My Review is Sucks: The Hole

written by Rangga Adithia on February 2, 2011 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with 3 comments

What are you so afraid of?

Masih ingat dengan film yang mengisahkan para mainan yang bisa hidup, bukan film animasi Toy Story itu, melainkan mainan tentara komando dan monster Gorgonites yang bangkit dari plastik kemasannya lalu berperang di tengah dunia manusia, yup saya sedang membicarakan “Small Soldiers”, sebuah film action keluarga tahun 1998 yang dibesut oleh sutradara Joe Dante. Sutradara yang dikenal juga dengan film-film seperti “Piranha”, “The Howling” serta “Gremlins” ini memang bisa dibilang sutradara spesialis horor, tapi keunikannya dimana dia bisa membuatnya kadang jadi menyenangkan dengan bumbu-bumbu komedi misalnya. Begitu pula dengan “Small Soldiers”, Joe Dante tidak hanya mewujudkan mimpi anak-anak melihat mainan mereka hidup lalu merubahnya menjadi sedikit horor karena mainan tersebut berbalik menyerang manusia, tapi mewujudkan film ini juga untuk bisa ditonton bersama keluarga karena kontennya yang menghibur dan bukan film aksi yang berdarah-darah, tidak salah jika pada akhirnya dia dipercaya untuk menangani film keluarga lain, seperti “Looney Tunes: Back in Action”.

Belasan tahun sejak “Small Soldiers”, Joe Dante ternyata masih setia dengan film-film yang diperuntukan untuk tontonan seluruh keluarga, kali ini dengan tema horor remaja, berjudul “The Hole”. Film ini menceritakan satu keluarga terdiri dari anak remaja berusia 17 tahun, Dane (Chris Massoglia), Lucas (Nathan Gamble) yang berusia 10 tahun dan ibu mereka (Teri Polo), keluarga tersebut baru saja pindah dari New York ke rumah baru di kota kecil bernama Bensonville. Tidak ada yang aneh dengan rumah tersebut kecuali sebuah ruang bawah tanah yang ternyata memiliki rahasia. Dane dan adiknya Lucas tanpa disengaja menemukan lubang yang sebelumnya ditutup dan digembok, tidak hanya aneh karena dikunci dengan begitu banyak gembok, tetapi juga lubang tersebut seperti tidak punya dasar. Dane dan Lucas mencoba menjatuhkan berbagai barang dari paku, kaleng, sampai sebuah boneka bersuara yang diikat tali yang akhirnya justru putus. Penemuan lubang misterius ini pun diketahui oleh tetangga mereka, Julie (Haley Bennett) yang awalnya mengira lubang tersebut hanya lubang biasa.

Sejak lubang tersebut dibuka, kejadian demi kejadian aneh mulai bermunculan, Lucas yang sangat takut dengan badut, menemukan boneka badut di kamarnya lalu mengira ini adalah kejahilan kakaknya, tapi anehnya ketika Lucas ingin membuangnya ke ruang bawah tanah, boneka ini tiba-tiba hidup dan menganggunya. Lucas memberitahu perihal boneka tersebut kepada Dane, tetapi dia tidak percaya dengan omong kosong adiknya yang menceritakan tentang boneka badut yang hidup. Ternyata tidak hanya Lucas yang mendapat gangguan dari “dunia gaib” tetapi juga Julie, dia bertemu dengan seorang gadis cilik yang hanya mengenakan sebelah sepatunya, berjalan kaku, dan menangis darah. Gadis bermuka pucat ini pun akhirnya menampakan dirinya didepan Dane dan Lucas, berkata “jangan biarkan aku mati” lalu berjalan di sekitar rumah. Ketika Dane, Lucas, dan Julie mencari gadis misterius ini, dia tiba-tiba merangkak menjatuhkan tubuhnya ke dalam lubang di ruang bawah tanah. Tidak ingin ada kejadian-kejadian aneh lagi, Dane, Lucas, dan Julie akhirnya menutup lubang tersebut dan menahannya dengan sebuah meja yang berat. Namun keesokkannya mereka menemukan lubang yang dipercaya sebagai gerbang antara dua dunia ini terbuka dan meja berat yang menahannya terguling.

Sebagai film yang tujuannya menghibur seluruh keluarga, “The Hole” bisa dibilang akan mampu mencapai tujuannya tersebut dengan kemasannya yang memang pas dibuat untuk tujuan menghibur tadi, termasuk mungkin membuat seorang anak tidak berani sendirian ke kamar mandi, jangankan anak kecil, Dante sempat sukses membuat saya merinding di salah-satu adegan di film ini. “The Hole” memang bisa dibilang horor “anak kecil” tapi jangan salah dengan menganggap film ini dikemas kacangan untuk hanya menakuti anak kecil, Dante kenyataannya mampu mengemas bagian demi bagian filmnya untuk menjadi horor yang terlihat spooky dengan menghadirkan boneka badut yang hidup atau gadis cilik yang menangis darah itu, dan menebarkan misteri yang merangsang rasa penasaran lewat lubang yang dari awal sudah membuat saya ingin tahu apa sebenarnya isi didalam lubang tersebut, saya hanya bisa membayangi sendiri sesosok monster keluar dari dalam dengan cakar-cakarnya yang tajam. Dante dengan baik sanggup menjaga rahasia lubang misterius tersebut untuk tidak terjamah dari awal sampai bermenit-menit kemudian, sayangnya ketika saya menunggu jawaban tentang lubang apa itu? saya tidak mampu menghindar dari rasa bosan karena Dante sepertinya terlalu terlena bermain dengan tiga anak kecil yang ketakutan, tapi kebosanan tersebut tidak berlangsung lama.

Apa yang menarik dari “The Hole” adalah tidak hanya film ini menyenangkan dan juga menghibur secara bersamaan tetapi juga kontennya yang juga terisi dengan pesan yang penyampaiannya tidak langsung menggurui tetapi berhasil mengajak seorang anak untuk mengenal sisi buruk dari rasa takut, melawannya, dan menjadi pemberani setelahnya. Yah menonton film ini sama saja seperti orang tua yang menenangkan anaknya yang terbangun karena mimpi buruk lalu dengan halus berkata “kamu tidak perlu takut, itu hanya mimpi buruk”, si anak pun kembali tidur nyenyak. “The Hole” seperti mewakili ketakutan setiap anak akan sesuatu, saya misalnya takut dengan monster yang tiba-tiba muncul dari bawah tempat tidur, seorang anak wajar untuk merasa takut akan apapun, termasuk boneka badut. “The Hole” memberi sebuah pelajaran untuk melihat ke bawah tempat tidur, berani menengok ke tempat yang sebelumnya saya takuti, sampai akhirnya saya sadar tidak ada apa-apa disana, seperti itulah kemungkinan Dante menginginkan film ini untuk dilihat, jadi tidak hanya sebatas hiburan yang lalu ditinggalkan begitu saja ketika filmnya selesai. Dipandu dengan akting Chris Massoglia dan kawan-kawan yang pas, dengan dialog dan adegan yang mudah dicerna, “The Hole” menjadi sebuah paket horor remaja yang tidak terlalu buruk kok, justru cukup bagus untuk ukuran film keluarga, sebuah horor sopan yang menjadi pilihan alternatif ditengah banyaknya horor berating “dewasa” yang berlomba membanjiri visualnya dengan darah dan penyegaran ketika belakangan kian deras film horor remake dan reboot.

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/32457069097390080

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Aach... Aku...
Review - The Invitat...
Review - The Girl wi...
Review - Rumah Malai...