adalah untuk dinyatakan sembuh benar Patiwa harus lulus satu ujian lagi, yaitu dia harus kentut. Membuat Patiwa kentut pun menjadi prioritas Irma, segera memerintahkan pihak rumah sakit untuk melakukan apapun, karena bisa saja Patiwa tidak bisa lagi ikut pilkada terhadang isu kesehatannya. Tidak lama kemudian, tidak hanya dari pihak Patiwa yang dipermainkan oleh kentut, tapi semua orang sepertinya ingin ikut andil dalam masalah kentut ini, termasuk pedagang yang dengan jeli bisa melihat keuntungan dari kesengsaraan orang lain, kelompok agama yang ingin mendoakan Patiwa, tentu saja Jasmera tidak ketinggalan memanfaatkan momen ini untuk berkampanye.

Memang ada-ada saja Aria Kusumadewa, memberi judul film dengan hanya “Kentut”, sebuah langkah yang bisa dibilang unik dan membuat penasaran, tapi apakah isinya juga seunik dengan judulnya, atau hanya gede di bunyi doang tapi nga ada baunya. “Kentut” yang diciptakan oleh Aria ternyata tidak hanya menang di judul, dia menyajikan suatu panggung guyonan yang memang kental dengan dialog-dialog lucu nan menyentil. Film ini mudah untuk mengajak kita tertawa dengan segala macam kejadian-kejadian konyol yang terjadi di Kuncup Mekar, sekaligus dihibur oleh masing-masing karakter yang sejak awal seperti sudah punya tugas untuk menyampaikan daftar kritikan pedas, namun tetap dalam koridor diperhalus dengan aksi jenaka atau dibalut dengan komedi. Jika Alangkah Lucunya Negeri Ini (ALNI), tampak ingin “menertawakan” mental bobrok para wakil rakyat kita dengan menyebut mereka “pencopet”, nah dalam “Kentut” giliran kebiasaan-kebiasaan mereka yang aneh bin ajaib yang akan kena jatah ditertawakan. Lewat aksi salah-satu calon bupati, Jasmera, kita diingatkan kembali bagaimana biasanya para calon wakil kita lebih senang memberi pesta, berlebihan dalam berkampanye, melakukan apapun untuk bisa menang namun jika ditanya kemana janji mereka dulu? entah apa jawaban mereka.

Sentilan-sentilan itu memang akan jadi nyawa dalam “Kentut”, saya akui film ini punya formula yang bisa dikatakan pintar dalam menyajikan kritikan didalam komedinya, sama seperti apa yang dilakukan oleh ALNI. Namun sayangnya film yang diproduksi oleh Citra Sinema ini tampak tanggung sekali dalam soal bercerita, untuk urusan sentil sini dan sentil sana bolehlah film ini juaranya, walau kesannya juga jadi terlalu banyak sisi ceramahnya dan satu lagi, cerita kok rasa-rasanya kurang dijamah tuh oleh Aria, apalagi ending­-nya yang kelewat “kok gitu doang”. Apakah akhir cerita dalam film ini lagi-lagi mencerminkan mereka yang selalu jago untuk membuat “ending” yang sama-sekali tidak kita harapkan. Untungnya, “Kentut” diisi oleh aktor-aktor yang cukup handal dalam melakonkan setiap karakter mereka, di garis depan ada bang Deddy yang aktingnya tidak perlu dipertanyakan lagi, dia berhasil menghembuskan nafas ke dalam film ini, dengan gayanya yang komikal kita dijamin akan terbuai oleh setiap aksinya yang apik dalam urusan memancing tawa. Tapi yang mencuri perhatian dalam “Kentut” jelas Rahman Yakob-lah orangnya, perannya sebagai kepala satpam dan banyak omongnya itu sangat mengingatkan saya dengan peran Tarjo di “Badut-Badut Kota”. Siapapun akan tersindir dalam “Kentut”, lucunya, sadar atau tidak kita sebetulnya juga menertawakan diri sendiri. Sayang memang ketika film ini pandai betul mengeluarkan bunyi-bunyi kentut, ceritanya tidak begitu terdengar bunyinya…oke jadi sudahkah anda kentut hari ini?

Rating 3 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Raksasa Dar...
Review - 3 Srikandi
Review - The Girl wi...
Review - Under the S...