My Review is Sucks: 127 Hours

written by Rangga Adithia on February 14, 2011 in Adventure and CinemaTherapy and Drama and Hollywood with no comments

Mom, Dad, I really love you guys. I wanted to take this time to say the times we’ve spent together have been awesome ~ Aron Ralston

Setelah tahun lalu saya dikejutkan dengan “Buried” karya sutradara Spanyol, Rodrigo Cortes, dimana mampu mengubah ruangan sempit yaitu peti mati, menjadi karya yang lapang akan kreatifitas tinggi dan imajinasi cemerlang. Tahun ini “127 Hours” kembali memperlakukan tempat yang sempit begitu istimewa—beruntung juga bisa melihat film yang dinominasikan untuk film terbaik di Oscar 2011 ini di bioskop Jakarta—dikemas juga sangat rapih dan apik oleh sutradara yang pada tahun 2002 silam memperkenalkan saya dengan film zombie modern-nya di “28 Days Later”, siapa lagi jika bukan Danny Boyle. Setelah menang Oscar pada tahun 2009 lewat “Slumdog Millionaire”, seorang Danny Boyle tetaplah sutradara Inggris yang kita kenal dulu, tetap berada di jalur film-film independen walau namanya sudah terukir di Oscar, “127 Hours” juga bisa dibilang film “kecil” namun sanggup berbicara banyak lewat kualitas dan hasil akhir yang sangat luar biasa. Film yang diadaptasi dari kisah nyata ini pun bukan hanya tampil berkelas di bagian permukaan, sisi teknis dan lapisan-lapisan pendukungnya, tetapi juga sebuah film yang mampu menyentuh hati dan “menggerakkan” penontonnya.

“127 Hours” seperti membunyikan lonceng, berdenting tepat di sebelah telinga, seakan-akan mengingatkan saya kapan sih terakhir kali mengucap syukur dengan setiap nikmat yang saya dapat dalam hidup ini, termasuk untuk setiap nafas yang tidak pernah berhenti berhembus. Saya sendiri merasa “malu” jika mengingat selalu menggerutu dengan apa saja selain bersyukur, seperti tidak adil ketika kehidupan memberi saya dengan banyak kenikmatan yang tidak perlu bayaran alias gratis. Melihat Aron Ralston begitu menikmati mandian cahaya matahari selama 15 menit setiap harinya untuk menghangatkan tubuhnya seakan seperti sebuah pecut, perih menyakiti kekhilafan ini. Sebelum saya menonton film ini pada jadwal tayang midnight, saya masih ingat memasang wajah kecut kepada matahari yang hanya menjalankan tugasnya menyirami bumi selama 12 jam dengan kehangatan, karena siang itu terlalu panas. Malamnya saya justru melihat seseorang yang begitu senangnya kedatangan sinar matahari, layaknya anak kecil yang kegirangan ingin mandi hujan. “127 Hours” bisa dibilang sebuah pelajaran berharga yang terkemas dengan hiburan bernama film, tapi tidak mengurangi sedikitpun pesan-pesannya, tentang sebuah kekuatan seorang manusia ketika dipaksa “bertarung” dengan alam dalam kondisi paling rendah dan tidak seimbang, hanya untuk bertahan dan akhirnya hidup. “127 Hours” betul-betul mengingatkan saya begitu mudahnya dan seringnya saya bisa lupa dengan sebuah kemudahan bernama bersyukur.

Aron Ralston dimainkan sangat cemerlang oleh James Franco, bisa dibilang tipikal orang yang hanya peduli dengan petualangannya, jadwalnya disibukkan dengan tempat mana lagi yang ia harus daki atau dia jelajahi, puncak gunung, tebing terjal, dan lembah-lembah bercelah sempit adalah tujuan wisatanya. Pada hari itu pun, Aron sudah siap dengan segala macam peralatan dan perlengkapan mendaki, tujuannya kali adalah ngarai yang cukup terisolasi di wilayah taman nasional “Canyonlands”, Utah. Seperti biasa juga Aron tidak memberitahu siapapun atau orang-orang terdekatnya kemana dia pergi, termasuk kepada ibunya, hal yang akan dia sesali dalam beberapa jam berikutnya. Mengendarai mobil semalaman untuk sampai ke ngarai tersebut, “127 Hours” punya cara yang sangat luar biasa unik dan mempesona untuk membuka filmnya, footage-footage saat Aron pergi hingga akhirnya sampai di ngarai ditata menjadi beberapa bagian, sebuah kolase yang kadang juga ditambahkan suasana jalanan yang dipenuhi warna-warni lampu mobil, well adegan pembuka yang kaya warna dan menakjubkan ini sudah berhasil menyita perhatian saya dan biasanya jika saya sudah diyakinkan dengan opening yang ciamik, filmnya juga ikut menular ciamik dan ternyata memang benar.

Setelah menghabiskan malam di mobil, Aron langsung “tancap gas” pada pagi harinya, tentu saja bukan dengan mobil SUV-nya melainkan dengan sepeda gunung menuju ngarai bernama “Blue John”, setengah perjalanan menggunakan sepeda lalu sisanya berjalan kaki menuju kesana. Ketika menjelajahi ngarai, Aron secara kebetulan bertemu dengan pendaki lain, Kristi (Kate Mara) dan Megan (Amber Tamblyn), keduanya tersesat. Aron pun menawarkan bantuan untuk mengantar mereka ke arah yang benar, Kristi dan Megan tentu saja senang dengan tawaran tersebut dan menerimanya. Aron yang sangat mengenal tempat yang mirip dengan planet Mars ini (pokoknya saya merasa tidak ada dibumi) berusaha memberi kejutan pada Kristi dan Megan, alih-alih melewati jalan yang biasanya dipakai pendaki lain, “pemandu” mereka justru mengajak ke tempat rahasia, sebuah celah tebing sempit yang tepat dibawahnya terdapat gua bawah tanah lengkap dengan kolam air. Ketiganya pun beristirahat di tempat indah tersebut sambil memanjakan adrenalin dengan berkali-kali terjun dari atas dan mendarat di air yang jernih. Aron yang menuju ke arah berbeda akhirnya harus berpisah dengan teman barunya, Kristi dan Megan, untuk nantinya bertemu dengan teman lain bernama “takdir dan kemalangan”. Aron yang sudah berkali-kali memanjat dan melewati ngarai, seperti tupai yang pandai melompat, dia pun akhirnya jatuh juga, tetapi malangnya ketika jatuh tergelincir, sebuah batu besar juga ikut menggelinding dan jatuh tepat menimpa tangan kanannya. Selama 127 Jam (5 hari) ke depan Aron akan mendapatkan “petualangan” yang tidak pernah dia alami sebelumnya.

Lewat “127 Hours” Danny Boyle awalnya seperti mengajak kita untuk menonton sebuah film dokumenter yang dikhususkan untuk National Geographic, bagaimana tidak, kamera yang menyorot perjalanan Aron juga tidak lepas mengabadikan keindahan alam yang begitu sempurna. Pegunungan berbatu, lembah-lembah tandus, dan ngarai-ngarai yang berkelok seperti bayangan ular yang sedang melayang diatasnya betul-betul dimanfaatkan Danny Boyle bersama dengan sinematografer Anthony Dod Mantle yang sebelumnya juga terlibat memotret “kumuh”-nya “Slumdog Millionaire” dan juga Enrique Chediak (28 Weeks Later). Potret demi potret, visual demi visual keajaiban Canyonlands di Utah ini sudah berhasil memanjakan mata, menyadari ada tempat seindah ini di bumi, bagaikan diajak ke planet lain, gersang dan tidak hijau namun memiliki kelebihan yang tentu saja tidak dimiliki tempat lain. Bersama dengan penjelajahan Aron, kita diberi kesempatan untuk “bersalaman” dan berkenalan dengan ngarai yang belum tentu saya sendiri sempat berada di tempat tersebut, makin jauh ke dalam, keindahannya bahkan tidak pernah ada habisnya. Setapak demi setapak pendakian, lompatan, dan lelahnya Aron berjalan justru tidak membuat kita, penontonnya ikut lelah, karena dahaga ini sudah disegarkan dengan “127 Hours” yang cerdik menghasilkan visual-visual kaya keindahan.

Nikmatilah keindahan tersebut, resapi, dan syukuri, karena setelah melewati bagian yang menyenangkan dari “127 Hours” dengan berbagai pemandangan alam yang memabukkan itu, tiba saatnya untuk Danny Boyle mengajak kita ke bagian yang bisa dibilang sangat memilukan dan menyedihkan. Sebuah evaluasi yang memperlihatkan ketahanan raga dan jiwa manusia ketika diuji sampai batas maksimalnya. Melalui kemalangan yang dihadapi Aron yang terjebak diantara celah sempit ngarai “Blue John”, kita menjadi saksi betapa hebatnya ciptaan Tuhan bernama manusia ketika dipaksa untuk bertahan hidup dalam kondisi yang bisa dibilang tidak seimbang dengan alam yang begitu superior dan sangat mengintimidasi. Menyadari “127 Hours” merupakan reka ulang kejadian sebenarnya yang terjadi pada April 2003, tidak bisa dibayangkan Aron Ralston asli harus berhadapan dengan ujian seberat ini, hal tersebut membuat saya kerap kali merinding dan tersentuh setiap kali Danny Boyle menghadirkan momen-momen yang menghentak nurani dan rasa iba kepada Aron Ralston. Perasaan “terjebak” pun ikut merayap keseluruh bagian tubuh ketika Anthony Dod Mantle dan Enrique Chediak memainkan tehniknya dalam memandu mood dan perasaan penonton lewat kameranya. Sekali lagi mereka berhasil, setelah awal tadi mereka membuat kita bersenang-senang dengan keindahan alam, sekarang kamera tidak akan lepas dari wajah dan setiap gerakan yang dilakukan oleh Aron dalam usahanya menyelamatkan diri.

Pertarungan Aron Ralston vs. Blue John pun bertambah “sengit” dengan editing apik oleh Jon Harris, yang menata setiap frame demi frame gambar untuk menyatu dengan alur film yang melambat namun tidak pernah kehilangan intensitas ketegangannya, wajar jika Jon pada akhirnya dinominasikan untuk Oscar dalam kategori editing terbaik. Sama hal-nya dengan A R. Rahman yang kembali bekerja sama dengan Danny Boyle untuk sekali lagi membentuk mood penonton untuk tepat melebur bersama film ini, walau terkadang apa yang dipasangkan oleh Rahman serasa tidak cocok dengan adegan yang ditampilkan, tetapi selalu berujung pada adegan dan musik yang saling berkolaborasi mengisi satu sama lain. Variasi musik yang menghentak hingga yang mengalun dan mengiris hati jadi senjata Rahman untuk membuat saya sendiri betah walaupun pada akhirnya film ini akan memakan waktu 127 jam. Apalagi pada saat tiba waktunya untuk menemani momen-momen intropeksi Aron yang mengingat-ngingat kesalahan yang pernah dia lakukan, Rahman pun ikut mengetuk hati ini dengan musiknya.

Ketika semua sisi teknis begitu mendukung dan saling menopang “127 Hours” untuk jadi film yang menghibur di satu sisi dan sisi lain mengajak kita mengevaluasi kehidupan dengan kemasan terbaiknya, giliran Danny Boyle kembali memerankan perannya sebagai sutradara untuk mengarahkan seorang James Franco untuk bermain maksimal sebagai Aron Ralston. Franco betul-betul mengerjakan pekerjaan rumahnya untuk berubah jadi seorang “wild boy” dan petualang sejati, adegan demi adegan dihajar oleh Franco dari bagian yang menyenangkan hingga momen paling “intim” bersama penonton ketika dia terjebak gara-gara batu sialan tersebut. Penonton tidak dirasa dipaksa untuk memberikan simpatinya pada tokoh Aron, dengan akting nyeleneh dan meyakinkan Franco, simpati tersebut secara tidak langsung akan mengisi secara otomatis botol minuman Aron yang lama-kelamaan kosong. Franco betul-betul sanggup membawa saya ikut mengingat orang-orang yang saya cintai, ketika dia juga sedang mengingat orang tuanya, saudaranya yang ketika menikah tidak dihadirinya, teman-temannya, kekasihnya, dan bahkan orang yang baru dia temui, Kristi dan Megan.

Kita mungkin tahu apa yang akan terjadi dengan Aron pada akhirnya, namun dengan kolaborasi Danny Boyle yang sanggup menjaga tensi film untuk tetap menegangkan dibalut juga dengan cerita menarik dan menyentuh hasil adaptasi Danny Boyle sendiri bersama dengan Simon Beaufoy dari autobiografi Aron Ralston “Between a Rock and a Hard Place”, ditambah lagi dengan akting juara Franco, akhirnya durasi 94 menit seperti menjadi 127 jam yang sangat berharga. Satu lokasi dan satu orang pemain melawan menit demi menit bergulirnya film ini untuk mencegah penonton untuk tidak bosan adalah ujian yang berat bagi Danny Boyle, tetapi sutradara berumur 54 tahun ini sanggup mengemas semuanya jadi paket tontonan yang jauh dari kata membosankan. “127 Hours” mungkin akan terlihat melelahkan dengan judul seperti itu tetapi percayalah begitu film ini mengajak berpetualang, kita akan lupa dengan segalanya dan begitu kita ikut terjebak bersama Aron, percayalah kita akan tergerak untuk lebih berterima kasih dengan kehidupan ini, mengingat untuk lebih bersyukur.

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/36511177387286528

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Some Kind o...
Review - Juara (2016...
Review - Under the S...