Review: Breach

written by Rangga Adithia on April 20, 2011 in CinemaTherapy and Drama and Hollywood and Thriller with no comments

Can’t trust a woman in a pants suit. Men wear the pants. The world doesn’t need anymore Hillary Clintons ~ Robert Hanssen

Eric O’Neill (Ryan Phillippe), anggota “Special Surveillance Group” di FBI pantas untuk tegang di hari pertamanya bertugas, kali ini bukan pekerjaan mengawasi seseorang yang diduga teroris seperti yang biasa dia lakukan, tetapi menyamar sebagai asisten Robert Hanssen (Chris Cooper). Hanssen sendiri tentu saja bukan orang sembarangan, dia sudah melayani biro penyelidik federal ini selama 25 tahun, seorang yang memiliki berlapis-lapis pengalaman dan prestasi sebagai seorang special agent senior yang dulunya sering berurusan langsung dengan kasus intelijen melawan Uni Soviet, sekarang Hanssen lebih dikenal sebagai “ahli komputer”. Jadi cukup alasan bagi O’Neill untuk gugup pada saat pintu terbuka dan untuk pertama kalinya dia bertemu Hanssen, orang yang akan menjadi bosnya sekaligus “sasarannya”. Basa-basi ucapan selamat pagi O’Neill pun hanya dibalas tatapan dingin yang kemudian direspon oleh Hanssen dengan sebuah pertanyaan, yang katanya “permainan” yang biasa dilakukan orang-orang intelijen.

Sebuah perkenalan yang tidak biasa, kaku, kurang menyenangkan, dan mungkin sebuah pertanda bagi O’Neill untuk mundur saja dari tugas yang diberikan oleh Kate Burroughs (Laura Linney) tersebut. Namun O’Neill ternyata toh terus melanjutkan, karena mungkin saja karirnya bisa terdongkrak apabila dia berhasil dengan tugasnya kali ini. Pekerjaannya memang tidak sesulit yang dibayangkan, selain mengucapkan selamat pagi, O’Neill juga menjadwalkan aktivitas sang bos, mengantarkannya ke tempat meeting dengan CIA, dan mengambilkan lukisan yang bosnya sukai dari ruangan lain. Sikap Hanssen memang rada ganjil tetapi O’Neill kemudian melihat bosnya bukan orang yang patut diawasi, apalagi dicurigai macam-macam oleh FBI. O’Neill justru melihat Hanssen sebagai seorang yang “baik-baik”, taat dengan agamanya dan disayang oleh cucu-cucunya.

Seperti halnya O’Neill yang tidak bisa melihat sedikitpun cela pada diri Hanssen, kecuali sikapnya yang dingin kepadanya, “Breach” nantinya juga akan mengajak kita tertipu oleh keseharian Hanssen yang dipercaya telah menghianati negaranya tersebut. Lewat upaya O’Neill untuk lebih dekat dengan atasannya dan tetap berusaha agar penyamarannya tidak “tercium” oleh sang bos yang ahli melihat kebohongan—bahkan ketika O’Neill secara diam-diam masuk ke ruangan Hanssen, dengan mudah si bos tahu kalau ada seseorang yang sudah masuk ruangannya dan dia memperingati asistennya untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi—saya langsung tersadar ini bukan lagi semata-mata “pertarungan” antara junior dan senior tetapi “Goliath melawan David”, yang satu seorang raksasa yang sulit ditaklukkan karena dia sendiri ahli soal intelijen dan sudah pasti punya berlapis-lapis pertahanan sebelum bisa mempercayai orang lain, sedangkan O’Neill hanya lawan kecil bagi Hanssen. Tentu saja itu salah, jika O’Neill tidak punya apa-apa dalam dirinya, untuk apa Burroughs merekrutnya. Ada detil-detil kecil yang justru menjadi kelebihan O’Neill dan membuatnya cocok dengan misi penyamaran ini.

Kucingan-kucingan antara Hanssen dan O’Neill pun semakin menarik menit demi menit-nya dan ditangan Billy Ray setiap adegan seperti tidak ada yang tidak penting atau pun dibuat sia-sia. Sutradara yang merangkap juga sebagai penulis screenplay ini betul-betul mengerti bagaimana menyajikan sebuah film thriller spionase tanpa hingar-bingar action. Jadi jangan berharap “Breach” akan menyajikan atraksi kejar-kejaran agen FBI penuh atraksi tembak-menembak, masih ada sih adegan yang buang-buang peluru tapi itupun hanya adegan Hanssen sedang latihan menembak bersama rekan sesama agen, selepas itu film ini sama sekali membiarkan senjata tetap di sarungnya dan sebaliknya menodongkan penonton dengan dialog-dialog cerdas. Billy Ray tidak hanya mempersenjatai “Breach” dengan kalimat-kalimat yang ampuh mengajak kuping penonton untuk asyik mendengar setiap percakapan antara O’Neill dan Hanssen, tetapi juga mampu menyajikan ketegangan yang datangnya sekali lagi bukan dari adu tembak, adegan O’Neill yang salah menaruh PDA pun oleh Billy Ray bisa disulap menjadi santapan adrenalin.

Dengan pola bercerita yang apik dengan dua karakter yang dibentuk dengan matang dan dibiarkan beradu kepintaran dan kelihaian dalam berbicara untuk menghibur penonton, “Breach” tidak perlu berlama-lama untuk menjerat penontonnya, film ini dengan mudah sanggup membuat saya menyukainya bahkan sejak Hanssen membuka pintu yang selalu berbunyi ketika dibuka dan bertemu dengan O’Neill untuk pertama kalinya. Chemistry tersebut tidak hanya kuat dalam diri kedua karakter utamanya, film ini secara keseluruhan sudah mampu menghadirkan hubungan kuat antara kita sebagai penonton dan filmnya sendiri. Dimana setiap saat Billy Ray dengan baik hati mengajak serta emosi kita untuk ikut bermain dalam setiap konfliknya, misalnya ketika Hanssen mulai “bertamu” dalam kehidupan rumah tangga O’Neill dan selalu jadi sumber pertengkaran, ditambah dengan beban O’Neill harus merahasiakan misi penyamaran ini kepada istrinya.

Keberhasilan “Breach” untuk dengan mudah disukai tidak terlepas juga dari keterlibatan Chris Cooper yang berakting begitu meyakinkan sebagai Hanssen. Kehebatan performa aktor yang memang sangat cocok memerankan peran seorang agen intelijen, termasuk menjadi agen CIA dalam “The Bourne Identity” ini langsung terasa hanya dengan tatapan matanya yang dingin itu. Cooper pun melakukan pekerjaan dengan baik dalam misinya untuk menghadirkan seorang Hanssen yang selalu mengajak penonton mempertanyakan apakah orang sekeras ini masih bisa “disusupi”, apakah dia punya kelemahan? dengan sikapnya yang selalu mengkritisi birokrasi dan hampir apapun, Hanssen adalah karakter yang mudah untuk dibenci sekaligus juga disukai. Ryan Phillippe tentu saja tidak begitu saja membiarkan perhatian penonton tertuju pada lawan mainnya yang lebih senior itu, memerankan karakter Eric O’Neill, Ryan sanggup mengimbangi akting hebat Cooper. Okay, kita mungkin dengan mudah tahu kemana arah “Breach” akan berakhir, tapi itu tidak menjadikan film ini kurang menarik karena yang paling penting adalah bagaimana Billy Ray akhirnya mengarahkan kita dari poin A ke B, dan dia memberikan kita arahan jalan yang paling terbaik menuju kesana.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Talak 3
Review - Lights Out
Review - The Girl wi...