Review: Limitless

written by Rangga Adithia on May 22, 2011 in CinemaTherapy and Hollywood and Thriller with one Comment

Apa jadinya yah jika kita mampu memaksimalkan kinerja otak sampai 100%? mungkin kita bisa mendapat semacam kekuatan “super” untuk melakukan segala aktivitas sehari-hari dengan lebih mudah, mengerjakan sesuatu yang biasanya membutuhkan waktu lama, menjadi lebih cepat, seperti menyelesaikan buku dalam semalam misalnya. “Limitless” bukan film tentang superhero yang mendapatkan kekuatan dari planet lain atau seseorang yang digigit serangga kemudian menjadi jenius, ini hanya kisah Edward “Eddie” Morra (Bradley Cooper) yang kebetulan looser, ganteng tetapi hidupnya berantakan, dan penulis yang tidak pernah menyelesaikan bukunya, bahkan satu kalimat pun. Kebetulan juga saat kehidupannya makin berantakan, apalagi setelah dicampakkan kekasihnya, Lindy (Abbie Cornish), dia kemudian tak sengaja bertemu dengan kakak dari mantan istrinya, Vernon Gant (Johnny Whitworth), yang dengan baik hati memberikan sebuah solusi.

Vernon bukan mau membantunya menyelesaikan bukunya, tetapi lebih jenius dari itu, ya dia memberikan sebuah pil, obat yang “orang-orang di dapur” sebut sebagai NZT-48, apa khasiatnya? pil berbentuk kecil transparan ini katanya sanggup merangsang otak untuk bekerja sampai 100% bukan 20% seperti biasanya, memaksimalkan kemampuan manusia untuk memanfaatkan otak mereka sampai kekuatan penuhnya. Walau awalnya Eddie tak percaya omongan Vernon, tetapi tidak ada salahnya mencoba lagipula dia butuh segala bantuan, termasuk obat berkhasiat magis sekalipun. Ternyata pil tersebut bukan omong kosong, efeknya bisa dibuktikan hanya dalam sekejap, tidak hanya Eddie merasakan ada perubahan dalam dirinya, tetapi layar kosong di laptopnya sekarang berisi lembar demi lembar tulisan yang dia ketik dalam semalam, sepertinya kata-kata itu membanjiri Eddie begitu saja, buku dia pun selesai.

Setelah membuktikan jika pil itu manjur dan memiliki keajaiban untuk memperbaiki hidupnya yang hopeless, dia kembali ke Vernon. Bukanlah tambahan pil yang kemudian didapat oleh Eddie tetapi masalah baru, Vernon ditembak di kepala. Eddie pun spontan mencari pil NZT sebelum polisi datang, akhirnya dia tidak hanya menemukan sekantung NZT melainkan juga setumpuk uang. Sejak pil ajaib berada di tangan Eddie, hidupnya berubah semakin cerah saja, dia sekarang manusia yang sempurna, cepat sekali belajar sesuatu yang baru, termasuk piano, bahasa asing, sampai bursa saham yang rumit itu. Dia juga tidak berantakan seperti dulu, lebih rapih dan pandai memikat orang lain, terutama wanita, dengan karisma dan kepintarannya. Eddie seperti lahir kembali, kali ini dengan ditemani NZT yang dia minum setiap hari. Walaupun kelihatannya hidup Eddie terlihat bersinar, sempurna, dan sekarang kaya berkat NZT, namun pil tersebut tidak sesempurna ketika khasiatnya masih bekerja, ada efek samping yang membahayakan. Selain itu Eddie juga akan memanen hasil dari keserakahannya, apa yang dia dapat dengan instan, dengan cepat juga Eddie akan kehilangan itu semua.

Dengan opening-nya yang memabukkan itu (dalam artian keren), “Limitless” betul-betul akan mengajak kita ke dunia seberang, ketika NZT berhasil menguasai pemakainya, kita akan merasakan seperti apa rasanya saat pil kecil tersebut mulai bereaksi. Film adaptasi dari novel The Dark Fields karangan Alan Glynn ini, tidak hanya menggiring kita untuk ikut masuk ke dalam kehidupan Eddie yang awalnya berantakan, kemudian mengikutinya pada saat hidupnya mulai terlihat “hidup” dan sempurna. Neil Burger (The Illusionist) juga akan menyelipkan visual-visual magis yang menggambarkan dengan jelas seperti apa hujan kata-kata itu, misalnya, pada saat Eddie dalam sekejap sanggup menyelesaikan bukunya, atau langit-langit rumah yang berubah menjadi angka-angka. Daya kreatifitas film ini dalam mengemas gambaran seperti apa Eddie jika dalam pengaruh obat memang luar biasa “memabukkan” mata. Neil dengan jeli sanggup memisahkan antara dunia yang real dengan dunia ketika seseorang berada dalam kontrol NZT, lewat visual-visualnya itu termasuk pemanfaatan warna dan cahaya yang berbeda untuk menggambarkan pada saat obat sedang bekerja. Untuk urusan pernak-pernik visual ini, Neil sudah bisa dikatakan berhasil dalam misinya untuk merangsang daya tarik film ini untuk bekerja 100% dalam menghibur mata penonton.

Seperti juga NZT, “Limitless” tidak sesempurna itu, tapi juga tidak seburuk efek samping yang diterima pemakai jika kelebihan dosis pil yang satu buahnya seharga $800 tersebut. Skrip yang ditulis oleh Leslie Dixon mampu dijabarkan dengan menarik oleh Neil, kita akan diperlihatkan bagaimana NZT mengubah Eddie, pokoknya membiarkan dia dan kita untuk terbuai dengan khasiat ajaib obat itu, yang pastinya akan mujarab membuat para penonton berandai-andai jika saja obat itu benar ada, maka hidup akan terasa lebih mudah untuk dijalani. Tapi film tetaplah film, buang jauh-jauh pikiran kesuksesan dalam hidup bisa dicapai dengan cara instan, Neil pun segera beranjak dari paruh awal yang santai dan penuh bayang-bayang semu kesuksesan lewat hidup Eddie yang sempurna, kemudian mengantarkan kita bahwa kemudahan tidak selalu mendatangkan sebuah kebahagiaan. Eddie boleh senang dengan segala yang dimilikinya berkat bantuan obat tersebut, tapi hidupnya jadi kosong karena dia maju terlalu cepat dan hanya bisa maju dan maju tanpa bisa menikmati apa yang dia telah capai.

“Limitless” agak kehilangan khasiat daya tariknya di awal, ketika memasuki paruh kedua dimana terlalu banyak dialog-dialog tentang bisnis dan saham yang makin menjemukkan, mungkin film ini ingin terlihat pintar, namun saya sudah agak lelah mengikuti kemauan Neil yang terlalu memaksakan filmnya dan juga bertele-tele menampilkan kesempurnaan Eddie dalam soal bisnis. Peran Robert De Niro sebagai Carl Van Loon juga tidak terlalu berdampak signifikan terhadap alur cerita film ini, dia datang dan pergi kemudian balik lagi ketika diperlukan saja. Untungnya, intrik “Limitless” tidak hanya membahas porsi dalam bisnis saja, tetapi juga bagaimana Eddie berhadapan dengan orang-orang sekitar yang berniat jahat kepadanya dan juga ketergantungannya dengan NZT. Neil mulai meningkatkan tensinya dan terbukti “Limitless” kembali seperti diinjeksi oleh obat yang merangsang daya tarik film ini untuk kembali. Keterlibatan Bradley Cooper disini benar-benar mendongkrak sisi hiburan dan komersil film ini, walau apa yang diperlihatkan Bradley sebetulnya setingkat dengan yang dia lakukan di film “The A-Team” dan “The Hangover”. Perbedaannya disini sisi karismatik Bradley betul-betul ditonjolkan dan itu membantu aktingnya untuk makin mengeluarkan aura hiburan dengan dosis yang pas. Oh iya ada satu karakter “penting yang tidak penting” disini yang sepanjang film tidak punya dialog, menarik! ayo tebak siapa?

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Some Kind o...
Review - Ghost Diary...
Review - Ada Apa Den...
Review - Ouija: Orig...