My Review is Sucks: Lost In Papua

written by Rangga Adithia on March 10, 2011 in Asian Film and CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia and Romance and Thriller with 11 comments

Di hutan Boven Digul masih ada mitos, ada perkampungan yang seluruh penghuninya terdiri dari kaum perempuan dan sampai saat ini tidak seorang pun yang melihat mereka ~ Ayah Ebie

Ketika perfilman nasional dipenuhi film dengan genre yang itu-itu saja, ditambah jarang mengajak penontonnya menengok keindahan alam nusantara lewat film, “Lost in Papua” tentu saja menjadi seperti sebuah angin segar ditengah film-film horor yang mengantri dan berlomba untuk menakuti penonton Indonesia, produktivitas yang “jempolan” (jika bisa dibilang demikian) sayangnya tidak dibuntuti dengan kualitas yang pantas. Kita tahu negeri ini dianugrahi banyak tempat-tempat yang mewakili kata “surga”, diantara ribuan pulau yang terhampar dari Sabang sampai Merauke, tapi jarang sekali kita melihat sebuah film yang mengajak jalan-jalan penontonnya ke lokasi-lokasi indah yang disediakan alam Indonesia. Namun bukan berarti di daftar film nasional tidak ada sama sekali hasil karya anak bangsa yang mencoba mengeksploitasi kekayaan alam nusantara, “Laskar Pelangi” yang diadaptasi dari novel laris karya Andrea Hirata, sukses menterjemahkan indahnya Pulau Belitung yang eksotik dari tulisan dinovelnya sampai akhirnya tercicipi oleh mata.

Film tahun 2008 yang disutradarai oleh Riri Riza ini juga bukan satu-satunya film lokal yang punya niat baik memperkenalkan dan menonjolkan kekayaan alam nusantara. Pada tahun 2006, “Denias, Senandung di Atas Awan” mengirim kita ke tanah Papua, tepatnya mengunjungi Wamena, Timika, dan tempat-tempat lainnya yang berhasil dipotret film ini dengan indah. Lalu ada juga, “Tanah Air Beta”, yang rilis pada 2010, film ini mengajak kita melihat potret kehidupan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, lengkap dengan alamnya yang juga tidak kalah indah. Sutradara Irham Acho Bahtiar dan “Lost in Papua” punya semangat yang sama untuk mengangkat kekayaan alam dan budaya Indonesia, khususnya tanah Papua Selatan, yang akan menjadi latar belakang cerita petualangan di film ini. Makin unik ketika mendengar “Lost in Papua” akan mengajak kita masuk ke pedalaman hutan Boven Digul yang misterius untuk bertemu dengan suku Korowai, suku asli hutan tersebut yang kabarnya salah satu suku kanibal yang masih tersisa di Papua Selatan, tapi tentu saja nantinya suku Korowai di film ini tidak akan digambarkan se-ekstrim itu tapi justru digambarkan sebagai suku yang cinta damai bahkan lucu.

“Lost in Papua” sebetulnya punya kisah yang tidak terlalu rumit, Nadia yang diperankan oleh Fanny Fabriana ditugaskan oleh atasannya untuk pergi ke Papua, awalnya tentu saja Nadia menolak dan memilih ditugaskan kemana saja selain Papua, namun setelah dapat nasehat dari kakeknya (Piet Pagau) dan berharap menemukan tunangannya yang hilang di hutan Papua 3 tahun lalu, Nadia akhirnya pergi. Di Papua, tepatnya di Merauke, Nadia di temani oleh Zabo, Merry dan Ebie, bersama mereka juga Nadia dibantu untuk menelusuri hutan Boven Digul dengan tujuan mencari titik tambang baru yang merupakan bagian dari tugas kantornya. Di tengah perjalanan, Nadia dan teman-teman menyempatkan untuk berkunjung ke perkampungan suku Korowai, yang ternyata tidak seseram apa yang Nadia bayangkan sebelumnya. Mereka ramah dan bahkan membuat Nadia dan yang lain betah hingga berniat berada di kampung tersebut agak lama. Sayangnya kedamaian menjadi sedikit terusik dengan kehadiran David (Fauzi Baadilla) dan pengawal-pengawalnya.

Si David ini memang dari awal diceritakan mengejar-ngejar cinta Nadia, namun selalu saja direspon dingin oleh Nadia, David tidak menyerah bahkan menyusulnya ke Papua. David dengan sikap buruknya lalu melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan di perkampungan suku Korowai, yang akhirnya membuat berang suku yang awalnya ramah pada tamunya tersebut, lalu mengejar-ngejar David dan teman-temannya, Nadia, Zabo, Merry dan Ebie yang panik juga ikut lari. Keadaan ditambah buruk ketika mereka berlari ke daerah terlarang, sebuah hutan yang diberi garis merah di peta dan lokasi dimana tiga tahun lalu, tunangan Nadia hilang. Di hutan inilah Nadia, David, Zabo, Merry dan Ebie akan menemukan perkampungan misterius, yang oleh masyarakat setempat dipercaya ada hanya sebagai mitos belaka. Jika suku Korowai digambarkan ramah dan cinta damai, nah suku ini justru sebaliknya, sebuah mimpi teramat buruk bagi Nadia dan kawan-kawan.

“Lost in Papua” bukan hanya menceritakan Nadia yang tersesat di hutan Papua Selatan tapi juga seakan-akan filmnya sendiri juga tersesat, kehilangan arah ingin membawa film ini kemana. Lebih dari separuh film kita akan dihadapi dengan berbagai drama antara si tokoh utama Nadia dan David, berlanjut dengan petualangan Nadia di tanah Papua yang diselingi pula dengan komedi, bahkan ketika berada di perkampungan suku Korowai, tak jarang kita akan menemukan adegan-adegan yang lucu, tidak hanya dari kelompok Nadia tetapi juga orang-orang suku Korowai yang sempat-sempatnya diberikan porsi untuk membuat kita tertawa dengan tingkah laku mereka, termasuk pada saat beberapa orang dan anak kepala suku mengintip Nadia sedang mandi. Ada unsur drama, petualangan, komedi dan tidak ketinggalan ada juga cinta, well secara tiba-tiba dan tidak disangka ada hubungan yang menarik antara Nadia dan Ebie.

“Lost in Papua” seperti yang saya bilang di awal kisahnya tidak terlalu rumit, tapi justru genre dan ide cerita yang terlalu ramai yang pada akhirnya membuat film ini seakan campur aduk, semua ingin diceritakan dan malah membuat film ini terlihat pontang-panting ketika Irham mencoba mengesekusinya satu-persatu. Dilihat dari bercampurnya ide cerita, yang satu ingin mewakili semangat mengangkat sisi budaya dan kekayaan alam Papua Selatan dan yang satu lagi, ketika sampai di kampung suku misterius sepertinya murni untuk bersenang-senang. Pada akhirnya jadi bumerang sendiri bagi film ini, karena pada saat saya sudah merasa nyaman di separuh film dengan kisah Nadia yang berada di perkampungan suku Korowai, ditemani berbagai drama dan juga komedi, tiba-tiba film ini membawa kita terkejut dengan situasi yang tidak terbayangkan sebelumnya. Mungkin dari awal film ini memang ingin membuat kejutan dengan memberikan hadiah berupa perkampungan “sadis”, tapi caranya seperti membawa kita jalan-jalan santai lalu tiba-tiba menabrakkan mobil ke sebuah pohon besar. Tidak ada pemanasan, Irham justru asyik membuat saya terlena dengan kehangatan cerita di paruh awal film ini sampai pada akhirnya menghantam saya dengan plot yang polanya mengarah ke film-film slasher.

Walau saya sendiri menyukai film-film berisi kesadisan, tapi apa yang dilakukan film ini dengan menambahkan “kejutan” di sekitar 30 menit akhir film menurut saya malah bisa dibilang merusak feel yang sudah dibangun dengan susah payah di satu jam pertama film. Ketimbang rakus menjejalkan semua dalam satu film, dibuat dua film yang berbeda saya pikir lebih baik. Sepertinya tagline “Lost in Papua” sudah jadi petunjuk bagi penonton akan dibawa kemana film ini, “unik, romantis, penuh misteri dan mencekam”. Unik ada benarnya karena film ini menghadirkan kisah yang menyertakan tanah Papua Selatan sebagai latar ceritanya dan juga mengajak kita berkunjung ke tempat-tempat yang unik, hutan Boven Digul dan perkampungan suku Korowai. Romantis ketika film ini diberikan bumbu-bumbu cinta dadakan dan penuh misteri pada saat muncul pertanyaan mengenai tunangan Nadia dan mitos suku selain suku Korowai yang kabarnya “menguasai” daerah terlarang. Sayangnya resep mencekam di “Lost in Papua” gagal dalam tujuannya untuk membuat film ini kian menarik, sebaliknya justru membuat film ini kian tersesat.

Beruntung kekurangan tersebut mampu sedikit tertutupi dengan potret-potret tanah Papua Selatan yang indah, walaupun tidak sebanyak yang saya perkirakan. Kelebihan film ini juga ada pada para pemainnya yang bisa dibilang mampu memainkan porsi aktingnya dengan baik. Termasuk Fauzi Baadilla yang berhasil mencuri perhatian dengan peran antagonis yang dimainkannya dengan “ekstrim” dan ternyata aktor-aktor yang berasal dari bumi cendrawasih juga bisa berakting dengan baik, alami, dan tidak mau kalah untuk tampil semaksimal mungkin di depan kamera. Fanny Fabriana disini tidak hanya menjadi “pemanis” dalam film tapi mampu memberikan nyawa kepada filmnya sendiri untuk jadi lebih menarik dan dia sanggup menjalin chemistry dengan para pemain lainnya dan juga penontonnya, sayangnya sekali lagi fokus film ini yang kemana-mana juga ikut merusak penggalian karakter yang seharusnya bisa dibuat lebih menarik lagi jika saja tidak terlalu banyak cerita yang dimasukkan dalam batasan durasi 100 menit. Mungkin fokus kepada cerita dengan latar suku Korowai saja bisa membuat “Lost in Papua” tampil lebih punya daya tarik ketimbang diganggu dengan paket kejutan dari suku lain yang lebih ekstrim.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - A Copy of M...
Review - Cipali KM 1...
Review - Ada Apa Den...
Review - Train to Bu...