My Review is Sucks: The King’s Speech

written by Rangga Adithia on February 20, 2011 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Drama with one Comment

If I am King, where is my power? Can I declare war? Form a government? Levy a tax? No! And yet I am the seat of all authority because they think that when I speak, I speak for them ~ King George VI

“The King’s Speech” meramu begitu banyak peristiwa ke dalam satu wadah, namun tak satupun dari peristiwa yang bisa dibilang besar ini nantinya jadi begitu istimewa, karena toh film ini sudah lebih dahulu membuat kita tertarik pada sebuah peristiwa yang sangat sederhana namun begitu melekat dan menyentuh, bernama sebuah persahabatan. Dari kematian Raja George V sampai kelak Inggris harus berhadapan dengan Perang Dunia ke-2, peristiwa demi peristiwa tersebut hanya akan menjadi pembungkus sebuah kisah luar biasa persahabatan antara Pangeran Albert, anak kedua Raja George V, dengan seorang terapis wicara, bernama Lionel Logue. Film yang disutradarai oleh Tom Hooper (The Damned United) ini memang nantinya akan mengantar kita masuk ke lingkungan keluarga Kerajaan Inggris dengan segala tata kesopanan yang khas, namun oleh Hooper, segala kekakuan yang mungkin terbayang sebelum menonton film ini terpatahkan saat melihat tingkah pola Pangeran Albert, terutama istrinya Elizabeth yang terbilang sangat fleksibel untuk ukuran orang dari keluarga kerajaan.

Karakterisasi yang dibuat memang sedemikian rupa “sederhana” oleh sang penulis, David Seidler, sanggup divisualisasikan dengan hangat oleh Tom Hooper, menjadikan karakter-karakter di film ini begitu mudah untuk dicintai. Efeknya “The King’s Speech” pun ditulari oleh karakter-karakternya untuk juga begitu gampang digenggam, dipeluk, dan dicintai. Awalnya mungkin saya akan membayangkan betapa akan bosannya melihat kehidupan keluarga kerajaan, tapi saya salah, film ini mampu menggambarkan kehidupan tersebut sangat variatif dengan segala permasalahan dan intrik-intriknya, bahkan saya melihat kehidupan kerajaan tak ubahnya seperti kehidupan orang-orang tanpa mahkota. Mungkin itulah yang membuat “The King’s Speech” juga menjadi sangat dekat dengan penontonnya, karena mereka tidak seperti sedang dihidangkan kisah hidup yang muluk-muluk penuh kemewahan kerajaan, tetapi sebuah sajian sederhana tentang bagaimana seorang calon raja juga bisa “jatuh” karena kekurangannya, berusaha bangkit melawan kelemahannya, dan akhirnya memenangkan satu pertempuran panjang dalam hidupnya.

Apa yang disampaikan “The King’s Speech” toh bisa diimplementasikan pada kehidupan siapa saja, tidak harus keluarga kerajaan. Tapi sekali lagi film ini tidak hanya akan bicara soal bagaimana seorang calon Raja Inggris “memerangi” kekurangannya dalam urusan berbicara, terutama di depan publik, tapi diatas semua kisah dan peristiwa yang tampil mewarnai 118 menit durasi “The King’s Speech”, kisah persahabatan istimewa antara Raja dan terapisnya menjadi menu utama yang tidak bisa ditolak dan mengenyangkan hati siapa saja yang menontonnya. Menonton film ini tak pelak memang seperti mengajak saya kembali ke film Hooper sebelumnya, “The Damned United”, yang lagi-lagi sorot sebuah persahabatan indah antara seorang manajer tim sepakbola dengan asistennya begitu menyilaukan. Kali ini lewat “The King’s Speech”, saya pun seperti mengunyah permen persahabatan dengan rasa manis yang sama namun dengan kemasan yang baru dengan logo kerajaan dibungkusnya. Siapa yang mau permen enak ini?

“The King’s Speech” dibuka pada tahun 1925, bersamaan dengan sebuah acara besar di stadiun Wembley, dimana kala itu Pangeran Albert (Colin Firth) akan berpidato untuk pertama kalinya di depan puluhan ribu orang yang hadir di stadiun tersebut dan jutaan orang lainnya mendengarkan melalui radio, karena pidato ini juga disiarkan ke seluruh penjuru dunia. Namun pidato tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya karena Bertie, nama panggilan akrab Pangeran Albert di lingkungan keluarga, mengalami kesulitan bicara alias gagap, kekurangan yang dideritanya sejak kecil. Setelah acara yang terbilang memalukan bagi Albert, segala upaya pun dilakukan, memanggil beberapa dokter untuk menyembuhkan kegagapan Albert, tapi hasilnya nihil dan justru membuat sang pangeran putus asa. Beruntung istrinya, Elizabeth (Helena Bonham Carter), masih tetap berusaha menemukan seorang dokter yang bisa menyembuhkan suaminya.

Akhirnya Elizabeth bertemu dengan Lionel Logue (Geoffrey Rush), seorang terapis wicara asal Australia yang tinggal di London. Metode penyembuhan Lionel memang tidak biasa dan sangat mengganggu Albert pada awalnya, termasuk Lionel yang memanggil Albert dengan Bertie, nama yang hanya boleh digunakan oleh keluarga. Perlahan, pertemuan demi pertemuan antara sang pangeran dengan terapisnya berubah menjadi pertemuan antara teman, Albert dan Lionel pun menjadi sahabat. Bersama dengan proses panjang penyembuhan Albert dan perkembangan di dalam lingkungan istana sendiri, khususnya kematian ayahnya, Raja George V (Michael Gambon) dan juga intrik yang menyelimuti sang pewaris tahta, Raja Edward VIII (Guy Pearce), yang tidak lain adalah kakak Albert. Persahabatan antara Albert dan Lionel juga akan mengalami pasang surut, keributan kecil sampai Lionel yang dituduh menghasut akan menghiasi bertahun-tahun persahabatan unik yang terjalin antara orang yang nantinya memimpin Inggris sebagai Raja dengan seorang biasa yang bukan dari lingkungan kerajaan ataupun bangsawan. Namun persahabatan mereka lebih berharga ketimbang sebuah mahkota dan tentunya akan mengetuk hati siapa saja yang menontonnya.

Cerita yang dirangkai oleh David Seidler sudah membuat “The King’s Speech” menjadi sebuah kisah berlatar belakang keluarga kerajaan yang tidak menjemukkan, sebaliknya di setiap baris kalimat yang dia tulis terlahir cerita yang teramat menarik. Tom Hooper pun berhasil memproyeksikan setiap guratan dari pena Seidler menjadi gambar-gambar yang terkadang menyentuh, penuh emosi, lucu dan juga komikal, terjalin menjadi sebuah kisah persahabatan yang sudah berapa kali saya bilang “sangat istimewa” dan unik dengan pengemasan yang terbilang sederhana, sesederhana kata persahabatan itu sendiri. Untuk urusan visual, sinematografer Danny Cohen kerap kali memperlakukan kameranya begitu dekat menyorot “close up” karakter-karakter di film ini, khususnya Albert dan Lionel, itu jadi semacam senjata pamungkas bagi “The King’s Speech” untuk mengajak penonton ikut merasakan setiap aliran emosi yang mengalir di setiap momennya, di tiap perubahan yang terjadi pada wajah Albert ketika berbicara di depan khalayak ramai atau “bertarung” satu lawan satu dengan mikrofon. Danny Cohen pun memanfaatkan lanskap sederhana pagi hari di Inggris, gedung-gedung kuno nan megah, atau hanya ruangan kantor Lionel yang berdinding lapuk menjadi begitu indah sebagai hiasan manis pada setiap interaksi istimewa antara para karakternya, khususnya sekali lagi menopang fokus film ini kepada persahabatan Albert dan Lionel.

“The King’s Speech” tentu saja tidak bisa lepas dari keberhasilan Colin Firth dan kawan-kawan dalam memainkan peran mereka dengan sangat piawai. Karakterisasi yang sudah sangat apik dibuat oleh Seidler, disempurnakan dengan akting yang terbilang maksimal dari masing-masing pemainnya, dan sebuah langkah tepat bagi film ini mengumpulkan talenta-talenta terbaiknya dari mulai Colin Firth sendiri yang berperan sebagai Pangeran Albert, sebuah peran yang tidak disia-siakan oleh Firth karena dia segera memanfaatkan peran ini untuk unjuk gigi jika dia memang tepat untuk peran ini sekaligus sanggup untuk bermain luar biasa dan berkelas walau karakternya terbilang sederhana. Firth mampu mengeluarkan setiap emosinya, melebur bersama karakternya, meyakinkan ketika gagap, dan sangat lucu ketika diharuskan beradegan komedi. Firth pun sukses menjalin sebuah chemistry, berada di tengah untuk membagi chemistry tersebut kepada Geoffrey Rush dan Helena Bonham Carter yang berperan sebagai istrinya. Geoffrey Rush sebagai aktor pendukung yang memainkan Lionel si terapis juga mampu memperlihatkan kemampuan akting yang berkelas, menopang aktor utama sekaligus sanggup tampil mencuri perhatian di beberapa adegan. Rush yang lebih kita kenal sebagai Barbossa di trilogi “Pirates of the Caribbean” ini bisa dibilang juga seorang terapi tertawa, karena disamping berakting luar biasa ketika adegan serius, selipan-selipan komedi yang hadir mampu dibawakan oleh Rush dengan sangat lucu, membuat saya tidak pernah bosan melahap setiap menit film ini dan menunggu “kegilaan” apalagi yang dihadirkan oleh duo Firth dan Rush.

Helena Bonham Carter juga tidak ingin kalah oleh dua aktor pria lawan mainnya di “The King’s Speech”, aktris yang terkenal dengan penampilan esektrik-nya sebagai Bellatrix Lestrange di dunia sihir Harry Potter ini benar-benar jadi wanita yang berbeda di sini. Tentu saja karena dia bermain sebagai seorang calon Ratu dan seorang Duchess of York, dia tidak lagi seeksentrik dulu namun Bonham Carter sanggup menempa karakter ini untuk tidak kaku seperti bayangan akan kalangan bangsawan kebanyakan dan berhasil menghasilkan paduan seorang istri raja dan seorang manusia biasa yang kadang memang tidak sempurna namun di samping suaminya dia “dipaksa” tampil kuat. Bonham Carter pun mampu tampil tidak mengecewakan dan juga mencuri perhatian di beberapa adegan, ketiga trio Firth-Rush-Carter ini sukses menjadi pasangan “three-some” yang mempesona dan menjalin chemistry yang baik dengan penonton agar kita pada akhirnya betah dalam membalik setiap halaman cerita tentang kehebatan sebuah persahabatan ini.

Sebagai teman dalam menikmati film ini, Alexandre Desplat menempatkan harmonisasi musik yang tepat dalam usahanya membangun atmosfir dan mood dalam setiap adegan demi adegan, termasuk menyuguhkan nomor klasik “Symphony #7 Allegretto, movement 2” karya Beethoven untuk mendampingi pidato “pemersatu” Raja George VI, sebuah adegan yang membuat merinding. “The King’s Speech”, memang ditopang oleh kisah yang sederhana, namun racikan David Seidler pada ceritanya membuat film ini kuat, Tom Hooper pun mengarahkannya secara luar biasa, didukung oleh penampilan akting yang memukai dari deretan pemainnya. Kecerdasan film ini dalam bercerita dan didampingi keindahan karakter akhirnya berhasil menghasilkan kisah yang walau sederhana namun sarat akan inspirasi dan mampu memikat penonton untuk “bersahabat” dengan film ini.

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/38311712272814080

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Bone Tomaha...
Review - Some Kind o...
Review - Ghost Diary...
Review - Indonesia K...