My Review is Sucks: Drive Angry 3D

written by Rangga Adithia on March 1, 2011 in Action and CinemaTherapy and Hollywood with 2 comments

Wouldn’t wanna be you when Satan finds out! ~ The Accountant

“Drive Angry” dengan tambahan “3D” yang poster filmnya dijiplak oleh film “Dedemit Gunung Kidul”, sebuah film horor lokal yang lagi-lagi kacrut itu, tidak akan menyangkal jika filmnya dilabeli kelas B, satu kelas dengan “Piranha 3D” yang sudah lebih dahulu tayang disini 2010 silam atau “Machete” yang trailer-nya terus menerus diputar di layar bioskop lokal tetapi entah kapan akan ditayangkan. Seperti juga film ikan-ikan piranha, bukan “Jenglot Pantai Selatan”, “Drive Angry” memang diciptakan untuk menghibur dan yah menghibur penonton, biarlah nantinya kita harus melewati sederet tampilannya yang kartunis, cheesy dan tanpa otak, terutama berbicara soal efek visualnya. Namun dari sisi kemasan “murah” yang mengemas film yang disutradarai oleh Patrick Lussier (My Bloody Valentine 3D) ini, “Drive Angry”—uugh saya lupa menaruh “3D”, sekali lagi tak terelakkan sanggup menjabarkan kata “menghibur” dengan baik, tidak sempurna namun saya cocok dengan apa yang dilakukan oleh Patrick Lussier.

Nicolas Cage dengan gaya rambutnya yang baru (sepertinya merapihkan sedikit potongan rambutnya di “Season of The Witch”) akan bertindak sebagai “pahlawan” bernama John Milton, yang kabur dari neraka—bagaimana caranya? film ini juga tidak menyebutkan, saya pun tidak peduli. Milton “terpanggil” dari neraka untuk memburu Jonah Hill… ups maksud saya Jonah King (Billy Burke), seorang pimpinan sekte pemuja setan yang telah membunuh anak perempuan Milton dan menculik bayinya, tidak lain adalah cucu Milton. Milton tidak diberikan waktu banyak untuk membunuh Jonah, karena dalam hitungan hari, tepatnya ketika bulan purnama, bayi tersebut akan menjadi tumbal untuk membawa kekacauan datang ke bumi, kekacauan seperti apa? well, Jonah King sayangnya tidak sempat memberikan kita informasi lengkap di brosur tentang grup pemujaan setannya, jadi ketika dia sibuk dikejar oleh Milton, kita mungkin akan dibuat bertanya-tanya apa yang setan tawarkan pada para “fans”-nya ini dengan bayaran seorang bayi.

“Deadline” bulan purnama bukanlah satu-satunya alasan yang membuat Milton terburu-buru dengan urusannya di bumi, karena dia tidak begitu saja bisa seenaknya bebas dari neraka dan berkeliaran di bumi, Iblis pun mengirim seorang “akuntan” dalam bentuk William Fichtner, untuk menjemput Milton dan mengantarkannya kembali ke habitatnya di neraka. Milton tidak akan kesulitan untuk membunuh ataupun akhirnya menemukan Jonah, yang dia pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya mencari Jonah dengan cepat dan tidak melelahkan, tentu saja dia perlu mobil, mobil yang kuat dan bergaya Amerika, “muscle car”. Beruntung dia menemukan mobil tersebut dengan bonus “sidekick” yang seksi bernama Piper (Amber Heard), perempuan yang mulutnya harus dibersihkan karena terus menerus dengan mudah dikotori dengan sumpah serapah, semudah dia naik darah dan menghajar siapa saja yang ingin macam-macam dengannya. Piper tampaknya sudah ditakdirkan untuk berpasangan dengan Milton, Keduanya pun akan ditakdirkan untuk bertemu dengan berbagai masalah yang datang dari kelompok pemuja setan, polisi, dan juga agen dari neraka “The Accountant”.

“Drive Angry” akan mengumbar keseksian Amber Heard?? tentu saja sudah kewajiban (tertawa) film ini, untuk apa menempatkan bintang seksi yang pernah dijadikan zombie di “Zombieland” ini jika bukan untuk membuat mata para lelaki meliriknya. Tapi tunggu dulu dia bukan Megan Fox di dua seri “Transformers” yang hanya menjadi pendamping Shia LaBeouf lari kesana-kemari, bukan tipe bintang “pemanis” yang cakap menggoda saja dan mengganggu dengan setiap saat berteriak minta pertolongan. Amber Heard disini memainkan perempuan tangguh yang tidak sungkan menghajar siapa saja yang berniat mengganggunya atau menolak ajakan dia “bercinta”. Piper yang ditampilkan “galak” tapi juga baik hati diperankan dengan (secara mengejutkan) baik oleh Amber Heard, tidak melulu menghibur penonton prianya dengan tubuhnya tetapi juga dengan setiap aksinya menembak, menghancurkan rahang, menyetir, bahkan ber-sumpah serapah, Amber Heard bisa dibilang hiburan tersendiri untuk film ini. Bonusnya akan berderet adegan seks yang mengantri di “Drive Angry”, salah-satunya menjadi adegan seks terbaik yang pernah saya lihat di layar lebar, bayangkan adegan seks antara Clive Owen dan Monica Bellucci di “Shoot em Up” tetapi lebih brutal. Sayangnya semua adegan “menyenangkan” tersebut harus dirusak oleh yah apalagi jika bukan sensor.

Bagaimana dengan Nicolas Cage? setelah berakting di film “Season of The Witch” dan “Sorcerer’s Apprentice” yang bisa dibilang keduanya bukan film Nicolas Cage-banget, “Drive Angry” tentu saja seperti sebuah film yang menyambut kembalinya Cage ke film aksi kejar-kejaran mobil dan asal tembak, seperti yang biasa dia lakukan di film-film laga sebelumnya—menemani Dwayne “The Rock” Johnson yang juga kembali ke dunia film laga lewat film “Faster”. “Drive Angry” tidak perlu topeng tengkorak berapi agar Cage nantinya terlihat sangar, karakternya disini sudah terbilang badass, dengan senjata khusus yang dicurinya dari neraka dan mobil “muscle” Amerika. Cage berubah dari penyihir dan ksatria abad pertengahan menjadi buronan neraka yang tidak sayang dengan peluru, yang dilakukannya bersama sederet adegan laga di film ini adalah terus-menerus memompa adrenalin kita dengan aksi-aksi tembak sana dan tembak sini, kebut-kebutan, adu jotos, dan juga adegan kaya dengan warna-warni ledakan, “Drive Angry” memang dilahirkan untuk diperankan oleh Nicolas Cage dan dia berhasil memanfaatkan film ini untuk jadi arenanya bersenang-senang sekaligus mengantarkan hiburan bagi penonton.

Namun yang paling mencuri perhatian dari “Drive Angry” justru bukan dari peran yang dimainkan Nicolas Cage maupun Amber Heard, melainkan akuntan dari neraka, yah kita akan membicarakan tentang William Fichtner. Pria kelahiran 27 November 1956 yang pernah muncul sekilas (cameo) sebagai manajer sebuah bank di “The Dark Knight” ini memang selalu bisa memainkan karakternya dengan sangat meyakinkan dan memiliki daya tarik tersendiri, bahkan di “Drive Angry” dia sanggup menutup akting penjahat lain yang diperankan Billy Burke, ketua sekte pemuja setan yang satu ini justru tidak terlalu menonjol memerankan villain yang diburu oleh Milton, mungkin karakternya yang tidak mendukung dengan tampilan ala bintang rock ketimbang pemuja setan, tidak seseram yang saya bayangkan sebelumnya, satu-satunya yang membuat dia menakutkan mungkin karena dia membawa tongkat berjalan yang terbuat dari tulang paha anak Milton yang dia bunuh. Kembali ke Fichtner, setelan jas rapih, rambut tersisir, wajah mulus, dilengkapi dengan gaya bicara yang sopan (walau sering mengendus-ngendus) tidak pelak membuat karakter ini begitu menarik, benar-benar mewakili jabatan yang dibawa-bawa ke bumi, “The Accountant”, mungkin memang seperti inilah penampilan orang-orang yang bekerja di neraka tidak ada bedanya seperti manusia yang pergi ke kantor.

“Drive Angry” sekali lagi akan tampak jelas seperti film “murahan” dengan cerita yang klise dengan efek-efek CGI yang konyol, termasuk adegan akhir yang menentukan nasib Jonah King. Namun kemampuan Patrick Lussier dalam membangun efek hiburan tidak mengecewakan, adegan-adegan laga yang dipersiapkan mampu menciptakan kekonyolan sekaligus chemistry dengan adrenalin penonton. Patrick Lussier terlihat sekali tidak ada niatan untuk menyajikan penonton dengan dialog-dialog panjang, pangkas dialog yang tidak perlu dan membosankan, lalu kita siap untuk kembali ke jalanan, bersama dengan Milton dan Piper, lalu “The Accountant” dan juga Jonah King, kesemuanya melebur menjadi satu bersama setiap adegan demi adegan yang sarat akan kekerasan dan juga seks (yang disensor), menghasilkan film hiburan yang “pure grindhouse”, ditambah lagi dengan 3D (bukan konversi ke 3 dimensi tetapi film ini memang disyut dengan kamera 3D), walau saya bukan penggemar setia 3D, namun “Drive Angry” bisa dibilang film yang mampu memanfaatkan 3D dengan baik, beberapa momen laga dipersiapkan dengan pas untuk terlihat apik di layar bioskop dengan kacamata 3D.

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/42570643404890112

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Iblis (2016...
Review - Juara (2016...
Review - Ratu Ilmu H...
Review - Under the S...