Review: Ada Apa Dengan Pocong?

written by Rangga Adithia on June 27, 2011 in CinemaTherapy and Film Indonesia with no comments

Review Ada Apa Dengan Pocong?

Walaupun gw kagak suka sama “Ada Apa Dengan Cinta?”, (bukan karena alasan semenjak ada film itu, setiap ada yang kenalan sama gw pasti ngomong gini: cintanya mana? yeah! sampeeee sekarang aja gitu hahaha). Lebih nga suka lagi klo ada film yang model begini, memparodikan judul film yang bisa dibilang cult itu dengan nambahin kata yang sepertinya jadi formula wajib bikin film lo box office di alam gaib, yah apalagi klo bukan ada kata-kata pocong-nya. Gw kira filmnya pun akan secerdas judulnya, sebuah parodi drama cinta dengan tokoh utama pocong dan kuntilanak, tapi ternyata film ini toh punya kreasi yang lebih jenius lagi, yaitu komedi horor yang basi, melirik apa yang sudah pernah dibuat oleh Nayato di film-film berbau pocong, yang jumlahnya sudah tidak lagi terhitung. Eh..eh tapi tunggu dulu sayang, ini bukan film sang baginda Nayato tapi orang yang dulu pernah menjadi asisten sutradara doi, begitulah katanya setelah gw tanya kiri dan kanan. Klo gw sebutin namanya Chiska Doppert, pasti udah nga asing deh di telinga kalian-kalian yang mendewakan Nayato, yep ini kan salah-satu nama yang diklaim alter ego-nya Nayato, tapi ternyata bukan, wong ada orang aslinya, ada facebooknya kalau gw nga salah. Pertanyaannya siapa yang iseng pertama kali nyebut Chiska adalah nama lain dari Nayato, cek aja di wikipedia, nama si Chiska ada disitu, di antara tumpukan nama-nama cantik yang suka dipakai Nayato, macam Koya Pagayo.

Ok gw nga akan ambil pusinglah atau membayangkan bagaimana jika ternyata alter-ego Nayato lainnya juga tidak sekedar nama tapi ada wujud orang aslinya, au ah bodo. Mari gw kembali bercerita tentang “Ada Apa Dengan Cin… maksud saya Pocong?”, begitulah judulnya, akan gw singkat dengan AADP selanjutnya. Mungkin klo sebelumnya nga ada ribuan film yang memakai kata “pocong” secara brutal, setiap bulan ada 99 film dengan judul terselip kata “pocong”, gw akan bilang AADP adalah film jenius. Tapi kenyataan bilang lain, sebelum film ini muncul, sudah ada film-film pocong lain yang busuk luar dan dalam. Kenapa sih harus memakai pocong lagi dan lagi, emang nga ada hantu lokal lain yang lebih seram, genderuwo mungkin, ups gw lupa ini properti setan yang hanya satu orang di dunia ini yang boleh bikin filmnya, KKD seorang. Pocongnya juga gitu-gitu aja lagi, cuma bisa lompat dengan gaya lompat yang sama, terus kostum pocong yang modelnya nga pernah berubah. Masih mending KKD-lah, masukin setan pocong dengan kain kafan model batik *berbusa dari mulut dan bulu ketek ini rontok.

Sama kaya pocongnya yang basi, cerita juga nga mau kalah basi… cerita dimulai dengan sekelompok cowok yang baru pulang dengan wajah-wajah bertampang kriminil, ketahuan deh klo mereka sebelumnya abis ngelakuin something yang betul-betul maha jahat. Abis itu tanpa perlu menunggu lama (pinjem formula Nayato), para lakon cowok-cowok yang termasuk Wawan (Zaky Zimah) di dalamnya, mulai diganggu oleh penampakan arwah penasaran dalam bentuk rupa nan menawan hati, po…po…po…pocoooong. Alamakjang! (kebawa abis nonton catatan si boy) betul-betul super-jenius yang bikin film ini, dengan memanfaatkan #krisisfilm dan kemungkinan film ketiga Transformers telat atau bisa jadi tidak tayang, AADP mencuri start lebih dulu dengan memamerkan si pocong item dan dekil yang bisa bertransformasi menjadi kuntilanak, hanya dalam sekejam mata. Kalah deh para robot autobot klo main balap-balapan berubah sama si pocong. Kurang keren apa coba nih film, si pocong pun nga cuma hadir di kamar, tapi di kamar mandi dalam bentuk kuntilanak, sampe ngikut ke bis transjakarta, katanye sih mau mudik, mukanya itu loh melas gila nih pocong kaya belum dibayar *kibas tali pocong.

Review Ada Apa Dengan Pocong?

Wawan cs terus aja dihantui sama nih pocong transformers, sampai akhirnya mereka tuh mutusin buat nga nerusin nih film, woalah maksudnye pergi ke dukun budek, yang ngasih mereka keris. Tapi sayangnya nih keris yang katanya sakti mandra guna bisa ngusir setan, dedemit, termasuk KKD, ternyata kalah sakti sama kuntilanak, yang tiba-tiba menghilang terus muncul lagi bawa gergaji mesin *bulu dibawah pada rontok…bulu kaki kali. Keris nga mempan, mereka pun jadi bulan-bulanan teror pokun, pocong-kuntilanak. Penasaran dong kenapa mereka sampai dikejar-kejar pocong, jelas bukan karena mereka ngutang di warung atau belum bayar pajak film asing, ini apaan sih nyinggung kemana-mana. Sama tuh kaya keris pemberian dukun budek yang loyo pas ngadepin kuntilanak yang Ibu Dara wannabe itu, AADP juga loyo dalam menawarkan sebuah hiburan. Seperti yang udah gw singgung si awal, ini horor-komedi basi yang udah pernah dilakuin oleh Nayato di jutaan filmnya. Tapi, ada tapinya nih, klo gw boleh membandingkan, apa yang dilakuin sama Chiska itu lebih “manusiawi” ketimbang Nayato, gw akuin film yang masih bisa ditonton sama orang bukan babi ngepet. Dalam sisi horor dan penampakan pun, Chiska sebetulnya tidak punya cara-cara untuk mengejutkan yang bisa dikatakan baru, namun sekali lagi gw tekankan, Chiska membuatnya jadi bisa lebih dinikmati, terlihat menjanjikan, nga juga.

Baiklah, gw nga perlu membandingkan karya Chiska dengan Nayato, karena sahnya sih klo film bikinan Nayato itu hanya boleh disejajarkan dengan film dia juga, terserah deh lo mao banding-bandingin apanya, gw sih bingung, wong filmnya sama semua, sama-sama rusak. AADP boleh bangga punya pocong yang bisa berubah jadi kuntilanak, tunggu dulu apa kuntilanak yang berubah jadi pocong yah…lupakan. Namun dalam urusan menakuti film ini jelas gagal, tidak saja karena filmnya dibuat untuk lucu, tapi karena setan-setan di film ini sudah tidak punya wibawa untuk seram, karisma pocong dan kuntilanak sudah dihancurkan oleh film-film horor idiot yang belakangan makin lebay dan alay. Karena sudah begitu adanya, makanya banyak film-film horor yang berubah haluan, karena ingin niatnya nakutin malah diketawain, ya udah deh bikin komedi aja. Gilanya pas bikin film komedi malah justru serem banget, yah serem saking jeleknya. AADP juga nga jauh dari itu, komedinya sudah gagal bikin gw yang gampang ketawa ini untuk ketawa, setidaknya memamerkan senyum manis gw *silahkan muntah di kantong yang telah disediakan.

Klo saja AADP nga pake pocong di judulnya, mungkin gw berubah pikiran untuk milih ngasih 5 bintang aja buat film ini, duileee udah ge-er aja lo pocong, gw cuma becanda lho *muka pocong langsung melas lagi, naik busway lagi. Walaupun filmnya jelek, nga lucu, tapi gw masih salut sama yang lakonin pocong dan kuntilanak, aktingnya luar biasa dan mencuri perhatian ketimbang lakon-lakon manusia yang sumpah mengganggu dunia dan akhirat. Chiska mungkin ingin filmnya berbeda dari Nayato, supaya nga ada lagi orang yang bilang dia itu alter-egonya Nayato, sayangnya upayanya masih gagal, walaupun di film ini dia lebih juara dalam urusan membuat filmnya lebih “manusiawi” tadi itu. Klo lo kira ini upaya terakhir Chiska, silahkan cek website sebelah, ada “Tumbal Jailangkung”, yang posternya bikin otak gw mules, dan perut gw migren… gimane dengan Nayato, ye dia belum tobat juga, buat nandingin Chiska, dia bikin “Kepergok Pocong”. Terima kasih deh Nay, lo masih tetap konsisten memberikan yang “terbaik” *mengubur diri sendiri.

Rating 3 Kancut

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Deathgasm (...
Review - The Girl wi...
Review - Rumah Malai...