Review: Bio Zombie (Sun Faa Sau Si)

written by Rangga Adithia on April 13, 2011 in Asian Film and CinemaTherapy and Comedy and Horror with no comments

Bring more friends to buy VCDs from us, got me? ~ Crazy Bee

“Shaun of the Dead” bisa dibilang mentorehkan sejarah di dunia perzombian, tidak hanya sukses memberikan sebuah standart baru bagaimana membalut zombie yang sudah jelek kemudian berubah jadi lucu, dengan menambahkan komedi ala british dan extra romansa ke dalamnya (makanya dinamakan romantic zombie comedy), tetapi juga diikuti dengan statusnya sebagai sebuah film cult. Tak jarang jika ada sebuah film zombie bertema sama muncul, orang-orang, termasuk saya, pasti akan langsung membandingkannya dengan film arahan sutradara Edgar Wright tersebut. Tapi tunggu dulu, ternyata sebelum Simon Pegg dan Nick Frost memutuskan untuk bertandem dalam membasmi zombie, dengan berbagai barang termasuk koleksi piringan hitam, di Hongkong sana infeksi zom-com (zombie comedy) sudah lebih dahulu mewabah.

Yeah! sebelum juga Zack Snyder punya pikiran untuk mendaur ulang “Dawn of the Dead”, Wilson Yip (Ip Man 1 & 2) mengambil start lebih awal dengan sebuah parodi yang sama-sama berkiblat pada film zombie buatan Romero di tahun 1978 yang berlokasi di mall tersebut. “Bio Zombie” atau Sun faa sau si, memang akan terlihat cupu jika dibandingkan dengan film-film zombie modern yang belakangan muncul di tahun 2000-an, tetapi percayalah jika berbicara soal menghibur, film ini punya senjata ampuh yang akan menodong penontonnya untuk tidak henti-hentinya tertawa.

“Bio Zombie” sendiri akan memperkenalkan kita dengan duo penjahat kacangan, Woody Invincible (Jordan Chan) dan Crazy Bee (Sam Lee), selain punya kerjaan permanen di sebuah mall sebagai pemilik kios vcd dan games (bajakan), mereka sehari-hari juga kerja serabutan dari menyelesaikan macam-macam tugas dari bosnya sampai mencoba mencuri cincin imitasi dari seorang perempuan. Pokoknya Woody dan Crazy akan melakukan apa saja untuk mendapatkan uang, tipikal gangster yang bermodal gaya tapi berkantong tipis dan punya nyali kecil. Pada suatu hari keduanya pun diberi tugas untuk mengambil mobil milik bosnya dari sebuah bengkel, di perjalanan pulang mereka tidak sengaja menabrak seseorang yang tiba-tiba muncul di depan mobil yang sedang melaju cukup kencang.

Yah tentu saja Woody dan Crazy panik tapi juga santai dan sempat-sempatnya menipu polisi yang kebetulan lewat di tempat kejadian. Ketika orang yang ditabrak oleh mereka sedang sekarat, dengan suara tidak jelas, orang tersebut menyebut-nyebut sesuatu tentang minuman soda. Woody dan Crazy mengira orang yang mereka tabrak ingin minum dan kebetulan di dekatnya ada sebuah minuman soda, tanpa tahu apa sebenarnya isi minuman tersebut, mereka langsung saja mencekoki si korban dengan soda yang berwarna kehijau-hijau tersebut. Karena mengira si korban hanya pingsan setelah diberi minuman, Woody dan Crazy memasukkannya ke mobil, tepatnya ke bagasi.

Orang yang ditabrak oleh mobil Woody sebetulnya sedang mencoba melarikan diri dari mayat hidup dan minuman soda yang dibawanya adalah semacam cairan kimia yang bisa merubah orang normal menjadi zombie. Woody dan Crazy tentu saja tidak menyadari apa yang akan terjadi, begitu pula orang-orang di mall, termasuk juga sepasang suami-istri pemilik toko handphone, dua orang perempuan yang bekerja di salon kecantikan, dan Loi, yang punya panggilan akrab “Sushi Boy” (panggilan dari Woody) karena dia bekerja di sebuah restoran sushi. Mereka semua tidak pernah menyangka bahwa kehidupan mall akan berubah berbau kematian ketika tiba-tiba zombie-zombie berdatangan meramaikan toko-toko mereka. Zombie-zombie bermake-up amburadul tak karuan tersebut tentu saja bukan sengaja datang ke mall untuk belanja atau membeli vcd bajakan di kios Woody dan Crazy, tetapi untuk mencari daging segar… otaaaaak, eh bukan dagiiiiing!

“Bio Zombie” tidak akan sebrutal dan se-gore “Braindead” tapi juga tidak kalah tolol dari film buatan Peter Jackson tersebut. Apalagi di sini, ada zombie yang diperlihatkan masih punya hati manusia, ibarat kata otak sudah busuk tapi hati tetap berbunga, yup karena zombie yang satu ini sedang jatuh cinta dengan seorang perempuan yang dia taksir sejak dia masih manusia, (sayangnya) cinta itu tak terbalaskan dan dibawa sampai mati. Wilson Yip bisa dibilang sedang bersenang-senang di film horor komedinya ini, terlihat sekali dari sensasi menyenangkan adegan demi adegan dan juga jajaran pemain yang dibentuk untuk konyol ini, rasa menyenangkan itu pun tersampaikan dengan mantab kepada para penontonnya. “Bio Zombie” dengan pesan hiburan yang sederhana memang sepertinya dari awal tidak terbentuk untuk menjadi horor yang ingin tampil menyeramkan atau sok bertampang sadis, tapi seperti juga dua lakon utamanya, Woody dan Crazy yang memang dari awal sengaja dihadirkan konyol, film ini juga tak perlu dianggap serius.

Sekilas “Bio Zombie” akan mengingatkan saya dengan film-film horor vampir cina yang sudah terkenal dengan kelucuannya itu, mungkin yang dulu pernah doyan nongkrong di depan televisi seperti saya melahap film-film horor vampir berbalut komedi tersebut, akan merasakan hal yang sama. Tentu saja bedanya kali ini vampir-vampir berkostum tradisional ala kerajaan bertampang menyeramkan dengan kertas kuning di jidat ini akan digantikan dengan zombie-zombie yang datang dari budaya seberang. Pakem dari film zombie yang dipopularkan oleh Romero sepertinya jadi pegangan Wilson Yip dalam film ini, termasuk juga disini zombie masih berjalan lambat dan akan memperbanyak diri jika seseorang terkena gigitan. Jadi jangan berharap zombie-zombie bisa berlarian kesana-kemari karena mereka baru akan belajar berlari di “28 Days Later”.

Mencari kesadisan film ini juga percuma, walaupun “Bio Zombie” punya momen-momen yang bisa dianggap sadis, tapi itu pun tidak terlalu frontal, bahkan film ini mencoba untuk meminimalisir adegan-adegan sadis (mungkin karena masalah bujet) dan hanya fokus pada interaksi antar pemain dalam kondisi mall yang sudah penuh zombie. Bagaimana nantinya mereka berusaha survive dari kepungan zombie akan menjadi atraksi utama di film ini, sekali lagi tentu saja dikemas dengan takaran dosis kekonyolan yang pas, tidak terlalu berlebihan dalam upayanya memancing penonton, karena kadang melihat tampang Woody atau Crazy dan zombie-zombie mall saja sudah sukses mengocok perut.

“Bio Zombie” juga tidak melulu menyodorkan kita hal-hal konyol, tapi juga ada kalanya membawa kita ke situasi penuh ketegangan, walau akhirnya ujung-ujungnya ditutup oleh kekonyolan lagi. Sepertinya film ini memang sudah dicekoki oleh minuman yang berisi formula konyol yang tiada hentinya menghibur dan membuat kita tertular ketololannya, adegan demi adegan yang disiapkan selalu saja sanggup memancing gelak tawa. Dengan naskah cerita yang ringan dan mudah ditebak, “Bio Zombie” ternyata juga masih punya sisi serius, keseriusan itu terlihat ketika film ini berada di menit-menit akhirnya. Ending film ini bisa dibilang menarik, membuat saya lupa kalau sedang menyaksikkan film yang dari awal asyik menjejerkan sisi komedinya, termasuk memasukkan unsur game ke dalam adegan survivalnya. “Bio Zombie” mungkin bukan film zombie yang akan memuaskan para penggemar gore, namun dengan komedinya yang “brutal”, film ini berhasil hadirkan sebuah hiburan yang begitu menyenangkan.

http://twitter.com/raditherapy/status/54101895572226049

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Some Kind o...
Review - Lights Out
Review - The Wailing...
Review - Don't Breat...