Review: I Spit On Your Grave (2010)

written by Rangga Adithia on March 23, 2011 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror and Thriller with 3 comments

You already did that, I didn’t enjoy it much… now it’s my turn to f*ck you ~ Jennifer

Sebuah pertaruhan tinggi buat sutradara Steven R. Monroe, yang namanya belum terlalu dikenal lalu kemudian “nekat” mendaur ulang film horor klasik “I Spit on Your Grave” (Day of the Woman) buatan tahun 1978, yang sebaliknya justru banyak diingat orang karena begitu kontroversial pada zamannya, mungkin hingga sekarang saya menuliskan review ini, jika mengingat brutalnya adegan pemerkosaan yang dihadirkan. Oke, Steven mungkin ingin mengikuti jejak predesesornya, Meir Zarchi, yang dulu juga sama-sama nekat dan tiba-tiba tiada angin dan hujan buat kaget semua orang dengan membuat film yang sempat dilarang tayang di beberapa negara tersebut. Yah terlepas jebloknya film ini secara komersil, diludahi oleh respon negatif, dan lagi-lagi Roger Ebert dengan sadisnya mengalungi remake ini dengan rating nol, berbagi perlakuan dengan film original-nya, saya tetap saja tertarik menonton, panasaran apakah saya akan merasakan feel yang sama dengan pada saat menonton film aslinya. Apa yang coba ditegaskan oleh Steven disini, ingin kembali menegaskan pahit dan sakitnya sebuah luka yang tidak terobati oleh rasa keadilan atau hanya murni ingin “bermain-main” dengan penis dan gunting rumput.

“I Spit on Your Grave” versi komputer jinjing jelas akan terlihat lebih matang ketimbang predesesornya dalam urusan produksi, didukung oleh uang dan teknologi, film ini mampu menyelesaikan apa-apa yang tidak mungkin di film aslinya untuk menjadi mungkin pada remake-nya. Sedangkan untuk urusan cerita, film ini tidak mengalami banyak perubahan dan tetap berpegangan erat dengan cerita aslinya, yang dipermak hanya bagian-bagian yang memang membutuhkan dramatisasi lebih, adegan balas dendam misalnya, termasuk juga menambah satu karakter lagi sebagai “hiburan”, atau jika menengok kisah dibalik “I Spit on Your Grave” asli, karakter polisi/sherif mungkin memang sengaja dihadirkan untuk lebih menegaskan sebuah keprihatinan yang dirasakan Meir Zarchi waktu itu, pada saat dia menemukan seorang perempuan korban pemerkosaan yang dibawanya ke pihak berwajib tetapi malah mendapat respon yang menanggalkan rasa keadilan. Meir Zarchi memang tidak memunculkan sosok penegak hukum di filmnya, tetapi tampaknya apa yang pernah dirasakannya diwariskan ke film ini, sebuah “tribut” bagi mereka yang seharusnya memberi keadilan dan mengayomi bukan justru sebaliknya.

Masih dengan produk “darah dibayar dengan darah”, yang jahat pasti bertemu hukuman yang setimpal, dan keadilan berhasil ditegakkan pada akhirnya (dengan cara apapun itu), “I Spit on Your Grave” akan menceritakan Jennifer Hills, yang kali ini diperankan oleh Sarah Butler—dipilih juga aktris yang sama kurusnya dengan Camille Keaton—seorang penulis novel yang sengaja “kabur” ke wilayah pedesaan untuk menyelesaikan novelnya yang kedua. Tidak ada yang berubah, remake –nya juga mengajak kita untuk tinggal di sebuah kabin bersama dengan Jennifer, di tengah hutan yang rencananya akan menjadi tempat tinggalnya selama beberapa bulan untuk menyelesaikan tulisannya dan sekaligus berjemur dengan bikini lalu pada akhirnya malah mengundang lelaki berpenis kecil dan berotak babi. Johnny (Jeff Branson) dan teman-teman idiotnya yang sebelumnya sempat bertemu dengan Jennifer, kemudian tergiur untuk mengunjungi kabin dan berniat untuk mengganggunya. Awalnya memang hanya permainan norak anak kampung, membuat suara-suara berisik dan melempar bangkai burung, tetapi lama kelamaan makin biadab, apalagi ketika aksi bejat mereka dilegalkan oleh sherif setempat.

“I Spit on Your Grave” versi Steven ini memang akan terlihat lebih “sopan” ketimbang apa yang disajikan oleh Meir Zarchi, tetapi tidak mengurangi hati nurani ini untuk ikut merasa “diperkosa”, yah saya tahu ini hanya film, tapi apakah salah jika merasa tidak tega melihat seorang perempuan kurus dijadikan sebuah ekperimen kelompok laki-laki, yang sekedar ingin tahu apakah otak mereka sekecil penis mereka dan seberapa tinggi sih level idiot mereka, ketika mengacuhkan moral dan rasa kemanusian lalu menyerahkan diri untuk tunduk pada nafsu setan. Jika Meir Zarchi mampu menghadirkan gambaran kepedihan yang tiada tara, melukiskan sayatan demi sayatan luka yang dirasakan oleh Jennifer dengan begitu pilu hingga merasuk jiwa. Steven juga masih memvisualisasikan “sakit” yang dirasakan Jennifer itu, tetapi sakitnya tidak seekstrim versi Meir Zarchi. Walau mungkin Steven juga punya pesan yang sama, sisi hiburan jelas lebih ditonjolkan di film yang juga diproduseri oleh Meir Zarchi ini. Oleh karena itu setelah kita dituntun untuk melewati serangkaian aksi-aksi tolol Johnny dan kawan-kawan dan mengumpulkan cukup rasa kesal, Steven juga punya alasan yang cukup untuk akhirnya mengijinkan Jennifer “bermain”, membalaskan dendam yang dilegalkan oleh penontonnya sendiri, dan termasuk saya, pokoknya habisi, kuliti, dan bunuh mereka semua Jen!.

Steven betul-betul memanfaatkan porsi balas dendam di “I Spit on Your Grave” dengan aksi-aksi yang lumayan brutal, setidaknya dia mampu mengabulkan doa saya yang ingin melihat kesadisan yang lebih di film aslinya. Tetapi lucunya adegan-adegan sederhana di film tahun 1978 justru lebih memikat dan lebih terasa realistis, Steven sepertinya terlalu memaksa untuk memberikan kita sebuah hasil dari balas dendam bukan prosesnya secara utuh, saya ingin sekali melihat bagaimana cara Jennifer membawa korban-korbannya ke tempat esekusi dan mengikat mereka, apakah meniup mereka dan tiba-tiba terikat atau seperti apa. Steven juga ternyata masih tergiur untuk memasukkan adegan sunat habis, tetapi jujur cara yang dilakukan oleh Meir Zarchi lebih berkelas sekaligus menyakitkan. Membuat balas dendam menjadi lebih sadis memang menjadi hiburan tersendiri tetapi jadi aneh dengan segala pola perangkap ala jigsaw.

Setelah film ini tidak menceritakan bagaimana cara Jennifer selamat selama berminggu-minggu, yang katanya Jennifer hanya memakan apa yang dia temukan di hutan, saya lalu dibuat bertanya bagaimana Jennifer bisa “pintar” merencanakan aksi balas dendamnya, apakah dia pernah riset tentang cara membunuh sebelumnya atau pernah menonton film-film SAW. Versi remake sekali lagi hanya mengajak kita untuk asyik bersenang-senang dengan kesadisan aksi balas dendam Jennifer, tanpa kita sendiri ikut merasakan kepedihannya seperti yang dilakukan film asli dengan memperlihatkan betapa sadisnya waktu mencincang batin Jennifer, proses itulah yang ditutupi versi daur ulang ini. Alih-alih kita jadi saksi proses transformasi Jennifer dari gadis penulis novel menjadi gadis pemotong penis, Steven dengan remakenya lebih suka tancap gas ke bagian esekusi yang bisa dibilang memang menjabarkan sebuah balas dendam yang manis di mata tetapi jadi hambar di hati yang sebelumnya dikoyak-koyak. Ah sudahlah mengapa saya jadi begitu serius dengan film hiburan… well apa salahnya hati juga ikut menonton, bukan.

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/50376352276291585

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Aach... Aku...
Review - Iblis (2016...
Review - 3 Srikandi
Review - Train to Bu...