Review: Mother’s Day (1980)

written by Rangga Adithia on May 12, 2011 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror and Thriller with one Comment

Dilihat dari casing-nya, kita tak akan pernah percaya jika seorang emak-emak tua (Rose Ross) yang tampaknya rapuh dan mudah menjadi korban kejahatan ini, ternyata memiliki rahasia dibalik senyumnya yang ramah. Charles Kaufman juga tidak perlu berlama-lama menyembunyikan sosok asli ibu dari dua orang putranya yang “idiot” itu. Suguhan dari adegan pembuka sudah sangat jelas memberitahu kita siapa sebenarnya emak-emak yang tinggal in the middle of nowhere ini. Bukan, dia bukan cyborg dari masa depan ataupun alien yang hendak menguasai bumi, cuma manusia biasa yang kebetulan agak sakit jiwa. Tidak hanya piawai menata rumah agar tampak rapih seperti kapal pecah, penuh barang-barang dari planet lain, dan hiasan coretan kata-kata kasar. Emak of the month ini juga pandai mengurus dua anaknya, mendidik mereka tetap idiot, dan mengajarkan keduanya untuk juara kelas dalam urusan menyakiti, menyiksa, dan memperkosa perempuan.

Ike (Holdem McGuire) dan Addley (Billy Ray McQuade) begitu sayang pada ibu mereka dan selalu patuh pada perintahnya, tidak mau mereka mengecewakan sang ibu, termasuk menghabiskan sarapan sereal di dalam ember dan menurut saja ketika ibunya menyuruh “habiskan itu cheese spread karena bagus untuk liver kamu, Ike”, Ike pun spontan menyaut “iyaaa maaaak”. Keseharian keluarga ini memang sangat normal jika dilihat dari kacamata seekor bab. Ike, Addley dan ibunya juga punya cara bersenang-senang yang tidak kalah sakit jiwa, yaitu membunuh orang dan memajang tubuhnya dirumah, seperti potongan kepala yang disimpan di kamar layaknya hiasan lampu lava. Korban baru orang kampung yang berhati iblis laknat ini berikutnya adalah tiga perempuan dari kota, yang awalnya ingin bersenang-senang sambil reunian. Abbey (Nancy Hendrickson), Jackie (Deborah Luce), dan Trina (Tiana Pierce) adalah teman sejak sekolah dulu, setelah lulus mereka setiap tahun bertemu dan mengadakan acara camping. Nah kali ini tujuan mereka adalah hutan di daerah Deep Barons, dimana nantinya mereka justru mengalami mimpi buruk yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan.

Sebelum menonton versi remake “Mother’s Day” yang disutradarai oleh Darren Lynn Bousman (SAW II, III, dan IV), tidak ada salahnya saya menonton lagi versi film ini di tahun 1980, yang disutradarai oleh Charles Kaufman. Menonton untuk kedua kalinya, apa yang saya dapatkan tetap sama, yaitu fun, dalam artian saya menikmati apa yang Charles sajikan selama 90 menit penuh keganjilan. Film Troma yang satu ini jika dibandingkan dengan slasher modern memang akan terlihat busuk, apalagi melihat bagaimana film ini meramu jalan ceritanya untuk tidak tergelincir menjadi konyol tetapi malah justru pada akhirnya nyemplung ke selokan penuh kotoran. Mungkin memang Charles sengaja buat filmnya nyeleneh seperti itu, toh slasher modern juga kadang tidak memikirkan jalan cerita dan lebih memilih mengguyur durasi dengan bergalon-galon darah. Jadi film ini punya nilai plus sendiri, punya cerita walau agak-agak tolol macam keluarga di film yang dibuat hanya dengan bujet $150 ribu ini.

Berbicara soal darah, ya “Mother’s Day” tentu saja tidak lupa menyajikan adegan-adegan brutal. Walau tidak semegah dan sesadis film-film slasher sekarang, porsinya sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan saya kalau Ike dan keluarganya memang tidak waras, jika tidak ingin dikatakan sinting bin psikopat. Apalagi dari awal mereka memperkenalkan diri dengan cara tidak wajar, memotong kepala seorang pria hingga putus dan menyiksa pacarnya. Dengan perkenalan seperti itu, wajar jika saya berharap “Mother’s Day” punya lebih banyak adegan-adegan sadis nan brutal untuk disantap, tapi sayangnya ternyata tak sebanyak yang saya harapkan dan cara film ini membangun intensitas ketegangan pun bisa dibilang jauh dari kata memuaskan. Charles punya seribu cara untuk membuat film ini terlihat lucu ketimbang mengerikan, lihat saja bagaimana Abbey dan teman-temannya dengan mudah bisa kabur dari sekapan. Tidak ada adegan main kucing-kucingan antara mereka dan keluarga gila di rumah itu yang bisa dikatakan cerdas.

“Mother’s Day” memang bukan horor yang cerdas, bukan juga slasher yang bagus, malah berdiri dengan bodoh diantara perbatasan antara buruk dan buruk sekali, loh? Ditambah dengan akting para pemainnya yang tidak juga membantu film ini menjadi naik kelas, ya tetap saja “kampungan”, kecuali Rose Ross yang tampil juara memerankan emak-emak pesakitan dan dua anaknya, diperankan dengan “idiot” oleh Holdem McGuire dan Addley Billy Ray McQuade. Jika bertanya lalu dimana letak kata fun, yang saya sebutkan pada paragraf ketiga di review ini, well saya juga tidak tahu dimana letak “menghibur” film ini sampai-sampai saya bisa bilang itu “fun”. Mungkin saya terlalu mabuk ketika menulis paragraf ketiga atau mungkin “Mother’s Day” memang menghibur dengan level jeleknya yang hampir mencapai level buruk tersebut. Lagipula apa yang bisa saya harapkan dari film berembel-embel “Troma”, yah ini film Troma… jadi nikmati saja setiap “ketololan” di tiap menitnya dan itu berhasil dengan saya.

Namun di luar kekurangannya yang justru membuat ketagihan itu, “Mother’s Day” juga memiliki kelebihan yang di film ini termasuk barang langka (banget). Yup Charles masih memiliki momen brutal yang bisa dibilang memorable, ketika Jackie mendapat giliran pertama kali untuk diajak dalam permainan “sakit jiwa” sang mother. Charles sepertinya masih sadar ketika membuat adegan ini dan mengemas adegan Jackie yang disiksa dan diperkosa jadi begitu meyakinkan dan menyedihkan. Terlepas dari kemasannya yang bisa dikatakan nyeleneh, jika dicerna lebih halus lagi, “Mother’s Day” itu sebetulnya dibalut oleh pesan-pesan bernada satir. “saya mengambil yang baik-baik dari kota dan sisanya boleh kalian orang kota simpan”, itu kata emak kepada dua orang yang akhirnya jadi korban kebiadabannya, kalau dipikir-pikir lucu juga, apa coba yang baik-baik yang emak simpan dan bawa pulang ke rumah, oh keahliannya membunuh dan menyiksa orang, itukah yang emak “ambil” dari kehidupan perkotaan? “Mother’s Day” sepertinya ingin meledek kehidupan kota yang perlahan menghilangkan kemanusiaan dari wajahnya. Kita dibunuh, diperkosa, dan disiksa oleh ego, materi, dan ketamakan. Emak oh emak terima kasih sudah menghibur saya dan selamat hari ibu.

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/68202693059031041

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - Cipali KM 1...
Review - 3 Srikandi
Review - Under the S...