Review: Scream 4

written by Rangga Adithia on May 30, 2011 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with 2 comments

Si wajah hantu alias ghostface kembali! setelah kemunculannya untuk pertama kali pada tahun 1996 lewat film pertama “Scream”, kemudian disusul dua sekuelnya, sang kreator sekaligus master of horror Wes Craven membangunkan si pembunuh bertopeng tersebut, menyuruhnya untuk mengasah kembali pisaunya yang sudah tumpul setelah tidak dipakai selama 10 tahun, dan bersiap meneror teman lama, Sidney Prescott (Neve Campbell). Di “Scream 4”, Sidney akan diceritakan pulang ke kampung halamannya Woodsboro untuk mempromosikan buku terbarunya “Out of Darkness”, sekaligus reunian dengan kawan lama, Dewey Riley (David Arquette) dan Gale Weathers Riley (Courteney Cox)—pada seri sebelumnya Dewey sempat diperlihatkan melamar Gale—yang sekarang merupakan sepasang suami-istri. Belum sempat menyelesaikan acaranya di sebuah toko buku lokal, Sidney dikejutkan dengan kedatangan Dewey dan anak buahnya, yang sedang melacak sumber telepon seorang pelaku kejahatan. Telepon tersebut ternyata berasal dari dalam bagasi mobil yang disewa Sidney, setelah dibuka mereka tidak hanya menemukan sebuah telepon yang berdering tetapi pesan “selamat datang” untuk Sidney berupa poster dirinya yang berlumuran darah. Apakah ini sebuah lelucon?

Tentu saja gambar Sidney berlumuran darah tersebut bukan lelucon orang iseng, karena sebelumnya dua orang gadis yang kebetulan teman dari keponakan Sidney, Jill (Emma Roberts), dibunuh secara brutal, siapa pembunuhnya? well, untuk itu Sidney segera akan mengetahuinya langsung ketika dia menyaksikkan sosok yang dia kenal sedang beraksi di rumah sebelah, dari rumah bibinya Sidney dapat melihat langsung ke arah kamar Olivia Morris (Marielle Jaffe), teman Jill, dimana ghostface kala itu sedang menghabisi Olivia secara brutal. Pembunuhan tersebut seperti penyambutan untuk kedatangan Sidney, tentu saja teror belum berakhir sampai disitu, karena sebentar lagi telepon akan berdering dan suara yang tidak asing akan kembali menyapa. Siapkah kalian untuk berteriak sekali lagi bersama Sidney dan merasakan tikaman pisau ghostface?

“Scream 4” bisa dibilang tidak akan jauh berbeda dengan apa yang ditawarkan seri-seri sebelumnya, kalian akan melihat aksi kucing-kucingan antara ghostface dan para korban yang tidak lupa untuk berteriak, kemudian berakhir dengan pelukan pisau ke dada mereka atau bagian tubuh lain yang disukai ghostface. Menegangkan? Tentu saja, banyak darah? oh pasti, Wes Craven disini akan buang-buang stok darahnya. Basi? hmm bukankah saya sudah bilang tidak ada yang berbeda, jadi jawabannya iya. Tapi tunggu dulu, itu bukan berarti “Scream 4” harus diabaikan begitu saja, basi pun jika dilihat dari pola cerita dan bacok-bacokan yang akan dihadirkan Wes Craven bersama dengan Kevin Williamson, si penulis yang juga diboyong kembali setelah sebelumnya terlibat di dua film Scream. Ah apalah artinya cerita yang ujung-ujungnya untuk ke-empat kalinya akan mengajak serta penontonnya menebak-nebak siapa pembunuhnya? karena bukankah yang kita tunggu itu kemunculan ghostface dan bagaimana dengan lihai dia mempermainkan korbannya, lalu setelah itu dengan tanpa ijin melukiskan karya masterpiece di tubuh hangat para korban dengan pisau tajamnya tersebut. Yeah! saya toh hanya mengharapkan kejeniusan seorang Wes Craven ketika dia mengendalikan ghostface untuk bermain-main dengan ketegangan dan mengacak-ngacak adrealin untuk naik-turun bersama gerakan pisaunya.

Untuk urusan horor, Wes Craven melakukannya seperti apa yang saya bayangkan, walau tidak ada yang baru, setidaknya Wes tidak berusaha mengurangi kadar menyenangkan di bagian yang paling dia kuasai, yaitu membuat penonton berteriak. “Scream 4” pun justru akan terlihat seperti sebuah film “penghormatan” untuk para predesesornya, terutama the original, mungkin itulah yang membuat kita betah duduk setia menunggu si pembunuh membuka topengnya, karena kita rindu slasher remaja seperti “Scream”, dan Wes dengan baik hati memberikan apa yang kita mau, tidak peduli betapa basinya film ini karena pada akhirnya kita tanpa sadar akan berteriak bersamanya dan tertawa. Tunggu…tunggu dulu! tertawa? ya saya tidak salah tulis atau sedang berkelakar disini, “Scream 4” selain punya status tribute, lucunya juga dikemas layaknya film yang memparodikan film pertama, dan lebih gilanya lagi menyentil film-film horor remake yang belakangan ini muncul. Saya menyebut “Scream 4” juga sebuah film komedi, tidak peduli jika ghostface mengancam saya dengan pisaunya sembari mengatakan “this isn’t a comedy, it’s a horror film”, tutup mulutmu pembunuh bertopeng karena saya akan tetap menyebut film ini komedi.

Wes Craven dan Kevin Williamson sepertinya memang ingin bersenang-senang di film yang kembali menghadirkan wajah-wajah lama seperti: David Arquette, Neve Campbell, dan Courteney Cox ini. Lihatlah “Scream 4” menyajikan adegan-adegan yang pastinya akan membuat kita jantungan, kemudian merangkapnya dengan jenaka ala film-film yang memparodikan film, sebut saja “Scary Movie”, tapi tentu saja disini lelucon-lelucon yang muncul jauh lebih berkelas dan tepat sasaran. Hasilnya apalagi jika diantara teriakan para penonton nantinya akan terselip juga tawa-tawa bahagia, termasuk saya yang tidak luput dari sasaran kelucuan film ini, tidak pernah bisa berhenti tertawa, khususnya ketika Wes mulai “memuji” film horornya sendiri dan film-film horor daur-ulang. Jangan lupakan opening film ini yang dengan mudah membuat kita jatuh cinta pada tikaman pertama. Ok, “Scream 4” memang bukan film horor jenius yang akan membuat kalian mati ketakutan, kemudian membangga-banggakannya dalam daftar teratas film horor terbaik tahun ini, tapi sebagai film horor yang menyenangkan untuk ditonton, Wes tidak mengecewakan saya, bahkan puas dibuat bersimbah darah sekaligus berbusa karena kebanyakan tertawa. Pada akhirnya ini adalah film horor yang tidak lagi membuat saya peduli untuk mencari-cari siapa pembunuhnya, saya akan berpura-pura bodoh dan biarkan ghostface di akhir puas mengejutkan saya. Saya hanya peduli untuk mencari kesenangan yang dulu pernah dihadirkan Wes, ternyata dia mampu melakukannya lagi dan saya sekarang bisa pasrah mati dalam pelukan ghostface.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Turbo Kid (...
Review - Iblis (2016...
Review - Dukun Linta...
Review - Rumah Malai...