Review: We Are What We Are (Somos Lo Que Hay)

written by Rangga Adithia on March 28, 2011 in CinemaTherapy and Drama and Horror and South America Film and Thriller with no comments

This is what you get if you mess with my family…bitches! ~ Patricia

“We Are What We Are” atau dalam bahasa Meksiko berjudul “Somos Lo Que Hay” yang premier di Festival Film Guadalajara dibuka dengan seorang pria tua yang entah gila atau waras memperlihatkan prilaku aneh menunjuk-nunjuk patung manekin yang terpajang di sebuah toko. Setelah diusir oleh pemiliknya, pria ini mulai berjalan sempoyongan seperti orang kesakitan, muntah darah dan kemudian roboh seketika di jalanan yang tampaknya sebuah kawasan belanja. Apakah dia mati? saya menunggu dia bangkit, menjadi zombie barangkali, tapi ini bukan film zombie. Lalu dua orang berseragam—sepertinya petugas kebersihan mal tersebut—muncul dan menyeret (bukan mengangkat) orang tua yang mati tersebut, temannya yang lain mulai membersihkan jalan dari darah, setelah itu pejalan kaki mulai lewat seperti tidak terjadi apa-apa. Apakah karena si orang tua berpenampilan seperti gembel dan kemungkinan mati karena penyakitan, dia tidak berhak dihormati, tak layak diperlakukan seperti manusia, justru diseret layaknya bangkai binatang. Inilah yang akan mengisi ruang-ruang visual Jorge Michel Grau, “We Are What We Are” nantinya memang akan menjadi sebuah panggung drama berbalut horor yang mengolok-mengolok tata cara kita dalam memperlakukan kehidupan, sebuah dark comedy, sebuah satir, lalu dilapisi dengan kisah keluarga miskin yang menyimpan sebuah rahasia yang mengerikan.

Orang tua malang yang kita lihat diawal film ternyata adalah seorang ayah, seorang suami, seorang kepala rumah tangga, yang pekerjaan sehari-harinya memperbaiki jam di pasar dekat rumah. Keluarga di rumah, yang terdiri dari Ibu (Carmen Beato) dan 3 orang anak, Sabina (Paulina Gaitan), Julián (Alan Chávez), dan kakak tertua Alfredo (Francisco Barreiro) tentu saja luar biasa terpukul ketika tiba-tiba Sabina dengan raut menyedihkan pulang ke rumah dan mengatakan “ada seseorang mati di mal, dia sebelumnya melihat-lihat manekin, ayah telah mati!”. Perkataan Sabina langsung dibalas dengan bantingan kesedihan dan amarah sang Ibu, anak-anaknya hanya bisa diam. Sedih ditinggal orang yang disayangi dan satu-satunya pencari nafkah di keluarga tentu adalah hal yang normal, tapi apa yang diperlihatkan kemudian tidak lagi jadi wajar. Ketika Ibu mereka sedang mengurung dirinya di kamar, anak-anak merencanakan sesuatu, memilih siapa yang akan menjadi pengganti ayah mereka untuk “berburu”. Sebuah rutinitas penting yang mereka namakan “ritual” harus tetap dijalankan—sepertinya akan terjadi sesuatu jika ritual ini tidak dilakukan—oleh karena desakan ritual ini, Julian dan Alfredo pergi “berburu” ke kolong jembatan, berencana menculik anak-anak namun gagal.

“We Are What We Are” mengingatkan saya dengan sebuah film asal Yunani berjudul “Dogtooth”, yang tahun ini dinominasikan untuk film berbahasa asing terbaik di Oscar. Di film ini Giorgos Lanthimos memperlihatkan kita sebuah gambaran tentang disfungsi keluarga dengan level mencekam. Tiga orang anak yang juga dimanipulasi oleh kedua orang tua mereka, mencuci otak dengan kebohongan-kebohongan bahwa dunia di luar sana adalah tempat yang berbahaya. “We Are What We Are” memiliki pola yang hampir serupa, film ini awalnya bergerak secara perlahan, berusaha menutupi wajah sebenarnya, Grau senang membuat kita penasaran, sampai akhirnya kita tersadar Alfredo dan keluarga bukanlah orang-orang normal, “Dogtooth” juga melakukan hal yang sama. Berbeda dari “Dogtooth”, anak-anak disini tidaklah terisolasi dan justru bebas berkeliaran bebas untuk menjadi normal, pikiran merekalah yang sebetulnya diisolasi oleh sebuah manipulasi. Orang tua mereka adalah orang miskin, ayah mereka hanya bekerja memperbaiki jam, itu tidak cukup untuk memberi makan seluruh anggota keluarga. Alasan tersebutlah yang akhirnya melahirkan sebuah “ritual”, bagi anak-anak ritual ini sangat penting, bagi saya dan orang tua mereka tentu saja ini hanya persoalan perut.

Mengubah sebutan kanibal menjadi ritual bukanlah sebuah alasan kosong, tetapi cara jitu untuk mengimplankan sebuah pemikiran bahwa jika ritual ini tidak dilaksanakan, maka sesuatu yang buruk akan terjadi (padahal sekali lagi, sederhananya tidak makan sama saja dengan lapar), lihat saja betapa paniknya Alfredo dan adik-adiknya untuk segera mencari “korban” untuk ritual tersebut. Mereka tidak menyebut, saya ingin menculik anak-anak atau pelacur karena saya lapar, tetapi terus-menerus menyebut untuk ritual, bahkan ketika Julian dan Alfredo gagal menculik anak-anak kolong jembatan, Ibu mereka marah sambil bertanya “untuk apa kalian melakukan hal idiot ini”, mereka merespon sekali lagi untuk “ritual”. Sebuah ritual sudah berhasil terpatri di pikiran anak-anak ini, tujuannya sudah jelas, tentunya agar mereka bisa bertahan hidup dan tradisi “ritual” ini bisa terus berjalan, memakan daging manusia bukan persoalan karena anak-anak ini menyukainya tapi justru karena ada “ketakutan”, tidak ingin kena marah orang tua dan mengkhianati sebuah ritual lalu kena hukumannya (jika memang hukuman itu ada).

“We Are What We Are” memang film bertema kanibal, tetapi jangan berharap film ini hanya akan mengobral kesadisan tanpa ampun, menguntit apa yang sudah dilakukan film-film sejenis pada era 80an. Grau juga tidak akan mengemasnya menjadi film yang banjir darah ala film-film slasher. Tetapi seperti juga apa yang telah dilakukan “Let The Right One In” pada film bertema vampir, “We Are What We Are” akan membawa kita kepada film kanibal yang tidak biasa. “Let The Right One In” bukan lagi memfokuskan diri pada soal vampir dengan tradisinya meminum darah dan darah, tetapi juga sanggup memberi gambaran baru tentang seorang vampir, menampilkan film vampir dengan segala rupa yang berbeda ditambah dengan pernak-pernik cerita yang unik. “We Are What We Are” juga memberi kita sebuah gambaran baru, mengajak kita untuk berkenalan dengan sebuah film kanibal yang tidak “kanibal”, isinya tidak melulu makan dan makan daging manusia tetapi justru menghadirkan sisi lain yang melukiskan warna baru pada kanvas kehidupan keluarga kanibal, bahwa mereka juga manusia dan diceritakan dengan manusiawi pula oleh Grau yang juga menuliskan skrip untuk film ini.

Manusia akan melakukan apapun untuk bisa bertahan hidup, bahkan “memakan” manusia jika perlu, itulah sebuah metafora yang ingin diperlihatkan Grau di filmnya. Pernyataan-pernyataan pedas yang menggelitik tersebut tampil berdampingan dengan kisah keluarga kanibal yang makin menarik karena tidak hanya mampu diceritakan dengan manusiawi, tetapi juga masing-masing anggota keluarga, baik sang ibu dan juga anak-anaknya, mampu mengeluarkan cerita-cerita mereka sendiri. Tujuan Grau adalah menyatukan keluarga ini dengan “tradisi” mereka, tapi cerita-cerita dari masing-masing keluarga inilah yang makin membuat film ini makin menarik untuk disaksikkan, walau Grau lebih asyik memilih memaparkan kisahnya dengan alur yang lamban. Sang ibu dengan power-nya sebagai orang tua terakhir akan melakukan apapun untuk menjaga anak-anaknya dan juga “tradisi” mereka. Alfredo yang seharusnya menggantikan ayahnya, masih mencari-cari jawaban apakah dia mampu menanggung beban tersebut, kala dia terkadang tidak sanggup menjinakkan adiknya sendiri yang terlihat lebih bringas darinya, tapi tentu saja pemimpin bukan saja soal otot tapi juta otak. Alfredo disini juga diperlihatkan “bingung” dengan identitas seksualnya.

Beda Alfredo, beda lagi dengan Sabina yang terlihat lemah, tapi justru tampil sebagai orang yang sebenarnya paling punya kuasa di keluarga ini, dia satu-satunya yang sanggup berdiri di antara perselisihan antara Julian dan Alfredo, sekaligus juga menjadi penengah ketika dia bersama anak-anak yang lain tidak seiya-sekata dengan sang Ibu. Sisi menarik keluarga ini tidak berhenti sampai disitu, Julian yang terlihat paling keras ternyata punya hati dan sembunyi-sembunyi “tergiur” dengan Sabina. Beragam cerita tersebut, pastinya membuat “We Are What We Are” akan tampak seperti drama ketimbang berusaha untuk menggenjot porsi horornya. Namun tentunya Grau tidak melupakan menyajikan adegan-adegan penyegar yang akan memperlihatkan sisi paling kelam dari keluarga kanibalnya. Sederet adegan sudah disiapkan oleh Grau untuk menegaskan identitas sebenarnya dari keluarga kelas menengah ini, lihat saja bagaimana nanti Sabina dan ibunya menyiapkan ritual mereka, Sabina juga tidak malu-malu memperlihatkan sisi binatangnya, benda-benda tajam akan lihai dimainkannya ke arah korban yang merengek minta diampuni.

Walau film ini masih punya sisi kesadisan ala film slasher, tapi jika dibandingkan dengan film-film yang memang ditujukan untuk mandi darah, “We Are What We Are” malah akan terlihat sangat-sangat “bersahabat”. Kesadisan yang ditampilkan Grau kebanyakan tidak akan frontal, Grau akan memamerkan adegan-adegan sadisnya bisa dibilang seperti sebuah pemancing untuk selebihnya pikiran kitalah yang lebih banyak memproses alias membayangkan kesadisan itu lebih jauh. Bagi yang meminta lebih, Grau tampaknya tidak akan mengenyangkan kita yang masih lapar akan kesadisan, jadi bersiaplah untuk kecewa yang berharap banyak adegan banjir darah dan pesta gore. Saya sendiri memang sedikit kecewa dengan “malu-malunya” Grau dalam mengeksploitasi lebih sisi binatangnya, tapi kekecewan saya sedikit terobati ketika film ini mampu membuat saya nyaman bersandar pada nuansa kelam dan gelap yang dibangun dengan begitu apik oleh Grau. Mendukung setiap saat Grau ingin memperlihatkan sisi horor film ini, apalagi ditambah dengan iringan musik yang makin menyayat-nyayat, didominasi oleh gesekan biola. Debutnya dalam penyutradaraan memang tidak mengenyangkan mereka yang berharap film ini akan lebih brutal, tapi Grau berhasil mengajak saya ke tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, bercerita tentang keluarga kanibal dengan segala permasalahannya yang sangat manusiawi. “We Are What We Are” memang bukan horor yang sepenuhnya mampu membuat saya berjingkrak-jingkrak tetapi sebaliknya membuat saya menundukan kepala, dengan metafora-metafora yang disebar film ini, saya melihat kenyataan bahwa kadang kehidupan asli sendirilah yang lebih horor dari sebuah film.

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/52259526686146560

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Deathgasm (...
Review - Cipali KM 1...
Review - Blair Witch...