My Review is Sucks: Arwah Goyang Karawang

written by Rangga Adithia on February 10, 2011 in CinemaTherapy and Film Indonesia with 6 comments

Eh, anjing lo berdua maju ye, kalo perlu lo bencong ikutan juga ~ Lilis

Filmnya belum tayang di bioskop, “Arwah Goyang Karawang” sudah lebih dulu heboh dengan perseteruan antara dua bintang utamanya, Julia Perez dan Dewi Perssik, apa yang saya ketahui hanyalah mereka berkelahi betulan ketika seharusnya hanya akting. Jupe dan Depe (panggilan akrab keduanya) saling melempar pukulan dan cakaran, selanjutnya bergulat di lantai, sambil disaksikan kru film yang berusaha merelai mereka. Darimana saya tahu detil “catfight” tersebut? tidak perlu repot-repot menunggu beritanya di berita infotainment atau membuang waktu mencari di youtube, toh filmnya sendiri dengan baik hati menyediakan adegan yang mereka klaim sebagai “adegan asli” (dipampang juga di posternya) tersebut. Bukan setelah film berakhir, seperti halnya film-film Jackie Chan yang biasanya memamerkan adegan-adegan salah atau bloopers di bagian credit film. “Arwah Goyang Karawang” dengan jenius justru menempelnya di tengah film, seperti adegan “dibuang sayang” yang tidak dibuang, lengkap dengan tambahan tulisan “adegan asli ketika syuting”. Saat saya tidak peduli dengan perseteruan di lokasi syuting yang ternyata berbuntut panjang, saya makin tidak habis pikir kenapa adegan dibalik layar bisa ikut masuk dengan disengaja seperti ini. Dengan pikiran sangat-sangat positif saya kira “Arwah Goyang Karawang” sudah memainkan skenario promosinya dengan baik.

Menghadirkan dua nama, Julia Perez dan Dewi Perssik saja sudah membuat film “Arwah Goyang Karawang” heboh, karena dua artis ini memang terkenal suka tarik ulur masalah permusuhan mereka. Sekarang keduanya dipertemukan dalam satu film lalu sekali lagi saya beranggapan positif, dibuatlah seolah-olah mereka berkelahi hanya untuk mengejar headline “Julia Perez dan Dewi Perssik bermusuhan lagi!”, toh akhirnya promosi film ini pun terangkat walau bukan menjual kelebihan yang ada di film horor ini tetapi seperti yang sudah-sudah memanipulasi sebuah kontroversi untuk dilahap infotainment. Saya benar-benar salut dengan cara film “Arwah Goyang Karawang” mengajak penonton untuk datang ke bioskop, bukan untuk horor tetapi kehebohan Julia Perez dan Dewi Perssik, bukan juga untuk melihat akting mereka berdua tetapi membuktikan jika gambar di poster bioskopnya ada di filmnya, termasuk juga “adegan asli” yang dari awal sudah menjadi barang utama yang dijual oleh si  “Arwah Goyang Karawang”.

Film ini seharusnya diberi judul ‘Jupe vs Depe: The Ultimate Fight’ saja, toh fokus cerita memang diatur sedemikian rupa ingin menyorot perseteruan antara kedua penari Jaipong ini, setan yang nantinya muncul mengklaim dirinya sebagai “Arwah Goyang Karawang” sifatnya disini hanya numpang lewat saja kok, menyeramkan? tidak sama sekali. Film ini akan menceritakan seorang mantan penari Jaipong bernama Lilis (Julia Perez) yang ingin kembali ke grup tari lamanya ‘Goyang Karawang’ karena himpitan ekonomi. Walau Aji (Erlando), suaminya yang pengangguran sudah melarangnya, tetapi Lilis tetap kembali ke dunia tari yang dulu pernah membesarkan namanya tersebut dan menjadikannya seorang primadona. Tidak perlu waktu lama untuk seorang Lilis untuk kembali menarik perhatian penonton dan mendapat uang saweran paling banyak, pengunjung klub ‘Bintang Kejora’ pun sekarang punya idola baru. Tentu saja popularitas singkat yang diterima oleh Lilis langsung mendapat respon ‘tidak hangat’ dari sang idola lama, Neneng (Dewi Perssik), yang menganggap tarian Lilis tidak lebih dari goyangan erotis penari striptis, seharusnya dia juga berkaca sih ketika berkomentar seperti itu, karena tariannya juga tidak jauh beda dengan Lilis kok. Keduanya pun saling mengibarkan bendera perang, memperebutkan mahkota primadona klub dan berusaha menyingkirkan satu sama lain. Misteri dan horor pun nantinya menyelimuti pertikaian antara kedua penari ini.

Shankar, eksekutif produser “Arwah Goyang Karawang” mengemukakan pendapatnya di sela-sela press-conference jika film ini tidak ingin hanya menonjolkan horor tetapi juga sebuah film horor yang mempunyai cerita didalamnya. Saya kemudian melirik film-film K.K Dheeraj, film dia pun punya cerita, tapi permasalahannya bagaimana cerita tersebut dikemas dan diesekusi untuk menjadi menarik bagi penonton dan K.K Dheeraj dengan sutradara-sutradaranya selalu gagal mencapai target tersebut. Arwah Goyang Karawang yang disutradarai oleh Helfi Kardit (Setan Facebook) memang punya cerita yang dipapar habis selama 90 menit, tapi apa ceritanya lalu mendatangkan minat saya untuk setidaknya menikmati perjalanan panjang ini? tidak! karena apa yang disajikan Helfi hanya gambar-gambar yang mengiritasi mata dan membutuhkan lusinan botol tetes mata untuk mampu membuat mata saya normal. Mungkin disinilah manfaat adanya Julia Perez dan Dewi Perssik, yang “ditonjolkan” semaksimal mungkin sebagai penetralisir gangguan tadi.

“Arwah Goyang Karawang” bersyukur memiliki kedua “diva” dalam satu film, seperti melahap mie instant ukuran super jumbo yang “mengenyangkan” mata namun saya tahu tidak ada asupan gizi yang bermanfaat, selain dibuat tergiur oleh bumbu-bumbu gurih yang di film ini dihadirkan lewat lenggak-lenggok kemolekan tubuh Julia Perez dan Dewi Perssik. Disinilah Helfi Kardit mengandalkan “kelebihan” yang dimiliki dua bintangnya tersebut, sayangnya adegan tarian yang seharusnya menghibur, selalu dibarengi dengan visual-visual mengganggu dengan gambar yang saling tumpang tindih berantakan. Belum lagi “Arwah Goyang Karawang” dengan percaya diri menambal musik tradisional dengan rock, awalnya diharapkan dapat membedakan saat Lilis menari normal dengan pada saat Lilis sudah dalam status kemasukan si arwah penasaran. Tetapi hasilnya bertumpuk tidak jelas, sama “chaos”-nya dengan visual yang dimunculkan, jadi ketika gambar film ini tidak berhasil menghibur mata, tata suara pun ikut-ikutan merusak gendang telinga. Jika sudah seperti ini apa yang saya harapkan untuk membuat betah menikmati cerita yang kemasannya sudah tercabik-cabik dari awal, saya tidak lagi peduli pada film ini.

“Arwah Goyang Karawang” bukanlah film pertama yang mempertemukan Julia Perez dan Dewi Perssik di satu film, karena sebelumnya mereka sudah pernah bertemu di film “Mirna”. Tapi melihat mereka berakting sampai berkelahi hanya untuk berebut si make-up artist, yah hanya ada di film ini. Saya sekali akting meyakinkan pada saat keduanya beradu cakar layaknya kucing tidak berlanjut ketika mereka berakting memainkan peran masing-masing. Dewi Perssik terlihat datar, begitu juga Julia Perez yang bisa dibilang lebih baik, tetapi tetap saja menampilkan ekspresi yang membosankan (saya lebih suka sedikit aktingnya di “Terekam”). Tenang karena Helfi Kardit mampu membuat akting mereka kembali “menonjol” ketika keduanya beraksi diatas panggung menari Jaipong, lebih tepatnya tarian erotis. Helfi Kardit pun sampai lupa jika dia sedang membuat film horor karena terpaku menghabiskan durasi film untuk menonjolkan dua primadonanya.

Film horor yang meng-anaktiri-kan horornya sendiri, itulah “Arwah Goyang Karawang”. Helfi Kardit yang membawa kembali kemasan horor tidak menyeramkan sekaligus juga setan dempulan dari “Setan Facebook”, sepertinya menyadari memboyong nama Julia Perez dan Dewi Perssik lalu memaksa mereka beberapa kali beradu payudara saja sudah sangat “horor”, apalagi melihat mereka berkelahi, sudah lebih dari horor namanya. Jadi buat apa film ini bersusah payah menakuti penonton dengan cara yang terbilang basi, si setan muncul disana-sini dengan strategi mengageti yang sudah bisa ditebak dengan musik yang sekali lagi mengganggu. “Arwah Goyang Karawang” terlihat sangat terobsesi menghadirkan horor yang menyeramkan, tapi dari awal film ini sudah salah langkah, semua tentang film ini fokus untuk menjual “kelebihan” Julia Perez dan Dewi Perssik serta “adegan asli” yang perlu dipertanyakan lagi keasliannya. Jadi apa yang bisa diharapkan dari film ini? tidak ada, kecuali “Arwah Goyang Karawang” memang menepati janjinya menyuguhkan “termasuk adegan asli” tersebut. Jika saja film ini menampilkan adu bacot-payudara-cakar-no-holds-barred Jupe vs. Depe tanpa ada setan-setanan selama 90 menit! mungkin saya akan mengubah penilaian saya, tapi itu tidak terjadi kan dan hanya ada di kepala saya yang sudah liar terhantam amukan setan bertaring dan bersuara harimau di “Arwah Goyang Karawang”.

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/34878162131222529

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - A Copy of M...
Review - Blair Witch...
Review - Ouija: Orig...