My Review is Sucks: Skandal

written by Rangga Adithia on March 20, 2011 in CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia and Thriller with 9 comments

Jangan pernah tutup telepon aku ~ Vincent

Di tahun 2001, Jose Poernomo bersama dengan Rizal Mantovani memperkenalkan kita, penonton Indonesia, dengan “Jelangkung”, sebuah film horor yang bisa dibilang sangat fenomenal ketika dirilis, film yang terkenal dengan tagline “datang tak dijemput, pulang tak diantar” ini berhasil menyedot sampai satu juta lebih penonton untuk berbondong-bondong datang ke bioskop, angka yang menghebohkan kala itu, jika melihat pada akhir 90-an dan awal 2000-an adalah masa ketika perfilman tanah air sedang merangkak bangkit setelah mati suri dan hanya diisi film esek-esek. “Jelangkung” juga semacam sebuah blueprint untuk film-film horor yang kemudian hadir, termasuk juga sekuel film ini bertajuk “Tusuk Jelangkung”, sejak saat itu “Jelangkung”-nya Jose Poernomo dan Rizal Mantovani seperti menciptakan tren baru dan film horor lokal pun kembali bergeliat dan bergairah untuk menakut-nakuti dengan variasi cerita dan tentu saja kualitas yang naik-turun, kebanyakan ‘turun’-nya sih. Jika Rizal Mantovani kemudian di tahun 2006 membuat film horor lagi, yaitu “Kuntilanak”, Jose Poernomo baru nimbrung meramaikan horor lokal lagi pada 2007, lewat film “Angker Batu”, lalu setia membuat film setiap tahun, hingga terakhir film bertema komedi “Kirun + Adul” di tahun 2009. Setelah “beristirahat” setahun, Jose Poernomo kembali tahun ini dengan film “Skandal”.

Mengusung genre drama-thriller, “Skandal” memang terbilang berani untuk menciptakan skandal di tengah ramainya film horor murahan yang masih saja setia menumpuk kotoran hingga menutupi film yang sebenarnya “berlian”, yah tentunya masih dengan formula setan kacangan dipasangkan dengan porsi “buka-buka-an”, yang keseluruhannya dikemas nanggung atau memang tidak niat buat film. Saya tinggalkan pembahasan tentang horor mesum murahan yang justru hanya membuat tidak mood menulis, lanjut kembali ke film “Skandal”, kisahnya sendiri akan berputar pada persoalan selingkuh, dimana semuanya bermula dari kecurigaan seorang istri, Mischa (Uli Auliani) terhadap suaminya Aron yang diperankan oleh Mike Lucock (Rumah Dara), yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai-sampai membiarkan Mischa “menganggur” di ranjang karena rekan sparingnya selalu menolak ketika diajak main olehnya. Mischa pun hanya bisa melampiaskan nafsu-nya sendirian di sebuah bathtub, masturbasi ditemani busa dan dihiasi teriakan-terikan birahi tanpa ada yang merespon balik, mungkin hanya penonton saja yang nantinya bisa merespon Mischa dengan berbagai candaan.

Acuhnya Aron pun berbuntut pada tuduhan Mischa bahwa suaminya telah selingkuh dengan sekretarisnya (Laras Monca) yang diperlihatkan selalu berpakaian seksi kemana-mana itu. Kecurigaan Mischa makin membuat dia paranoid dan sering bermimpi yang tidak-tidak antara Aron dengan sekretarisnya. Pada saat kecurigaan dan horny sama-sama memuncak, muncul Vincent (Mario Lawalata) yang diketahui belakangan ternyata adalah mantan kekasih Mischa. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya hubungan terlarang ini terjadi, dalam pikiran Mischa “emang suami gw aja yang bisa selingkuh, gw buktikan klo gw juga bisa”. Bermodalkan sedikit ingin balas dendam dan didominasi oleh hasrat ingin memuaskan kebutuhan seksualnya, Mischa menjadi “buta” dan lupa jika dia sudah punya keluarga, apalagi punya seorang anak hasil pernikahannya dengan Aron. Pertemuan demi pertemuan yang berakhir di ranjang pun makin menjauhkan Mischa dengan keluarga, jadi suka pulang larut malam sampai lupa menjemput anaknya di sekolah.

“Skandal” yang dibuka dengan adegan syur Mischa sedang masturbasi—dilakonkan oleh Uli Auliani dengan sangat meyakinkan—dalam sebuah bathtub dan tak ada hentinya digerayangi mata jahil lensa kamera, bisa dibilang sebuah hidangan pembuka yang lezat bagi mata lelaki, apalagi Jose Poernomo tidak malu-malu menghempaskan daya fantasi liarnya ke layar untuk makin menegaskan “Skandal” memang totally untuk dewasa, jadi bukan untuk anak kemaren sore yang masih bau kencur dan kencingnya masih belum lurus (sebentar…horee!! lurus!!). Tidak sah dong kalau “Skandal” cuma tampil berani di awal saja dan tidak lucu juga setelah dibuat “melek”, ternyata sisanya drama dan drama. Mumpung ini dikategorikan film dewasa, sudah sewajarnya Jose Poernomo menyelipkan berderet adegan syur yang saling berlomba untuk menggoda dan siap disantap oleh mata penonton, yup “Skandal” akan begitu vulgar!. Tapi bukan vulgar versi film-filmnya KK Dheraj, adegan-adegan syur malu-malu tahi kucing yang biasanya hanya ditaruh secara sembarangan disela-sela cerita yang sedang menjalankan misinya untuk menurunkan IQ penontonnya, mendoktrin kecerdasan dengan ideologi cacat bahwa bikin film itu tidak perlu pakai otak, buang kata F, I, dan L, dan sisakan M untuk Mesum.

Jose Poernomo yang juga merangkap sebagai penulis skrip dan director of photography sepertinya mengerti untuk tidak sembarang memajang Uli Auliani dengan tampilan seksi atau sempilan adegan seks, walau serasa seperti sebuah cemilan ketika bergulirnya cerita, “Skandal” mampu menempatkan seks sesuai kebutuhannya, terkadang justru diperlukan untuk menambah penegasan dalam cerita, sudah sampai dimana sih level skandal antara Vincent dan Mischa. Lagipula ini bukan lagi film anak kecil yang harus ditutupi, bukan, dan menariknya Jose Poernomo tak kenal basa-basi disini, dia mengemas skandal dengan pertemuan singkat tanpa dialog, cukup bahasa gambar, lalu “dialog” sebenarnya selalu berlanjut dengan komunikasi antar tubuh di ranjang atau di kursi belakang taksi. Namun sayangnya tidak semua keliaran yang ingin disampaikan Jose Poernomo tampil sevulgar yang diinginkan (oleh Jose sendiri maupun penonton hahaha), disinilah “Skandal” mulai membatasi dirinya dengan sedikit artistik untuk terlihat masih “sopan”, bermainlah Jose dengan adegan-adegan syur tersebut, menambahkan gaya “fade-in-fade-out” yang cepat, jadi gambar timbul lagi dan hilang lagi. Perlakuan Jose pada adegan seks-nya tersebut tentunya sangat mengganggu, melelahkan mata tapi untungnya hanya beberapa menit.

Persoalan cerita lain lagi, dikemas dengan alur yang lurus-lurus saja, sesekali kita akan diajak menengok kilas balik masa lalu Vincent dan Mischa, drama perselingkuhan dalam “Skandal” bisa dibilang terlalu melelahkan untuk diikuti karena sudah sekian banyak film yang memperkenalkan kita dengan model drama seperti ini, sebelum Mischa sadar bahwa “selingkuh itu mendatangkan bencana” dan semua film sejenis juga kompak menyerukan hal yang sama, penonton sudah lebih tahu kemana “Skandal” akan mengarahkan konflik. Ketika penonton tidak sabar untuk segera menyimpulkan akhir dari perselingkuhan antara Vincent dan Mischa, Jose Poernomo justru asyik mengulur-ngulur waktu dengan adegan yang muncul berulang. Karena ini film drama-thriller, wajar jika Jose ingin menumpuk segala macam drama namun porsinya terbilang membosankan, sejam pertama sepertinya dihabiskan untuk drama perselingkuhan dan kegalauan. Baru pada saat “Skandal” mulai melangkah ke konflik berikutnya, cerita kembali menarik dengan mulai masuknya efek samping perselingkuhan terhadap keluarga, terkuaknya “sisi gelap” Vincent dan Mischa yang ingin kembali ke keluarga walau tetap paranoid dengan Aron.

Porsi thriller betul-betul dimanfaatkan Jose Poernomo untuk mengajak penonton kembali bereaksi lewat situasi pelik dan pergolakan emosi yang mulai ditinggikan levelnya, dalam cerita yang mulai “ereksi” setelah terlalu lama dibawa “foreplay” dengan permainan kucing-kucingan antara Mischa dan suaminya. Di bagian akhir inilah cerita menampilkan gairahnya untuk memberikan rasa tegang pada penonton dan Jose Poernomo ternyata tak begitu saja membiarkan penonton keluar tanpa pertanyaan karena dia brengsek-nya masih punya twist yang lumayan menghibur. Didukung dengan pengambilan gambar yang pas, “Skandal” tidak hanya memperlihatkan betapa ketakutan itu memuncak pada diri Mischa saja tetapi juga mencoba berinteraksi dengan penonton lewat visual. Selain pengambilan gambar, “Skandal” juga memiliki kualitas gambar yang “seksi” dan memanjakan mata.

Interaksi visual antara film dengan penontonnya juga didukung oleh kemampuan Uli Auliani dalam mengatasi karakternya, permainan aktingnya secara mengejutkan bisa berhasil mengajak penonton untuk masuk ke dalam situasi cinta, perselingkuhan, serta konflik yang nantinya hadir berurutan. Uli Auliani juga mampu menghadirkan chemistry yang cukup seimbang pada selingkuhan dan suami. Mario Lawalata dan Mike Lucock juga turut serta menampilkan porsi akting yang cukup baik. “Skandal” memang hadir dengan cerita usang yang dipermak untuk terlihat baru, namun Jose Poernomo tidak mengemasnya dengan bungkus murahan. “Skandal” yang percaya diri mengklaim dirinya sebagai film dewasa juga tidak malu-malu bermain “berani”, seksi, dan vulgar, walau dengan berbagai alasan “Skandal” juga berupaya untuk membatasi filmnya agar masih terlihat “sopan”. Ditengah pilihan tontonan yang itu-itu saja, film ini bisa menjadi sebuah alternatif bagi penonton dewasa yang ingin melihat film Indonesia yang bukan horor, duh memang sudah saatnya penonton film kita diberi sebuah pilihan, tidak melulu horor, tak apa jika bagus tapi ini dengan kualitas yang merengek-rengek minta dimaki.

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/48640164075012096

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Deathgasm (...
Review - Raksasa Dar...
Review - Lights Out
Review - Dukun Linta...